Mengenal Buah Pace Koleksi Mekarsari

Editor: Koko Triarko

BOGOR – Tanaman Pace atau lebih dikenal dengan nama Mengkudu, memiliki bagian  tanaman yang bermanfaat bagi manusia. Baik buah maupun daunnya, bisa diolah atau digunakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. 

Staff Agro Taman Buah Mekarsari, Supatmi, menyebutkan, Pace termasuk dalam famili Rubiaceae yang bernama latin Morinda citrifolia. 

“Pace satu famili dengan kopi. Karena itu, kita tanam secara berdekatan,” kata Supatmi, di Blok D Taman Buah Mekarsari,  Selasa (12/3/2019).

Pohon Pace koleksi Taman Buah Mekarsari -Foto: Ranny Supusepa

Menurutnya, yang unik dari buah Pace ini adalah buahnya yang bertotol-totol.  “Totol di buah Pace ini sebenarnya merupakan perubahan dari bunga Pace. Bunga Pace merupakan bunga majelis. Yaitu, bunga yang terangkai pada satu ibu tangkai bunga, atau pada satu susunan tangkai bunga yang lebih rumit,” papar Supatmi.

Bunga Pace berwarna putih saat sudah tua, dan memiliki ukuran sebesar bunga Pepaya. Saat muda, bunganya berwarna hijau mengkilat.

“Dalam satu ibu tangkai, akan ada bunga jantan dan bunga betina. Nanti buahnya akan membesar secara bertahap. Awalnya, yang matang itu adalah daerah pangkalnya. Dari bunga pertama mekar hingga buah matang, itu sekitar 3 bulan,” jelas Supatmi, seraya menunjukkan buah Pace yang masih ditumbuhi bunga.

Tanaman Pace ini termasuk pohon rimbun dengan batang serupa sulur dan akar menjuntai.

“Sulur ini juga berkayu. Tanaman Pace mampu mencapai ketinggian hingga 8 meter,” ucap Supatmi.

Pemanfaatan Pace untuk kesehatan bisa dilihat dari berbagai penelitian di beberapa  literatur.

“Buahnya dikatakan memiliki antikanker, antioksidan, antiinflamasi, obat pengontrol gula darah dan sebagainya. Daunnya sendiri kalau di daerah Betawi, biasa digunakan sebagai campuran nasi goreng. Kalau di Aceh, biasa dicampur sebagai campuran sayur ataupun pecel,” ucap Supatmi.

Kulit buah Pace berwarna hijau ketika muda. Menjelang masak, akan berubah menjadi putih kekuningan, dan putih pucat saat matang sempurna.

Di beberapa daerah di Jawa, daun Pace yang lebar biasa digunakan sebagai tempat makanan atau membungkus sesuatu.

“Di acara ritual Jawa, daun Pace digunakan sebagai alas makanan nasi dan urap, sebelum didoakan panjang umur. Rasa daun Pace ini kriuk-kriuk,” kata Supatmi.

Daun Pace tebal mengkilat dengan bentuk jorong lancet, berukuran panjang 15 hingga 50 cm, dan lebar 5 hingga 17 cm. Tepi daun rata,  ujung lancip pendek dan urat daun menyirip.

Pengembangbiakan Pace bisa dengan menancapkan batangnya di tanah, atau menggunakan bijinya yang  berwarna hitam, yang berada di dalam daging buahnya.

“Daging buah Pace lunak berwarna putih, dan banyak mengandung air. Aromanya seperti keju busuk, yang menurut penelitian sebagai akibat pencampuran antara asam kaprat dengan asam kaproat, dan asam kaprilat,” kata Supatmi.

Tanaman Pace dapat tumbuh dengan baik di semua cuaca,  mulai dataran rendah hingga dataran tinggi 1.500 meter di atas permukaan laut.

“Pace ini termasuk gampang tumbuh dan produktivitasnya juga tinggi. Karena itu, masih banyak tumbuh di pekarangan masyarakat saat ini,” pungkas Supatmi.

Lihat juga...