Kecam Penembakan di Masjid, Menag: Jaga Kesucian Rumah Ibadah

Editor: Satmoko Budi Santoso

174

JAKARTA – Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, mengecam keras penembakan di Masjid Christchurch, Selandia Baru, kemarin, saat menunaikan salat Jumat. Aksi penembakan itu terjadi di dua masjid di kota Christchurch yang menimbulkan banyak korban jiwa.

Menurut Lukman, aksi itu tindakan tidak berperikemanusiaan dan sangat bertentangan dengan agama.

“Itu tindakan tidak berperikemanusiaan dan sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama,” tegas Menag di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/3/2019).

Menurut Menag, tidak ada agama yang membenarkan tindak kekerasan, apapun motifnya. Penembakan jamaah di masjid di Selandia Baru adalah sikap pengecut dan tidak bertanggung jawab.

Meski demikian, Menag mengajak tokoh dan umat beragama untuk menahan diri dan tidak emosional. Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri terus bekerja untuk mengetahui perkembangan kondisi di Selandia Baru, termasuk memastikan kondisi keamanan warga negara Indonesia di sana.

“Mari tingkatkan kewaspadaan kita untuk terus menjaga keamanan dan kesucian rumah ibadah kita masing-masing,” pesannya.

Dia juga mengingatkan para pengguna media sosial agar tidak terpancing dan turut menyebarluaskan video peristiwa itu. Alasannya, “Hal itulah yang diharapkan pelaku untuk menebar teror dan rasa takut,” ujarnya.

Diberitahukan sebelumnya, dua orang Warga Negara Indonesia (WNI), menjadi korban dalam aksi penembakan massal di sebuah masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3/2019), pukul 13.40 (waktu setempat).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, menerima informasi terdapat dua warga WNI yang terkena tembakan dalam peristiwa itu.

“Kami baru menerima informasi, terdapat dua WNI yang tertembak dalam peristiwa penembakan di masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru,” kata Arrmanatha.

Arrmanatha menyatakan, berdasarkan informasi yang dikumpulkan KBRI di Wellington, dua WNI yang tertembak dalam peristiwa tersebut adalah seorang ayah dan anaknya. Keduanya sekarang masih mendapatkan perawatan di Christchurch Public Hospital.

“Ayahnya saat ini dirawat di ruang ICU dan anaknya juga dirawat di rumah sakit yang sama, tetapi di ruang perawatan biasa,” tandasnya.

Sebelumnya, sebanyak 40 orang tewas dan lebih 20 lagi mengalami luka parah, dalam aksi penembakan di dua masjid di Selandia Baru. Kejadian itu disebut Perdana Menteri Jacinda Ardern, sebagai serangan teroris.

Pembunuhan oleh seorang pria bersenjata itu dilakukan saat salat Jumat sedang berlangsung di Kota Christchurch. Itu merupakan penembakan massal terburuk di negara itu, dan dikutuk di seluruh wilayah Asia.

“Kami mendapat laporan bahwa 40 orang meninggal dalam aksi kekerasan ekstrem ini. Jelas serangan ini dapat dilukiskan sebagai serangan teroris,” pungkas Ardern.

Salah seorang pelaku penembakan brutal di sebuah masjid di Christchurch, Selandia Baru, sempat menayangkan aksi brutalnya via layanan live streaming di internet. Video live streaming berdurasi 17 menit itu telah dihapus dari internet oleh otoritas terkait.

Seperti dilansir media lokal Selandia Baru, The New Zealand Herald, Jumat (15/3/2019), dalam live streaming itu, pelaku menyebut namanya sebagai Brenton Tarrant. Nama itu mengarah pada seorang pria kulit putih berusia 28 tahun kelahiran Australia.

Lihat juga...