Kerusakan Infrastruktur Akibat Proyek JTTS Mulai Diperbaiki

Editor: Koko Triarko

189

LAMPUNG – Proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) Ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, sepanjang 140,9 Kilometer, telah selesai dikerjakan dan dioperasikan. Namun, proyek JTTS tersebut masih menyisakan sejumlah persoalan, di antaranya kerusakan akses jalan lingkungan, jalan desa, termasuk fasilitas saluran irigasi pertanian.

Bikan (50), salah satu petani setempat, mengatakan, kerusakan saluran irigasi pertanian menyebakan dirinya tidak bisa menggarap lahannya. Sebab, saluran irigasi yang dibuat oleh pemerintah, sebagian hancur, terutama irigasi permanen.

Bikan mengungkapkan, sebagian lahan sawah miliknya harus dialihfungsikan untuk menanam kacang hijau yang tidak memerlukan banyak air. Beruntung, pihak pelaksana proyek tol bekerja sama dengan pihak desa, melakukan proses perbaikan sejumlah infrastruktur yang rusak.

Bikan, petani padi di Kecamatan Penengahan melakukan pemupukan tahap kedua -Foto: Henk Widi

Selain sejumlah saluran irigasi, perbaikan juga dilakukan pada drainase jalan desa, serta sejumlah jalan berlubang. Kerusakan pada infrastruktur pertanian dan transportasi, diakui Bikan sudah terjadi sejak awal 2014, silam.

Bikan menyebut, perbaikan sejumlah saluran irigasi dilakukan sejak awal Maret tahun ini. Memasuki masa tanam pertama (MT1),  ia bersyukur perbaikan segera dilakukan, sehingga lahan pertanian miliknya bisa kembali digarap.

Sebelumnya, akibat saluran irigasi yang rusak, saat hujan deras air mengalir ke lahan pertanian. Sebagian membawa material lumpur dan batu. Saat memasuki masa pemupukan kedua, saluran irigasi yang belum diperbaiki berpotensi membuat pupuk yang baru disebar hanyut terbawa arus air.

“Petani di wilayah Pasuruan sempat was-was, karena saluran irigasi rusak akibat kendaraan truk pengangkut alat berat melintas. Imbasnya, gorong gorong amblas, sehingga saat musim penghujan air meluap ke area persawahan,” terang Bikan, Selasa (12/3/2019).

Bikan mengaku merasa lega, usulan ke pihak pelaksana proyek JTTS melalui desa segera direalisasikan. Akses jalan desa yang juga berfungsi sebagai sarana distribusi hasil pertanian, juga mulai diperbaiki.

Menurutnya, perbaikan dilakukan dengan menggunakan batu sabes, menimbun sejumlah titik jalan berlubang. Goron- gorong amblas diganti dengan ukuran lebih besar, memperlancar aliran air sehingga tidak meluap ke persawahan warga.

Bikan menyebut, butuh waktu sekitar empat tahun agar sarana irigasi miliknya bisa diperbaiki. Namun, sejumlah petani yang sebelumnya tidak bisa menggarap lahan sawah, mulai bisa mempergunakan saluran irigasi, karena air dari Gunung Rajabasa mulai lancar.

Perbaikan saluran irigasi, menurut Bikan, sangat penting karena awal tahun 2019 sejumlah petani mulai melakukan penanaman padi.

Selain fasilitas saluran irigasi di Desa Pasuruan, perbaikan fasilitas untuk pertanian juga dilakukan di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan.

Titik pertemuan saluran air di Way Tuba Mati yang sempat longsor mengakibatkan penyumbatan, diperbesar dan memperlancar aliran air. Selain memperbesar saluran air, pembuatan talud disertai dengan beronjong, untuk menghindari longsor saat musim penghujan.

Suhaimi, petani jagung di Desa Banjarmasin, mengatakan, air bercampur lumpur pernah merendam lahan pertanian jagung miliknya.

“Saluran air yang dibuat oleh pihak pelaksana jalan tol sangat kecil, berimbas saat hujan deras air tergenang dan merendam lahan pertanian jagung kami,” beber Suhaimi.

Saluran yang rusak saat proses pembangunan JTTS, disebutnya mulai diperbaiki, seiring telah beroperasinya Jalan Tol Trans Sumatra. Sebelumnya, ia sempat was-was, kerusakan tidak segera diperbaiki sehingga lahan pertanian di wilayah tersebut kerap terendam banjir.

Pascadilakukan pelebaran saluran air, petani padi dan jagung di wilayah tersebut mulai bisa bernapas lega, dan kembali bisa menanam padi serta jagung tanpa kuatir terimbas banjir.

Perbaikan juga dilakukan di titik STA 18+100 Desa Kelaten. Gorong-gorong berdiameter dua meter, diberi tambahan satu gorong-gorong untuk memperlancar saluran air.

Selain menambah gorong-gorong, alat berat dikerahkan untuk memperlebar saluran air tepat di bawah terowongan jalan tol trans Sumatra.

Hujan deras yang melanda wilayah Lamsel dalam beberapa pekan terakhir, mengakibatkan air meluap ke lahan pertanian dan jalan. Akibat hujan deras, luapan sungai Way Selapan juga merendam lahan pertanian di Desa Pematang Baru, Kecamatan Sragi.

Saifuloh berharap, perbaikan aliran sungai bisa dilakukan untuk membuat saluran yang terhubung ke sungai Way Pisang. Sudetan atau saluran tersebut diharapkan bisa menghindarkan luapan sungai Way Selapan, yang mengakibatkan lahan pertanian padi usia dua pekan terendam. Benih padi yang terendam air berpotensi benih padi membusuk dan menimbulkan kerugian bagi petani.

Baca Juga
Lihat juga...