JTTS Ruas Bakter Beroperasi, Belum Pengaruhi Muatan Kapal Roro

Editor: Satmoko Budi Santoso

259

LAMPUNG – Pascaberoperasi penuh setelah diresmikan, Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggi Besar (Bakter) mulai menjadi alternatif pengendara. Selain masih gratis pengendara kendaraan ekspedisi, kendaraan pribadi memilih jalan tol untuk mempersingkat waktu perjalanan.

Meski sudah beroperasi, aktivitas pelayanan bongkar muat kapal roll on roll off (Roro) di pelabuhan Bakauheni yang dikelola oleh PT. ASDP Indonesia Ferry belum mengalami peningkatan signifikan.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (DPC-Gapasdap) Bakauheni, Warsa, menyebut, beroperasinya JTTS belum berpengaruh pada jasa penyeberangan.

Sebab ia menyebut saat ini pengguna jasa pelayaran untuk menuju Pulau Jawa dari Pulau Sumatera sudah memiliki pilihan. Pilihan tersebut di antaranya tol laut di pelabuhan Panjang, Bandarlampung penghubung Lampung-Jakarta. Selain itu keberadaan pelabuhan swasta PT. Bandar Bakau Jaya (BBJ) membuat keberadaan tol belum berpengaruh signifikan untuk jasa pelayaran.

Volume kendaraan yang tiba di pelabuhan Bakauheni disebutnya sesuai dengan data bisa mencapai 5.000 hingga 10.000 kendaraan campuran per hari. Jumlah tersebut disebutnya sebagian merupakan kendaraan pribadi, bus, truk ekspedisi.

Khusus kendaraan truk ekspedisi dengan barang yang diangkut merupakan komoditas kebutuhan pokok akan menyeberang melalui pelabuhan Bakauheni sebagian melalui pelabuhan PT. BBJ.

Warsa, ketua DPC Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Bakauheni – Foto: Henk Widi

“Jalan tol trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggi Besar yang sudah resmi beroperasi memang membuat volume kendaraan cukup tinggi, waktu tempuh lebih cepat namun diimbangi dengan jumlah dermaga dan kapal yang mencukupi,” beber Warsa, ketua DPC-Gapasdap Bakauheni, saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (17/3/2019).

Warsa menyebut, volume kendaraan melalui JTTS, Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) saat ini masih tercukupi dengan sebanyak 6 dermaga di pelabuhan Bakauheni. Selain itu ia menyebut selain Gapasdap, operator kapal di lintasan Selat Sunda juga didukung oleh Indonesian National Ferry Owners Associations (INFA).

Total kapal yang berada di bawah naungan INFA dan Gapasdap disebutnya berjumlah sekitar 64 kapal roro dari sekitar 17 operator. Jumlah kapal, dermaga disebutnya masih bisa melayani kendaraan yang keluar dari JTTS Bakter.

Warsa menyebut, potensi permintaan (demand) kendaraan yang melintas melalui pelabuhan penyeberangan Bakauheni juga masih stabil. Penambahan satu dermaga yang disebut dengan dermaga eksekutif atau dermaga 7 menjadi pilihan bagi pengendara untuk menyeberang dari pelabuhan Bakauheni menuju Merak.

Ia juga menyebut Permenhub 88/2014 tentang ukuran kapal angkutan di lintas Bakauheni-Merak masih dimoratorium sehingga kapal berukuran di bawah 5000 gross ton (GT) tetap beroperasi.

Bagi pengusaha jasa pelayaran, Warsa menyebut pembagian muatan ke sejumlah kapal dilakukan berdasarkan waktu bongkar muat (port time). Kondisi tersebut membuat pembagian muatan kapal dibatasi oleh waktu sekitar 30 hingga 40 menit.

Akibatnya sejumlah kapal baik yang bernaung di bawah INFA maupun Gapasdap akan mendapatkan muatan yang berbeda. Kecepatan waktu dan lancarnya akses jalan tol disebutnya belum ikut mempengaruhi volume kendaraan yang diangkut oleh setiap kapal.

“Kapal yang sandar dibatasi waktunya sehingga saat muatan belum penuh tapi port time sudah habis harus segera berangkat,” beber Warsa.

Saat angkutan mudik lebaran Idul Fitri ia menyebut, jumlah dermaga, kapal, area parkir di pelabuhan membuat potensi penumpukan kendaraan akan teratasi. Ia menyebut setiap kapal per hari rata-rata bisa memuat sekitar 20 hingga 50 kendaraan campuran baik roda dua, roda empat, bus dan truk.

Sesuai dengan kalkulasi bisnis ia menyebut, biaya operasional setiap kapal bisa mencapai Rp30 juta satu kali perjalanan kapal (trip). Biaya operasional tersebut kerap belum bisa ditutupi saat angkutan hari biasa bahkan saat JTTS beroperasi.

“Kapal-kapal reguler tentunya akan mendapat muatan lebih sedikit meski jalan tol beroperasi karena kendaraan memilih dermaga lain yang tarifnya lebih murah,” beber Warsa.

Dampak pengurangan muatan pada kapal reguler yang berada di bawah naungan Gapasdap dan Infa disebut Warsa, terjadi selama hampir satu tahun.

Ia menyebut selisih harga yang lebih rendah membuat truk ekspedisi memilih ke pelabuhan PT. Bandar Bakau Jaya Muara Piluk. Meski waktu tempuh lebih lama namun karena tarif lebih murah truk ekspedisi memilih menyeberang dari Muara Piluk menuju ke Bojonegara, Banten.

Arus penyeberangan kendaraan truk menggunakan kapal roll on roll off di dermaga dua pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Volume kendaraan yang berasal dari JTTS ruas Bakter disebut Warsa terpecah ke sejumlah dermaga.

Kondisi tersebut secara ekonomis belum memberi keuntungan bagi perusahaan pelayaran. Meski waktu bongkar muat (port time) dan waktu perjalanan kapal (sailing time) dipercepat, setiap kapal akan memiliki muatan yang berbeda jumlahnya.

Meski terkoneksi dengan jalan tol, ia menyebut jumlah muatan kapal masih tetap stabil seperti sebelum tol beroperasi.

General Manager PT. ASDP Indonesia Cabang Bakauheni, Hasan Lessy, menyebut beroperasinya JTTS belum memicu peningkatan arus penyeberangan. Ia bahkan menyebut volume kendaraan yang menyeberang dari Sumatera ke Jawa tercatat baru ada peningkatan sekitar 2 persen.

Kendaraan campuran menyeberang disebutnya berkisar 3.000 hingga 5.000 meningkat menjadi sekitar 8.000 kendaraan yang sebagian melintas melalui JTTS.

Meski tol beroperasi antisipasi ASDP Bakauheni dilakukan dengan menyiapkan kapal yang cukup. Dalam sehari pelayanan Hasan Lessy menyebut, sebanyak 28 hingga 30 kapal dioperasikan dengan jumlah trip rata=rata per hari mencapai 60 hingga 90 trip.

Pengaturan port time dan sailing time membuat jumlah kendaraan yang dimuat setiap kapal akan menyesuaikan waktu pelayanan.

“Meski volume kendaraan dari tol tinggi tapi pembagian muatan berdasarkan waktu dan jumlah dermaga sudah semakin banyak,“ beber Hasan Lessy.

Hasan Lessy menyebut, keberadaan puluhan kapal, dermaga, jumlah loket pembelian tiket memadai diharapkan mengurai kemacetan. Selain menjual tiket langsung melalui loket di pintu masuk, sistem penjualan online menggunakan sistem nontunai (cashless) sekaligus memperlancar arus penyeberangan.

Beroperasinya JTTS ruas Bakter disebutnya diharapkan bisa memperlancar arus penyeberangan sekaligus mengurangi penumpukan kendaraan di pelabuhan bahkan saat puncak arus mudik lebaran.

Lihat juga...