hut

Luka-luka yang Tersembunyi

CERPEN A. WARITS ROVI

NENEK menuntunku ke pojok tenggara pekarangan. Tatih pelan menahan sesunggi ancak pelepah daun pisang yang bertumpu di atas kepalanya.

Di ancak itu, sepasang kelapa kuning ditancapi bunga bertandan potongan bambu kecil mirip tusuk sate. Sepasang kelapa itu beralas beras dan aneka kue. Harum disapu angin Kamis sore yang sedikit lembab.

Aku mengikuti langkah nenek, hingga duduk simpuh di bawah pohon srikaya yang rindang. Di pangkal pohon itu, nenek menaruh ancak dengan hati-hati.

Setiap kali nenek menurunkan ancak dari kepalanya dan menaruh ancak itu di tanah, wajahnya selalu terlihat berat, kadang mengucur air mata, kadang terisak. Yang pasti, ia akan mengelus sepasang kelapa itu agak lama.

Di sekitar pangkal pohon srikaya itu, ratusan kelapa kuning berdempet baur tak beratur, warnanya sudah mengabur oleh tikaman cuaca, bahkan sebagian menguar bau busuk dan pada bagian yang busuk itu, ulat-ulat kecil berkeliaran.

Ratusan kelapa kuning itu berasal dari ancak-ancak sebelumnya, yang nenek bawa setiap Kamis sore ke tempat itu, sejak ayah dan ibu merantau ke Jakarta. Kata nenek, ancak itu adalah sesajen ruwatan untuk ayah dan ibu agar selamat.

Setiap kali kami mengantar sesajen itu, nenek pasti akan menakir petuah, dari pincuk bibirnya yang bau sirih, ia menasihatiku agar tidak jadi perantauan. Aku terkejut setiap mendengar kata-kata itu.

Kenapa nenek bilang begitu. Padahal ayah dan ibu jadi perantau, dan dengan perantauan itulah keluarga kami jadi banjir uang, kiriman ayah dan ibu, hingga kami bisa membeli banyak hal, merenovasi rumah jadi lebih besar dan elit, membeli tanah, bahkan ibu dan ayah naik haji dari hasil bekerja di perantauan.

“Kenapa saya tak boleh jadi perantau, Nek?” suatu sore kuberanikan bertanya. “Bukankah perantau itu banyak yang sukses? Seperti ayah dan ibu,” lanjutku, sedikit mendekat ke sisi nenek.

Nenek tak menjawab meski aku mengulangi dua kali, ia hanya memalingkan wajah sembari menghirup napas dalam-dalam, batuk-batuk dan berurai air mata.

Aku tak berani bertanya lagi, aku hanya menduga, bahwa kesuksesan hidup mungkin banyak macamnya, tak cukup hanya diukur dengan harta yang menumpuk, sebagaimana yang dilakukan ayah dan ibu di perantauan.

“Aliya, tunanganmu itu sudah balig. Kau sebaiknya cepat menikah,” nenek bangkit seusai menabur beras ke sekujur sepasang kelapa, berdiri dengan wajah meringis, menahan rasa nyeri. Aku semakin heran.

Kata-kata nenek adalah kata-kata yang sama sekali belum kuinginkan. Entah firasat apa yang tiba-tiba melabuhi pikiran nenek.

Aku tak menyahut, kecuali beranjak mengikuti nenek yang balik menuju beranda, masih dengan tatih pelan, kebaya hitam motif bunga halus dengan tikaian garis-garis hitam yang ia kenakan tampak agak suram oleh sorot cahaya matahari sore yang menua di balik dahan jambu.

“Ada baiknya, tanah milikmu, pemberianku itu kau jual saja untuk dijadikan biaya naik haji,” nenek menoleh kepadaku dengan tatap mata yang dingin. Sementara aku semakin heran dengan apa-apa yang dilontarkan nenek.

Ada beberapa hal yang selalu nenek katakan empat hari terakhir; aku tak boleh bekerja di tanah rantau, segera menikah dengan Aliya, tunanganku sejak bayi itu dan aku harus menjual tanah untuk naik haji.

Itu semua berbalik dengan keinginanku yang selama ini tuntas di dada; aku ingin merantau untuk bekerja, agar naik haji tidak harus menjual tanah, dan agar aku bisa lepas dari Aliya, karena aku tidak mencintainya dan dia juga tidak mencintaiku, sebab pertunangan kami hanya karena dari kesepakatan antar orangtua.

Setiba di dalam ruangan, nenek duduk di kursi, napasnya terengah, tubuhnya gemetar, bibirnya putih bagai kulit jagung dijilat kemarau. Aku memijat-mijat bahunya. Berkali-kali ia katakan, ia rindu pijatan tangan ayah.
***
SEJAK ayah dan ibu merantau, aku hidup dengan nenek. Mulanya, kami menempati rumah kecil dengan bagian depan berupa beranda yang dilengkapi empat buah kursi dan satu meja.

Di rumah itulah nenek mengajariku banyak hal, setiap getar bibir dan gerak telunjuknya bagiku adalah suara Tuhan. Tak ada alasan lain kecuali harus mengangguk pada apa pun yang diucapkan.

Sedang di beranda rumah itu, kami kerap kedatangan para tetangga yang bertamu. Dari obrolan di beranda itu, aku menemukan keindahan orang-orang desa yang hidup rukun, juga bisa menyerap ilmu terutama ilmu adat istiadat, petuah-petuah, dan norma sosial di desaku.

Hanya dalam waktu satu setengah tahun, ayah pulang dan selama empat bulan ia mengubah bentuk rumah kami secara total dengan ukuran yang jauh lebih besar dan tampilan lebih modern, tak ada beranda seperti rumah yang sebelumnya, kecuali emper kecil dengan hiasan tiga pilar besar berkulit batu alam dan dua kursi bersisian dengan pot hias bergambar naga menjulur lidah.

Di sekeliling tepi halaman dan pekarangan dipagari tembok bermahkota besi dengan pintu pagar permanen yang lengkap dengan kunci dan gemboknya, dalam keadaan seperti itu akhirnya kebiasaan bertamu kami pudar, para tetangga mulai sungkan datang ke rumah kami, aku sendiri merasa sangat kehilangan dengan hilangnya obrolan-obrolan hangat di beranda.

Setelah rumah selesai dibangun, ayah dan ibu kembali lagi ke tanah rantau. Di rumah besar itu, aku hanya hidup berdua dengan nenek. Keadaan nenek yang sudah bungkuk dan berjalan tertatih, membuatku harus bekerja lebih dari biasanya.

Aku sudah harus memasak, mencuci dan bila sempat menyapu. Beruntung nenek tak punya kuasa untuk mengontrolku, sehingga aku bebas bolos sekolah, keluar keluyuran sesukaku dan tidur sepuasnya. Nenek bukan ayah atau ibu, tak mungkin ia akan menegurku, apalagi dia selalu dalam keadaan sakit-sakitan.

“Lebih baik kamu cari kerja di sini saja. Biar sedikit asal berkah dan bisa berkumpul dengan keluarga. Tak usah merantau seperti ayahmu, meski pendapatannya banyak, tapi tidak berkumpul dengan keluarga,” suara nenek berat dan dalam.

Air matanya kilap berderai. Aku hanya diam, sambil terus mengepal telapak tangan nenek yang putih dan dingin.
***
SUDAH sepuluh hari nenek terbaring sakit. Tugasku kian bertambah, mengerjakan apa yang biasanya nenek kerjakan. Sementara nenek sendiri semakin gelisah, kelopak matanya yang mencekung keriput selalu memuat bola mata yang redup.

Bila melihat semua ini, rumah besar dan megah ini rasanya tak berarti apa-apa. Harta yang menumpuk ini. Pujian yang menumpuk ini dan ini-ini yang lain. Kadang aku berkesimpulan, bahwa ketenangan jiwa orang yang tinggal di dalam rumah yang besar bisa mungkin lebih buruk daripada mereka yang tinggal di rumah  kecil. Aku merasakannya saat ini.

“Kau lebih baik segera menikah dengan Aliya,” nenek kembali mengulang ucapannya, membuat telinga dan seluruh tubuhku gatal. Aku muak. Nenek tidak tahu, setiap kali aku bertemu Aliya, tak ada tegur sapa di antara kami, selain senyum asing yang dipaksakan menggurat di bibir.

Ingin rasanya kuceritakan kepada nenek, bahwa pertunanganku dengan Aliya sejak aku masih bayi, hanyalah atas kemauan orangtuaku dan orangtua Aliyah. Mungkin nenek merasa bahagia melihat aku berdampingan dengan Aliya, sebagaimana beberapa tahun silam, ketika kami berusia enam tahun.

Pada suatu musim kemarau. Orangtua kami mengadakan pesta pangantan jaran, sepasang bocah kecil yang sudah bertunangan diarak menggunakan kuda.

Selama dua hari dua malam. Suara sound system menghentak keras. Aku dan Aliya disanding jadi mempelai di atas pelaminan, tamu-tamu ramai berdatangan, siang harinya, diarak keliling kampung menggunakan kuda hias diringi musik saronen.

Saat itu, aku dan Aliya sebatas kembang pemuas hati orangtua. Setelah acara itu, aku jarang bertemu Aliya, karena sekolahku dan sekolah Aliya tidak sama. Kalau pun bertemu, kami hanya bicara seperlunya, bahkan tanpa saling tatap.

Sebab itulah nama Sinta—tetangga sebelah itu—lebih merimbuni dada, wajahnya lebih sering berziarah ke mataku. Aku semakin tidak mencintai Aliya, terlebih setelah kudengar kabar, Aliya menjalin hubungan dengan Rizal, anak juragan sapi karapan.

“Setelah menikah, segera jual tanahmu, berhajilah!,” lanjut nenek dengan suara samar dan terpatah, bibirnya putih gemetar, matanya semakin redup. Aku masih diam, di antara napasnya yang berdengik sesak. Telapak tangannya semakin dingin, dalam kepalan lembut tanganku.

Beberapa petak sawah di pinggang bukit Lot, yang tepiannya dibanjar rumpun ilalang, sejak dulu selalu ayah pertahankan dari incaran investor.

Bagi ayah, tanah adalah simbol kedaulatan, salah satu tujuan ayah bekerja merantau adalah untuk membeli tanah rakyat agar tidak jatuh ke tangan asing. Sementara nenek, mungkin setengah mengigau, malah menyuruhkuu menjual tanah itu.

Seminggu kemudian, nenek semakin kritis, ia sudah tidak bisa mengucapkan kata-kata, selain hanya bisu bertahan dalam tubuh yang beku. Aku menelepon ayah di perantauan, tapi dia sedang sibuk dan menyatakan maaf karena tidak mungkin pulang untuk tiga hari ke depan.

Nenek menangis, aku menangis.

“Baiklah, Nek. Aku akan menuruti tiga permintaan nenek itu. Aku tidak akan bekerja jadi perantau. Aku akan segera menikahi Aliya dan secepat mungkin menjual tanah untuk berhaji,” tegas kuucapkan di dekat telinga nenek. Tujuanku, agar pikirannya tenang dan lekas sembuh. Senyum nenek mengambang di datar wajahnya yang masih diparam air mata.
***
SEPULANG sekolah, aku menemukan nenek tergeletak tak berdaya di tempat tidurnya. Tubuhnya beku dan dingin. Tangannya yang putih pucat, erat mencengkeram sampir. Sepasang matanya rapat terpejam. Aku memeluk nenek seraya kutumpahkan tangis.

Tak kusangka nenek meninggal di rumah megah ini sendirian, dalam kepungan sunyi, tak ada satu pun keluarga yang mendampinginya. Kematian yang sangat tak layak untuk pemilik rumah semegah ini. ***

A. Warits Rovi, lahir di Sumenep, Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media nasional dan lokal antara lain: Kompas, Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, dan lainnya. Buku cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Ia juga guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura, Sumenep, Madura.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

 

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!