Kelezatan Kapurung, Kuliner Khas Bugis Kaya Gizi

Editor: Satmoko Budi Santoso

308

LAMPUNG – Sebagian masyarakat pesisir pantai Timur Lampung merupakan warga asal Sulawesi Selatan (Sulsel).

Membawa kekayaan budaya, adat istiadat hingga ke wilayah Lampung Selatan (Lamsel). Sebagian warga asal Sulsel kerap disebut suku Bugis memiliki kekayaan kuliner, salah satunya kapurung.

Andi Mila, salah satu warga asal Makassar yang menetap di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi menyebut, membuat Kapurung saat acara keluarga.

Andi Mila menyebut, bahan pembuatan kuliner kapurung di antaranya tepung sagu (atau jika tidak ada tepung sagu bisa menggunakan tepung tapioka dari ubi singkong).

Selain tepung sagu, sejumlah bahan yang diperlukan di antaranya ikan bandeng atau bisa juga ikan lain, jangan ikan kering atau daging ayam. Selain bahan utama tersebut bahan lain yang disiapkan di antaranya sejumlah sayuran.

Andi Mila melakukan proses pembuatan adonan tepung sagu menjadi kapurung – Foto: Henk Widi

Andi Mila menyebut, sejumlah sayuran yang kerap digunakan untuk pembuatan kapurung merupakan sayuran yang kaya akan gizi.

Sejumlah sayuran tersebut di antaranya daun labu Siam, kangkung, bayam, jagung manis, kacang panjang, daun katuk serta sejumlah sayuran segar sesuai selera.

Selain sejumlah sayuran, beberapa bumbu disiapkan di antaranya bawang putih, bawang merah, cabai, tomat, jeruk nipis, kacang tanah, daun serai, asam jawa, kunyit.

“Semua bahan yang digunakan untuk pembuatan kapurung merupakan perpaduan antara tepung mengandung karbohidrat dan sejumlah sayuran sehingga menjadi kuliner yang kaya akan gizi,” terang Andi Mila, salah satu warga di Desa Bandar Agung, saat ditemui Cendana News, Sabtu (16/3/2019).

Andi Mila menyebut, proses pembuatan kapurung terbilang mudah karena sejumlah bahan mudah diperoleh. Langkah pertama pembuatan kapurung berupa penyiapan bahan dan bumbu.

Pada tahap pertama tepung sagu yang sudah diletakkan di baskom disiram mempergunakan air mendidih dicampur garam sembari diuleni menggunakan sumpit atau sendok. Setelah tepung menjadi matang, proses selanjutnya tepung sagu akan dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil menyerupai bakso.

Sembari proses pembuatan bulatan kecil dengan memakai sumput, sejumlah bahan disiapkan. Sejumlah sayuran yang disiapkan diberi bumbu seperti proses pembuatan sayur bening atau sayur asem.

Proses pembuatan sayuran tersebut dilakukan sebagai campuran kapurung paling utama karena bahan tersebut sangat diperlukan untuk cita rasa kapurung. Sembari melakukan proses memasak sayuran, ikan bandeng yang sudah disiapkan selanjutnya dipisahkan antara daging dan duri.

“Ikan bandeng dimasak dengan menggunakan teflon seperti dibakar lalu setelah matang daging ikan dipisahkan sebagai campuran dalam sayuran,” beber Andi Mila.

Setelah semua sayuran matang, ikan bandeng yang dicampurkan dalam sayuran tersebut, semua bahan dituangkan dalam bulatan tepung sagu. Pencampuran sayuran bersama aci dilakukan untuk membuat bulatan aci memiliki rasa setelah tercampur dengan sayuran yang diberi bumbu.

Semua sayuran yang sudah dicampur bersama dengan bulatan tepung sagu matang, kuliner kapurung selesai dibuat dan siap disajikan.

Salah satu penambah cita rasa kuah kapurung disebut Andi Mila, berupa sejumlah bumbu tambahan. Bumbu tambahan tersebut dibuat dari kacang dan bumbu lain menyerupai bumbu pecel. Bumbu kacang dibuat dengan campuran cabai merah, bawang merah, garam serta penyedap rasa.

Semua bahan tersebut dicampurkan dalam kuah sebagai penyedap kuah kapurung bersama sayuran yang sudah tercampur. Penambah cita rasa pada kapurung menurut Andi Mila, bisa ditambahkan dengan tambahan sambal terasi atau sambal tomat.

Proses pembuatan kapurung disebut Andi Mila, hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Selain proses mematangkan tepung sagu dan sejumlah sayuran, proses membuat sambal kerap dikerjakan melibatkan sejumlah ibu rumah tangga jika kapurung dibuat dalam acara khusus.

Andi Mila mengaku, membuat kapurung untuk kegiatan arisan para wanita di desanya. Pembuatan kapurung sekaligus mengajarkan kuliner khas Bugis bagi sejumlah ibu rumah tangga yang bersuku Jawa dan Banten.

“Pembuatan kapurung sekaligus menularkan ilmu kuliner kepada sejumlah ibu rumah tangga lain akan kuliner khas Bugis yang kaya akan gizi,” beber Andi Mila.

Nurhayati, salah satu anggota arisan mengaku, kuliner kapurung merupakan makanan yang sangat unik. Ia menyebut, gizi yang terkandung dalam kapurung terlihat dari sejumlah sayuran yang cukup beragam.

Nurhayati, menikmati kapurung yang kaya akan sayuran – Foto: Henk Widi

Sejumlah sayuran tersebut diakuinya bahkan disiapkan dalam kondisi segar dan mengandung unsur vitamin. Tambahan daging ikan bandeng sekaligus menjadi sumber vitamin pada kuliner kapurung.

Nurhayati mengaku, saat menyantap kapurung ia memilih memperbanyak sayuran berupa jagung manis dan ikan bandeng. Sebab kapurung yang dibuat kerap disantap tanpa menggunakan nasi.

Nasi dalam menikmati kapurung diakui Nurhayati, sudah tergantikan oleh tepung sagu yang kaya akan karbohidrat sehingga saat menyantap kapurung, selain mengenyangkan bisa mendapat asupan gizi yang tinggi dari semua bahan yang digunakan.

Sajian kapurung disebutnya dibuat saat kegiatan pertemuan arisan bersama dengan sejumlah ibu rumah tangga. Proses pembuatan kapurung kerap dilakukan sebagai simbol kebersamaan. Karena anggota arisan akan membawa bahan-bahan yang ditentukan mulai dari bahan dasar serta pelengkap.

Selanjutnya pembuatan dilakukan secara bersama serta disantap sebagai simbol perekat kebersamaan.

Lihat juga...