Mat Colak

CERPEN ADAM YUDHISTIRA

254

BERTAHUN-TAHUN lamanya, Mat Colak menjadi sumber keresahan bagi pedagang dan pembeli di pasar Lumpay.

Dia kerap memaksa orang-orang menyerahkan uang yang diistilahkannya sebagai pajak keamanan. Apabila menolak, maka lapaknya dihancurkan, dagangannya dijarah, dan jika berani melawan, dia pun tak segan main tangan.

Atas perilakunya itu, Mat Colak tak menyadari jika dia sedang mengetuk pintu-pintu setan. Hingga pada suatu malam yang celaka, setan-setan itu betul-betul menemuinya.

Sebenarnya, para pedagang di pasar yang hanya digelar saban Ahad itu bukannya takut pada Mat Colak. Namun lelaki empat puluh tahun itu kabarnya kebal segala jenis senjata. Bahkan, embusan kabar itu semakin kuat saja dengan tambahan bumbu-bumbu penyedap cerita yang sukar dipercaya.

Konon pada tarikh riwayat hidupnya, lelaki bujang tua itu pernah membunuh harimau dengan belati dalam pertarungan satu lawan satu di hutan Kelingi. Pernah pula dia meremukkan kepala buaya di muara sungai Batang Asai hanya dengan kepalan tangan.

Namun dari sekian banyak cerita, ada satu yang paling menggetarkan; Mat Colak pernah ditembak polisi tujuh puluh kali, namun tak mati.

Cerita-cerita serupa itu telah berkembang-biak dan mendiami tiap kepala pedagang dan pembeli di pasar Lumpay. Cerita-cerita itu juga yang membuat mereka segan cari perkara dengan Mat Colak.

Kemasyuran cerita-cerita tentang lelaki itu telah membuat orang-orang di pasar Lumpay menjadi sekawanan sapi perahan yang bahkan tak mampu membela dirinya sendiri.

Syahdan, pada malam sebelum setan-setan itu keluar menampakkan wujudnya, seperti biasa, Mat Colak berkeliling dari satu lapak ke lapak lain untuk meminta uang. Dia juga mendatangi kedai Dungkinang untuk meminta jatah makan siang.

Namun, entah lantaran sudah jemu atau pendapatan kedainya yang sedang sepi, siang itu Dungkinang menolak permintaannya dan dengan berani memperingatkannya agar jangan pernah datang lagi.

“Hasil kedaiku ini tak seberapa, janganlah kau minta pula,” ucapnya dengan nada menyindir sinis. “Apa tak bisa kau gunakan badan besarmu itu untuk bekerja sewajarnya?”

Mendengar pertanyaan tajam itu, Mat Colak mendengus. Mukanya merah bagai ketam direbus. Dengan isyarat tangan dan pandangan mata mengancam, lelaki itu mengusir semua pengunjung kedai dan membuat mereka berhamburan tunggang-langgang.

Mat Colak menepuk meja dan jari telunjuknya menuding lurus ke muka Dungkinang. “Kalau kau tak mau membayarku, jangan harap kau bakal tenang berjualan di sini. Di pasar ini akulah hukumnya. Akulah yang berkuasa.”

“Tapi di kedai ini akulah rajanya,” sahut Dungkinang tak mau kalah. “Jika kau kira aku takut padamu. Kau salah, Mat Colak. Mulai hari ini secuil pun tak akan kuberi apa yang kau pinta.”

Mat Colak terbahak-bahak. “Dasar tua bangka tak tahu diri,” makinya geram, “Kupatahkan batang lehermu baru kau tahu rasa.”

“Coba saja kalau bisa,” jawab Dungkinang menyeringai dan mengangkat dagunya. Dengan nada dingin dan tak main-main, dia berkata, “Kutunggu kau di lapangan Lubuk Kisam nanti malam. Kalau kau betulan jantan, jangan tak datang.”

Mat Colak kian terbahak mendengar lelaki tua di depannya itu menantangnya, lantas dengan gaya pongah dia berkata, “Baiklah. Kau sendiri yang menggali lubang kuburmu. Jangan salahkan aku kalau kau mati malam ini,” sahutnya kemudian berlalu.

Peristiwa itu pun menyebar ke sepenjuru pasar Lumpay. Beberapa dari para pedagang memuji nyali Dungkinang, namun sebagian lagi menyesalkannya. Mereka menganggap keputusannya menantang Mat Colak adalah keputusan bodoh dan hanya mengantar nyawa semata-mata.

“Aku mendengar sendiri Dungkinang menantangnya,” ucap Boneh, pedagang buah yang lapaknya bersebelahan dengan kedai Dungkinang. “Sulit kupercaya. Kalau ingin lekas mati, tak perlu pula sampai mengumpankan diri ke mulut buaya.”

“Aku juga,” sambung Hambali dengan wajah cemas. Pedagang pecah belah itu berdecak-decak. “Senyum di wajahnya tadi seakan menyiratkan bahwa dia telah mempersiapkan diri untuk dihabisi Mat Colak malam ini.”

“Kupikir lelaki tua itu sudah gila,” tukas Boneh cepat, matanya mendelik sangsi. “Dia tak seharusnya meladeni Mat Colak. Buat apa? Dia bisa mati konyol dibantainya.”

Hambali mengangguk mendukung pernyataan Boneh. “Lagi pula kita tahu, tak mungkin Dungkinang beradu tenaga dengan Mat Colak. Beliau sudah tua.”

“Betul itu,” sahut Amin tiba-tiba. Pedagang ikan itu mengangguk, mengisyaratkan dukungan pada Boneh dan Hambali. “Tak mungkin Dungkinang mampu mengalahkan Mat Colak. Kecuali satu…”

“Kecuali apa?” potong Boneh cepat. Keningnya mengerut. “Adakah cara untuk mengalahkannya?”

Amin melihat ke kiri dan ke kanan, seolah berharap betul perkataannya didengarkan banyak orang. Setengah takut-takut, dia menyambung ucapannya, “Kecuali kalau kita semua membantunya.”

Hambali dan Boneh terdiam. Masing-masing dari mereka merasa enggan berurusan dengan Mat Colak. Pikir mereka, apabila binatang buas itu masih bisa dijinakkan dengan sedikit makanan, kenapa pula mesti keluar tenaga.

Baca Juga

Kang Bejo

Namun bagaimanapun juga, sebagai sesama pedagang, hati mereka tak bisa membiarkan Dungkinang menanggung kesulitan itu sendirian.

Untuk beberapa saat terjadi perdebatan di antara mereka, menyoal saran yang disorongkan Amin. Hambali setuju dengan saran itu, menurutnya memang sudah seharusnya mereka menolong Dungkinang, sebab Mat Colak adalah masalah mereka semua.

Sedangkan Boneh terlihat masih enggan menerimanya. Bagaimanapun, dia menganggap bahwa kesalahan lelaki tua itu tak perlu ditanggung bersama-sama.

“Terserah kalau kalian mau menolongnya. Aku tak akan ikut. Dia yang cari perkara, kenapa pula aku yang mesti menanggungnya,” sungut Boneh sambil mengebut lalat yang hinggap di atas semangka.

“Jangan begitu,” ucap Amin bernada gamang. “Mat Colak itu masalah kita semua. Sudah seharusnya kita menyelesaikannya bersama pula.”

“Kau benar,” celetuk Wak Burhan. Pedagang sayuran yang juga sering menjadi bulan-bulan Mat Colak itu angkat suara. “Tak perlu kita berdebat panjang lebar. Sekarang, yang perlu kita pikirkan adalah cara menolong Dungkinang lepas dari jerat celaka yang akan membunuhnya nanti malam.”

Perkataan Wak Subhan akhirnya memungkasi perdebatan antara Amin, Boneh, dan Hambali. Kemudian bagai dituntun kesadaran yang sama, saat itu juga mereka bersepakat untuk menyusun siasat melawan Mat Colak.

Usai lapak-lapak ditutup, Amin dan Hambali mendatangi Dungkinang. Keduanya menyampaikan sebuah rencana dan menerakan pada lelaki tua itu bagaimana cara membungkam Mat Colak selama-lamanya.
***

DUNGKINANG  berdiri tenang dengan sebilah parang tergenggam di tangan. Dia usap permukaan parang itu dengan telapak tangan, seakan tak ingin ragu bahwa senjata itu memang tajam.

Mata lelaki tua itu menyorot ke depan, menyambut kedatangan sesosok bayangan tinggi besar yang berjalan cepat ke arahnya sambil menyeret sebatang tongkat panjang.

Mat Colak, lelaki yang ditunggu itu telah berdiri di hadapan Dungkinang. Jarak keduanya hanya beberapa depa saja. Malam belum sepenuhnya sampai di pertengahannya, namun dingin sudah mencucuk sampai ke tulang. Kabut putih melayang-layang sejengkal di atas rumput. Membalut kedua pasang kaki yang tak bisa diduga mana yang akan tumbang lebih dahulu.

Mat Colak maju selangkah. “Aku harap kau sudah mempersiapkan diri,” katanya dengan suara berat bernada menindas. “Aku tak akan berbelas kasihan. Kau sudah menetapkan hari kematianmu sendiri.”

Lelaki tua itu diam saja, namun dia sudah waspada sejak semula. Bukan saja karena dia tak lagi merasa takut, tetapi dia tahu bahwa di balik gerumbul belukar sana sudah menunggu lebih dari selusin orang yang siap membantunya.

Hal ini tak disadari oleh Mat Colak. Lelaki setengah baya itu tak menduga jika ada banyak orang yang bersiap menyambut serangannya. Tak hanya Dungkinang saja.

Mat Colak menggeleng sambil berdeham berkali-kali. Dia merasa yakin Dungkinang akan mati. Di lapangan luas itu, tak ada yang bisa menolongnya. Dia menimbang-nimbang, bagian mana dari tubuh Dungkinang yang akan dihantamnya lebih dahulu dengan tongkat kayu saga di tangannya.

“Seranglah aku lebih dahulu,” seru Mat Colak sambil memutar-mutar tongkatnya. Dia memandangi Dungkinang dengan tatapan menghina, “Pilih tempat yang paling empuk untuk menyarangkan parang burukmu itu, Lelaki Tua.”

Senyum membersit di bibir Dungkinang. Tampak culas dan keji. Lelaki tua itu mengangkat tangannya ke udara dan bersamaan dengan itu gerombolan orang-orang berbondong-bondong keluar dari balik gerumbul belukar.

Mereka semua membawa bekal berbagai jenis senjata tajam; tombak, pedang, dan klewang. Orang-orang itu tak lain adalah Amin, Boneh, Hambali, Wak Subhan dan beberapa lelaki yang biasa berdagang di pasar Lumpay.

Sesuai kesepakatan yang mereka rembukkan tadi siang, malam itu Dungkinang mesti diselamatkan.
Mereka tak peduli meski cerita-cerita perihal Mat Colak yang berkembang selama ini begitu menakutkan.

Di dalam kepala mereka, hanya ada satu tujuan; Mat Colak harus mati. Bagaimana pun caranya, lelaki itu harus bisa ditaklukkan. Terlebih ketika mereka ingat bagaimana beraninya Dungkinang menantang Mat Colak, hal tersebut sedikit banyak telah berhasil menaikkan nyali mereka untuk melawan.

Menyadari lawannya tak sepadan, Mat Colak bermaksud melarikan diri. Namun sayangnya, niat itu sudah terbaca. Selusin orang itu bergerak cepat mengurungnya. Tak ada percakapan apa pun saat peristiwa itu berlangsung.

Dengan bekal tongkat kayunya, Mat Colak melawan sebisa-bisanya. Namun kayu bukanlah penanding besi. Tongkat itu buntung disambar parang dan klewang menyusul lengan, kaki dan leher pemiliknya.

Cerita-cerita menggetarkan tentang Mat Colak menguap begitu saja bersama nyawanya. Maka disimpulkanlah dengan jenaka, bahwa kematian Mat Colak malam itu ibarat kematian raja hutan diterkam sekawanan pelanduk.

Bagaimana tidak, kesimpulan semena-mena yang menjurus ke olok-olok itu datang dari ingatan orang-orang atas perilakunya sendiri. Dia yang selalu jumawa, mendaku diri orang sakti, namun mesti mati di tangan Dungkinang dan para pedagang yang malam itu telah berubah menjadi sekawanan setan. ***

Adam Yudhistira, penulis asal Muara Enim, Sumatera Selatan. Karyanya telah dimuat di berbagai media massa cetak dan online di Tanah Air. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (Penerbit Basabasi 2018). Saat ini bergiat di komunitas sastra Pondok Cerita dan mengelola Taman Baca Masyarakat untuk anak-anak di kampungnya.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Baca Juga
Lihat juga...