Kisah Winarno, Anak Transmigran Sukses dalam Dunia Pendidikan

Editor: Makmun Hidayat

2.305

JAKARTA — Hujan airmata membasahi keberangkatan satu keluarga Saryanto menuju tempat penuh pengharapan bagi masa depan keluarganya.  Saryanto yang telah membulatkan hati ikut dalam program transmigrasi Presiden RI, Soeharto, itu dilepas keluarga besarnya.

Ingatan Winarno –yang saat itu berusia satu tahun– begitu melekat kuat bagaimana ia dan orangtuanya berpisah dengan keluarga besar ayahnya, Saryanto. Lulusan Universitas Negeri Padang Jurusan Seni Rupa ini, mengatakan, keluarga besar bapak semuanya menangis ketika bapak berpamitan.

Haru biru tak terbendung. Di saat masih ada pandangan di kalangan orang-orang Jawa saat itu, bahwa Sumatera adalah bukan tempat yang baik untuk dijadikan tujuan, Saryanto justeru bak ingin menegaskan sebaliknya.

“Tahun 1981 awal mula bapak saya mengambil sikap untuk ikut kegiatan transmigrasi. Ketika itu, saya masih berusia 1 tahun. Berpamitan dengan keluarga besar bapak untuk berangkat (transmigrasi) ke Bengkulu,” ungkap Winarno, belum lama ini kepada Cendana News.

Winarno, transmigran. – Foto: Istimewa

Kondisi kehidupan keluarga Saryanto sebelum akhirnya memutuskan bertransmigrasi, saat itu begitu sulit. Saryanto bahkan tidak memiliki tanah, dan merasa tidak memiliki masa depan untuk anak-anaknya.

Saryanto berpandangan, jika tidak mengambil sikap untuk ikut transmigrasi yang direncanakan oleh Presiden RI ke-2, Bapak Soeharto, maka ia beserta istri dan empat anaknya tidak akan memiliki masa depan yang baik.

Dua hal itulah yang memantik Saryanto, sebagaimana diungkapkan anaknya, Winarno, ikut bertransmigrasi. Perjalanan pun akhirnya dimulai.

Winarno yang kini tengah mengejar gelar doktor di perguruan tinggi Bengkulu, mengatakan, dirinya bersama rombongan transmigran berangkat menuju Bengkulu dengan menggunakan pesawat Hercules. Setiba di Bengkulu tidak langsung menuju desa tujuan, namun terlebih dulu menginap di mess transmigran.

Setelah itu, baru kemudian melakukan perjalanan menuju Desa Rami Mulya, Kecamatan Mukomuko Selatan, Arga Makmur. Para transmigran tidak membayangkan seperti apa tempat yang akan dituju tersebut.

Di Desa Rami Mulya, inilah para transmigran tinggal, menetap dan mulai menata kehidupan. Winarno teringat saat dirinya berusia 2 tahun, melihat lingkungan sekitar. Tanah yang semula subur dengan kayu hutan belantaranya kemudian di dozer, didatarkan untuk dibangun rumah dengan ukuran 6×9 meter. Rumah sederhana terbuat dari kayu dengan atap seng.

“Panas tak terkira karena sudah tidak ada lagi pepohonan di sekitar rumah. Setiap harinya, untuk mandi mengambil air memerlukan perjalanan yang begitu jauh turun ke bawah karena lokasi tempat tinggal kita di atas perbukitan,” tutur anak bungsu dari empat bersaudara ini.

Dikatakan Winarno, pada tahun pertama, pemerintah membantu memberikan keperluan hidup sehari-hari serta alat-alat untuk menggarap lahan. Masuk tahun ketiga bantuan mulai dikurangi, hingga tahun kelima sudah tidak menerima bantuan. Semua itu dilakukan pemerintah, imbuh Winarno, agar para peserta transmigrasi bisa hidup mandiri.

Diceritakan Winarno, pernah suatu ketika bantuan pemerintah telat datang. Dalam menghadapi situsi yang demikian, semua hanya makan ubi, pisang, dan apa-apa yang ada.

Winarno mengaku, ketika dirinya masih kecil suka ikut menggembala sapi. Duduk di atas sapi bernyanyi, bersiul bersama teman-teman yang lain mencari pakan sapi, mandi di sungai bareng-bareng, dan berburu babi.

Sementara itu, dalam soal pendidikan, Winarno tak kenal lelah untuk berangkat sekolah meski harus berjalan kaki sepanjang 3 kilometer tanpa menggunakan alas kaki.

Seiring perjalanan waktu, pada tahun 1998, Winarno mengenyam bangku kuliah. Di tahun itu pula dirinya satu-satunya pemuda dari Desa Rami Mulya yang menempuh pendidikan kuliah.

Winarno (kanan), salah satu transmigran yang sukses, tinggal di Desa Rami Mulya, Kecamatan Mukomuko Selatan, Arga Makmur. – Foto: Istimewa

Winarno pun bangga atas apa yang bapaknya inginkan, yakni menyekolahkan anaknya sampai setinggi-tingginya. Tidak mengikuti pandangan atau persepsi masyarakat yang mengatakan setinggi-tingginya anak kuliah, setelah lulus tetap akan di sawah, karenanya mereka jarang menyekolahkan anaknya sampai jenjang kuliah.

“Selesai kuliah di tahun 2004. Untuk memenuhi kebutuhan kuliah, saya ngamen, menjadi tukang parkir, hingga kuli bangunan,” ungkapnya.

Tamat kuliah, ikut tes CPNS dan lulus. Winarno diangkat menjadi PNS sebagai guru di Kecamatan Pondok Suguh. Untuk menuju ke sekolah, dirinya menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Desa Rami Mulya.

Masyarakat terperangah dengan keberhasilan Winarno menjadi PNS. Pikiran masyarakat pun terbuka, dan akhirnya hampir seluruh masyarakat Desa Rami Mulya, anak-anaknya disekolahkan setinggi-tingginya.

Keberhasilan dirinya juga diiringi dengan berbagai prestasi diantaranya pernah menjadi guru teladan pada tahun 2013, kepala sekolah teladan tahun 2014, anggota BAP Bengkulu hingga saat ini, sebagai tutor universitas terbuka sampai sekarang, menjadi anggota PMJB, dan menjabat Kordinator Humas Persatuan Anak Transmigrasi Republik Indonesia (PATRI).

Menurut Winarno, keberhasilan dirinya tidak lepas dari peran orangtua yang berjuang dari nol di tanah Sumatera. “Doa orangtua yang menghantarkan saya menjadi sukses, dan di tahun 2013 bapak berangkat haji. Insyaallah di tahun 2026, saya, istri, dan simbok berangkat haji,” imbuhnya.

Winarno pun selalu ingat pesan bapaknya dalam bahasa Jawa. “Le aja dumeh le. Nek awakmu iso kudu wani ngalah, nek ngalah iku luhur wekasane.”

Pesan lainnya yang dingat Winarno. “Le nek kerja iki tenanan, nek kerja aja dolanan. Nek dunga ya tenanan aja dolanan amarga suksesmu iku ditentokne hari ini, suksesmu esok adalah penentunya hari ini, lan aja lali nyekel mingkar mingkure angkara akrana karnaning margisiwi sinubo sinukarto tumrap ing tanah Jawa lan Nusantara, agama iku agem sing paling aji, agama itu pegangan yang paling berharga.”

“Itu adalah sebuah titipan amanah, titipan nasihat yang selalu terngiang dibenak saya dan ketiga kakak sehingga menjadi pribadi yang kuat dan tegar,” sebutnya.

Winarno dan keluarga besar transmigran beserta anak cucu juga tak lupa selalu mendoakan Bapak Jenderal H.M. Soeharto, Presiden RI ke-2. “Pak Harto merupakan tokoh inovator yang hanya dimiliki oleh bangsa Indonesia. Berkat Pak Harto transmigrasi berkembang dan menjadi sukses,” pungkasnya.

Lihat juga...