Kerupuk Eyek-Eyek, Kuliner Gurih Berbahan Singkong

Editor: Mahadeva

319
Kerupuk eyek-eyek singkong, kuliner khas Lampung Selatan - Foto Henk Widi

LAMPUNG – Ketelatenan pemanfaatan kebun untuk budi daya tanaman pangan, mendorong kemunculan kuliner tradisional. Menu tersebut memanfaatkan bahan baku hasil perkebunan.

Suprihastini, salah satu warga Dusun Karanganyar, Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, menanam singkong, sebagai bahan baku pembuatan kue tradisional salah satunya eyek-eyek. Eyek-eyek, adalah sejenis kerupuk namun untuk membuatnya menggunakan bahan baku singkong. Umumnya, kuliner dari singkong cukup dibuat dengan menggoreng atau membuat kolak singkong, atau keripik singkong.

Eyek-eyek dibuat menggunakan singkong parut baik secara manual atau dengan mesin. Selanjutnya dipisahkan antara tepung kasar dan aci. Pemisahan tersebut dilakukan dengan memeras tepung kasar singkong sehingga diperoleh endapan halus yang disebut dengan tepung aci. “Tepung singkong kasar yang berbentuk adonan selanjutnya dicetak memakai alat khusus bisa tutup toples atau cetakan khusus sehingga membentuk bulatan yang seragam,” beber Suprihastini, Sabtu (9/3/2019).

Adonan tepung singkong kasar sebelum dicetak, diberi bumbu penambah cita rasa. Bumbu yang dibutuhkan seperti garam, ketumbar, penyedap rasa, bawang putih. Untuk rasa orisinal tidak ditambahkan bumbu, karena singkong yang dibuat sudah memiliki rasa gurih. Pewarna makanan merah juga kerap dipakai untuk menarik tampilan. Setelah semua bahan dicampurkan dalam adonan, proses pencetakan dilakukan di atas meja beralas plastik.

Selanjutnya eyek-eyek dijemur, dengan waktu pengeringan maksimal dua hari. Selama proses pengeringan kerupuk eyek-eyek, hasil pemisahan endapan tepung singkong menjadi aci juga dijemur. Tepung aci tersebut bisa dipergunakan untuk pembuatan kuliner lain berupa empek empek atau kue tradisional lain. Lima kilogram singkong dapat dibuat Suprihastini memjadi kerupuk ratusan kerupuk eyek-eyek. Pembuatan yang dilakukan saat ini, sebagai persiapan saat bulan suci Ramadan serta hari raya Idul Fitri.

Kerupuk eyek-eyek yang sudah dikeringkan bisa bertahan lama sebelum digoreng. Eyek-eyek akan semakin awet, saat disimpan di dalam plastik kedap udara. “Sebagian saya simpan dan akan digoreng saat dibutuhkan sebagai camilan keluarga, atau saat ada tamu berkunjung sebagai varian sajian kuliner tradisional,” beber Suprihastini.

Suprihastini membuat eyek-eyek untuk dikonsumsi keluarga. Belum memproduksi dalam jumlah banyak, karena kesibukan. Singkong yang sudah tua dan tidak lekas dicabut, berpotensi menjadi keras sehingga bisa dimanfaatkan sebagai bahan eyek-eyek. Selain untuk camilan, kerupuk eyek-eyek juga bisa dipergunakan sebagai lauk teman makan nasi, seperti kerupuk pada umumnya. “Eyek-eyek yang disimpan bisa digoreng saat akan dihidangkan dan untuk menjaga kerenyahan harus selalu disimpan dalam wadah kedap udara,” papar Suprihastini.

Purwanto, sang suami menyebut, camilan tradisional eyek-eyek singkong saat ini sudah jarang ditemui. Sebelum sang istri membuat sendiri, untuk mengkonsumsinya harus membeli di wilayah Lampung Timur. “Meski sederhana, namun kerupuk eyek-eyek singkong memiliki rasa gurih, bisa jadi alternatif untuk hidangan saat pagi hari sebelum ke kebun,” pungkas Purwanto.

Lihat juga...