Nikmatnya Kue Kamir Khas Arab dengan Aneka Rasa

Editor: Satmoko Budi Santoso

449

PURWOKERTO – Kue lembut, manis dan hangat bisa dinikmati hanya dengan harga Rp 1.000 per biji. Tersedia aneka rasa, mulai dari rasa keju, coklat, pisang, nangka, stroberi dan lain-lain.

Kue yang disebut kamir ini, konon merupakan kue khas Saudi Arabia, namun sudah banyak penjual kamir di Kabupaten Pemalang dan di Purwokerto. Sementara, baru ada satu penjual yang berlokasi di Jalan HR Bunyamin, dekat Pasar Glempang, Kecamatan Purwokerto Utara.

Penjual kue kamir, Yanti mengatakan, ia baru sekitar 4 bulan berjualan. Dalam sehari ia membuat adonan kue kamir sekitar 5 kilogram tepung terigu dan biasanya sudah habis pada siang hari.

Penjual kue kamir, Yanti sedang melayani pembeli. Foto: Hermiana E. Effendi

ʺMungkin karena baru, jadi orang banyak yang penasaran, buka pagi hari, siang sudah habis,ʺ tuturnya, Sabtu (16/3/2019).

Yanti mengaku, tidak bisa membuat adonan tambahan secara mendadak, karena adonan harus didiamkan kurang lebih 10 jam sebelum dicetak dalam pemanggang.

Bahan baku ke kamir ini dari tepung terigu yang dicampur dengan gula pasir, mentega dan telur. Yanti berbagi resep, cara membuat kue kamir awalnya telur dikocok, kemudian dimasukkan gula pasir, soda kue, ragi instan dan vanili.

Setelah tercampur dan telur mengembang, sedikit demi sedikit dimasukkan tepung terigu. Setelah itu baru ditambahkan air sampai mendapat kekentalan adonan yang pas.

Untuk mendapatkan kue yang empuk, kuncinya adalah pada kekentalan adonan, sehingga tidak semua bisa membuat kue kamir dengan rasa yang empuk.

Setelah kekentalan adonan dirasa pas, kemudian didiamkan selama kurang lebih 10 jam dengan ditutup kain. Hal ini dimaksudkan supaya adonan mengembang.

Ukuran kue kamir yang bulat dan kecil, mirip seperti dorayaki, makanan khas Jepang. Menurut Yanti, rasa favorit yang sering dipesan pelanggannya adalah rasa nangka dan coklat.

Untuk rasa nangka, Yanti meletakkan sedikit potongan buah nangka dalam tiap kue, sehingga rasa nangkanya sangat terasa di lidah.

Sehari-hari, Yanti yang dibantu keponakannya, berjualan dengan gerobak di dekat lampu merah Pasar Glempang mulai pukul 07.00 WIB. Dan dagangannya sudah habis saat siang hari.

ʺKue ini enak dinikmati saat pagi hari dan masih hangat, hampir semua rasa saya suka, jadi kalau beli borongan sampai 20 biji,ʺ kata salah satu pembeli, Evi.

Lihat juga...