hut

Hujan Lebat, Berkah Penambang Pasir Sungai Gubuk Seng

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Hujan lebat dalam sepekan terakhir membuat volume pasir di sungai Gubuk Seng, Kecamatan Bakauheni, melimpah.

Ahmad Yani, salah satu penambang pasir menyebut, pasir yang ditambang merupakan proses tergerusnya padas proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar. Saat kondisi hujan lebat, material pasir berwarna putih terbawa aliran air dari bagian hulu ke bagian hilir yang sengaja dimanfaatkan masyarakat untuk sumber penghasilan.

Ahmad Yani menyebut, pasir yang dihasilkan dari sungai Gubuk Seng sengaja ditambang masyarakat agar sungai tersebut tidak mengalami pendangkalan. Sebab saat hujan deras berimbas banjir, sungai bertambah dangkal. Padahal semula sungai Gubuk Seng bisa dimanfaatkan warga untuk kebutuhan air bersih.

Meski demikian, sebagian warga bisa mendapatkan tambahan penghasilan dengan mengumpulkan pasir untuk bahan bangunan.

Ahmad Yani, warga Desa Hatta Kecamatan Bakauheni mengumpulkan pasir sungai Gubuk Seng – Foto: Henk Widi

Pasir yang diambil dari sungai Gubuk Seng, menurut Ahmad Yani memiliki karakteristik berbeda dengan pasir sungai Way Pisang di Kecamatan Penengahan. Meski demikian sejumlah warga memilih mengambil pasir dari sungai Gubuk Seng sebagai campuran.

Pasir sungai Gubuk Seng kerap dipergunakan oleh masyarakat untuk membuat pondasi rumah, talud sungai serta talud saluran air, bahkan jalan desa dengan sistem rigid beton. Kebutuhan akan pasir yang meningkat disebut Ahmad Yani, ikut didukung melimpahnya pasir usai hujan deras melanda wilayah tersebut.

“Sebelumnya, saat musim kemarau, volume pasir berkurang karena setiap hari selalu ditambang sekaligus permintaan cukup banyak. Volume pasir kembali meningkat usai hujan deras terjadi sepekan terakhir. Pasir dari bagian hulu terbawa ke bagian hilir,” terang Ahmad Yani, salah satu penambang pasir sungai Gubuk Seng, saat ditemui Cendana News, Rabu (27/3/2019).

Penambang pasir yang memanfaatkan melimpahnya sungai Gubuk Seng diakui Ahmad Yani, berasal dari tiga kecamatan di wilayah Lamsel. Penambang pasir di antaranya berasal dari Kecamatan Ketapang, Kecamatan Penengahan, serta Kecamatan Bakauheni.

Pasir yang diambil dari sungai Kubang Gajah yang dangkal menurut Ahmad Yani, dikumpulkan menggunakan peralatan sederhana berupa sekop, cangkul serta serok terbuat dari bambu. Sehari Ahmad Yani bersama sejumlah penambang pasir lain mendapatkan beberapa kubik pasir yang akan dibeli oleh pengepul.

Pasir yang dibeli oleh pengepul dengan harga Rp150.000 untuk ukuran satu dum truck. Terkadang satu dum truck bisa terisi oleh tumpukan pasir dari dua penambang pasir sehingga hasilnya dibagi masing-masing mendapatkan Rp75.000.

Hasil dari proses menambang pasir tersebut diakui Ahmad Yani, bisa dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya. Meski mengumpulkan pasir dalam jumlah banyak ia menyebut, kerap harus menunggu dua hingga tiga hari bergiliran dengan penambang pasir lain.

“Menambang pasir menjadi pekerjaan pilihan bagi warga, karena tidak memiliki kebun untuk bertani serta keahlian lain,” terang Ahmad Yani.

Selain bagi sejumlah laki-laki pencari atau penambang pasir, sejumlah perempuan juga memanfaatkan waktu mengumpulkan pasir.

Sembiring, salah satu perempuan yang sudah setahun terakhir menambang pasir mengaku, memilih mencari pasir untuk tambahan penghasilan. Saat pasir yang dimilikinya dibeli, dalam sehari ia bisa mendapatkan hasil sekitar Rp75.000 hingga Rp100.000 sesuai dengan permintaan yang ada.

Pasir yang melimpah disebutnya menjadi sumber mata pencaharian baginya serta warga di sekitar sungai Gubuk Seng.

Sembiring yang mencari pasir dengan memanfaatkan sekop menyebut saat hujan deras pasir yang dikumpulkan kerap hanyut. Pasalnya pasir hanya dikumpulkan di tepi sungai yang rentan terbawa arus ketika hujan lebat turun. Meski berpotensi pasir terbawa aliran sungai ia mengaku setelah hujan lebat volume air yang lebih banyak memudahkan pencari pasir mengumpulkan pasir lebih cepat.

“Sehari kami bisa mengumpulkan pasir dua tumpuk langsung dibawa oleh kendaraan truk pengangkut pasir yang bisa masuk ke sungai yang kering,” beber Sembiring.

Pencari pasir lain bernama Sabar asal Penengahan menyebut, kegiatan mencari pasir di Sungai Gubuk Seng justru membantu warga di bagian hilir. Sebab selama ini pasir yang dihasilkan dari proses pengerjaan proyek JTTS tersebut mengakibatkan sejumlah sumber air bersih milik warga tertimbun.

Sungai Gubuk Seng yang mengalir hingga ke wilayah Kubang Gajah Desa Kelawi, diakuinya puluhan tahun dimanfaatkan sebagai sumber kebutuhan air untuk mandi, mencuci.

Kebutuhan minum disebut Sabar dilakukan oleh warga dengan membuat sumur dangkal dan diberi pondasi batu bata. Air yang terkumpul dialirkan ke bak penampungan yang ada di rumah mempergunakan mesin pompa.

Saat volume sampah di sungai Gubuk Seng tersebut habis, ia memastikan warga akan kembali bisa menikmati air bersih. Kondisi tersebut membuat aktivitas penambangan pasir justru membantu warga mempercepat kondisi sungai kembali bersih dari pasir yang sekaligus merupakan limbah proyek pembangunan jalan tol.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!