Orang Suci

CERPEN ARIS KURNIAWAN

342

SEHARUSNYA  tak ada siapa pun yang memilihkan seseorang menjadi pasangan hidup kita kecuali diri kita sendiri.

Namun seringkali semuanya terjadi begitu saja. Seolah begitu bangun dari tidur yang lelap kita tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa seseorang yang duduk menghadap cermin di sudut kamar adalah pasangan kita.

Terikat komitmen saling setia. Mendapati diri ini terjebak dalam sebuah kehidupan yang tidak kita inginkan. Kemudian merasa semuanya sudah telanjur, tak bisa diputar ulang seperti menyetel lagu atau film.

Itu adalah keluhan Faruk. Baiklah. Begini ceritanya. Faruk tiba-tiba merasa asing dengan pasangan hidupnya. Seolah-olah mereka baru dipertemukan semalam oleh seseorang yang menjodohkan mereka.

Padahal sudah puluhan tahun dia hidup seatap dengan perempuan itu. Melalui proses yang sebagaimana umumnya: bertemu, pacaran, menikah, lalu membangun keluarga. Tetapi seluruh proses panjang itu seperti tak pernah terjadi.

Faruk seolah baru menyadari bahwa dia hidup bersama seseorang yang amat mempercayai petuah kiai, ustaz, dan terutama dukun. Jenis orang yang mengandalkan doa atawa mantra untuk menyelesaikan masalah.

Seseorang yang selalu mengaitkan apa pun peristiwa sehari-hari dengan kekuatan yang tak dapat ditangkap indra. Jualan laris, mendapatkan jodoh, keberuntungan, kecelakaan, kematian. Bagi dia semuanya telah dirakit oleh kekuatan di luar tubuh sendiri.

“Nasibmu buruk terus karena ada jin jahat yang menyelubungi tubuhmu.” Begitulah istrinya sering berseru.

“Jin ada hanya karena kamu memikirkannya,” sahut Faruk mengutip ujaran seorang pengarang yang dia sukai karyanya tapi ia benci orangnya.

“Istrimu pun tak pernah ada kalau kamu tak memikirkannya,” gugat istrinya. Dia kadang begitu lihai skakmat kalimat suaminya. Itu membuat perempuan itu senang namun tak puas. Maka dia akan terus mengoceh.

Faruk tak akan berhasil menghentikannya, kecuali dia berharap ada perdebatan yang akan meledak jadi pertengkaran. Lebih mudah bagi dia memilih mengalah dengan meninggalkannya duduk di beranda minum kopi, seperti yang disarankan syair lagu dangdut koplo. Atau menyibukkan diri dengan tanaman cabai dan kemangi di pekarangan samping rumah.

Dari sini suara istrinya masih jelas terdengar, tapi Faruk pura-pura tak mendengar. Syukurlah dengan melihat tanaman cabai dan kemangi yang tumbuh subur serta hijau mampu melarutkan geram dan kejengkelannya ke udara, lalu diserap daun-daun kemangi dan cabai.

Sejak dulu dia memang senang menanam dan berkebun meskipun orangtuanya bukan petani bukan pekebun. Kegiatan itu memberinya kebahagiaan. Setiap melihat lahan kosong sesempit apa pun dia suka gatal untuk menanami atau menaruh pot di atasnya.

Dia bercita-cita bila punya banyak uang akan membeli lahan di depan rumahnya untuk dijadikan kebun sayur organik. Dia pernah mengatakan hal itu pada istrinya, dan perempuan itu setuju.

Tetapi cita-cita tinggal cita-cita karena dia tak pernah memiliki uang yang cukup untuk menggusur lahan mana pun. Maka sisa sedikit lahan samping rumahnya jadi tempat melampiaskan kegemarannya itu di sisa waktunya bekerja.

Dulu istrinya yang memiliki kegemaran sama turut senang, namun kini menjadi salah satu sumber persoalan. Kebun kecilnya dianggap membuat sumpek pekarangan. Kalau seseorang sudah benci padamu, dia akan membenci apa pun yang kamu lakukan. Faruk ingin menepis kalimat yang berdenging di benaknya itu.

Faruk tak suka berdebat yang akan berakhir dengan pertengkaran. Apalagi dengan istri sendiri. Dia lebih suka menghindari percakapan tema apa pun yang berpotensi menyeretnya kepada perbantahan sekecil apa pun.

Bila tak sependapat dengan seseorang, dia akan memilih bungkam, atau mengalihkan ke topik lain atau menghindari orang itu. Bumi ini sudah sangat berisik karena penuh berisi orang yang menyediakan diri dengan suka rela untuk bertengkar. Dia tak ingin menambah kebisingan.

Faruk menghidupi ekonomi keluarga dari budi daya jamur merang karena tak mungkin mengandalkan penghasilan dari kebun kecil samping rumah. Jamur merang produksinya dia jual di kios mereka di pasar, sebagian dia kirimkan ke warung-warung.

Penghasilan yang dia dapatkan memang tidak sebesar dulu ketika jadi wartawan. Tapi masih lumayan dibanding tetangga sebelah menyebelah. Usaha ini memberi Faruk kehidupan yang cukup bahagia.

Dia dapat membeli kebutuhan pokok dan sedikit barang-barang yang hanya dia butuhkan, dan sesekali pergi memancing ikan di pantai.

Usaha budi daya jamur merang Faruk rintis sejak tujuh tahun lalu setelah dia meninggalkan pekerjaan sebagai wartawan di koran daerah. Dia mempelajarinya saat meliput pelatihan budi daya jamur merang yang diadakan perusahaan keuangan.

Faruk menikmati proses jatuh bangun sebagai kewajaran yang mengasyikkan. Tetapi rupanya tidak demikian dengan istrinya. Dia begitu menyesali keputusan Faruk melepas pekerjaan wartawan dan banting setir jadi pembudi daya jamur merang.

“Kalau dulu kamu tidak keluar dari pekerjaan itu, sekarang mungkin kita sudah punya rumah yang besar dan bagus. Punya mobil sedan. Seperti Ipung.” Entah sudah berapa kali kata-kata itu diulang-ulang istrinya.

Pengulangan itu akan semakin kencang saat dia kesal dan bosan melihat usaha jamur merang rugi.
Ipung kawan sekantor Faruk dulu. Karirnya melesat cepat. Bahkan kini dia punya perusahaan sendiri tanpa melepaskan profesi lamanya.

Perempuan itu bilang seharusnya Faruk bisa sabar dan rajin seperti Ipung. Mengambil hati pimpinan seraya menjalin hubungan baik dengan pejabat.

“Seharusnya bisa kalau kamu dulu mengikuti saranku datang ke dukun atau kiai minta jimat pengasihan supaya disayang pimpinan dan dicintai pejabat,” timpal perempuan itu. Kesimpulan yang membuat Faruk benci sekaligus takjub.

Sulit sekali bagi Faruk menghubungkan kesuksesan seseorang dengan jampi-jampi dari dukun atau kiai. Mengaitkan keberhasilan ekonomi dengan rajin sembahyang. Menemukan sebab akibat kesialan dengan kemarahan Tuhan.

Memaksa terus pura-pura mempercayainya serupa lelucon yang sama sekali tidak lucu, dan itu akan lebih buruk dari kena serangan gatal-gatal di selangkangan. Istrinya muak sekali ketika Faruk mengungkapkan hal itu.

Selama bekerja sebagai wartawan hampir lima tahun, karir Faruk jalan di tempat, bahkan lebih mengenaskan dari itu. Dia tak bisa menulis mengikuti keinginan pimpinan. Banyak laporannya yang tak ditayangkan.

Dia juga tak mahir menjalin hubungan yang menyenangkan dengan pejabat. Itu semua karena dia tak berbakat untuk berpura-pura, apalagi bekerja sama dengan mereka.

Dia tak mampu melakukan apa yang Ipung lakukan yang disenangi pimpinan. Kawannya itu sangat lihai memanfaatkan profesi untuk mengambil hati pejabat, yang mengantarkan Ipung menemukan banyak sumber keuangan.

Dia telaten keluar masuk tempat-tempat hiburan, nongkrong di panti-panti pijat untuk memergoki pejabat yang datang ke sana. Dari sanalah kran uang mengucur deras.

“Semua orang punya dukun, punya guru spiritual untuk membantu karir mereka di kantor, di dunia bisnis! Mengusir jin jahat supaya matamu terbuka. Kalau kamu tak percaya dukun, tak percaya kiai, tak percaya yang gaib, terus apa yang kamu percaya supaya hidup kita enak? Apa-apa yang kamu percaya terbukti tak memberikan apa-apa!” Perempuan itu menuduhnya fasik.

Makin lama Faruk merasa hidup dengan orang asing. Sementara Mayang, anak semata wayangnya yang berangkat remaja sudah punya kehidupan sendiri. Dia tak akan mengerti. Lagi pula seorang anak memang tak boleh turut menanggung persoalan yang mengganjal kehidupan orang tuanya.

Faruk tak tahu siapa persisnya yang terus bergerak menjauh, dia ataukah istrinya? Detak waktu hanya menghasilkan getaran yang terus menerus memperlebar jarak antara dia dan perempuan itu.

Mereka tidur bersama sebagaimana layaknya suami istri yang lain. Makanan yang mereka makan tak ada yang berbeda. Bahkan pada suatu masa yang belum terlalu jauh berlalu mereka memasaknya bersama-sama.

Dia mengiris cabai, mengupas bawang, menyiapkan garam dan minyak. Istrinya yang kemudian menuangkan di atas penggorengan. Meraciknya dengan bumbu lainnya. Mereka sama menyukai pedas.

Lalu memakannya di atas meja yang sama dan saling berhadap-hadapan. Memandang mulut satu sama lain mengunyah makanan. Faruk menuang minuman untuknya, dan dia mengambilkan serbet untuk Faruk mengelap sisa minyak di bibir. Tetapi kenapa kini ada sesuatu yang sulit dijangkau dari istrinya.

Minggu lalu Faruk ingat masa kebersamaannya dengan perempuan itu tepat 20 tahun. Lumayan lama. Dalam masa sepanjang itu, tak hanya makan, mereka memiliki kegemaran yang sama berkebun.

Kegemaran itulah yang dulu mempertemukan dan menyatukan mereka. Tetapi lihatlah, dari hari ke hari betapa kesulitan Faruk memahami pikiran, ucapan, dan tindakan istrinya.

Potongan rambutnya, baju-baju yang disukainya, tak berubah sejak pertama mereka bertemu. Istrinya menyukai potongan rambut sebahu. Tak menyukai warna-warna yang terang. Dan dia masih tergila-gila pada sesuatu yang simpel, termasuk dalam hal pakaian yang dia kenakan dan makanan yang dia pesan. Tapi kenapa pikirannya berubah begitu cepat?

Memutuskan untuk menikah dan hidup bersama dengan seseorang itu memang mudah, kata penasihat perkawinan yang sering dikutip dalam khotbah pernikahan. Yang berat adalah menjaga dan mempertahankannya. Butuh kesabaran.

Faruk tak tahu apakah dia mampu bersabar setelah kemarin istrinya berkata akan mendaftarkan diri jadi pekerja migran di Taiwan. Mungkin semuanya akan berakhir. Dia membenci perpisahan apalagi oleh penyebab yang konyol.

Dia sudah setengah mati berusaha. Bersabar. Namun rupanya sekarang harus menerima kenyataan bahwa dirinya hanya manusia biasa yang bisa terempas dari apa-apa yang telah diperjuangkannya.

Dia bersenandung untuk menutupi kemarahan sekaligus kehampaannya. “Seharusnya aku gembira apabila perpisahan benar-benar terjadi,” pikirnya. Karena itu berarti akan terbebas dari perempuan yang getol mengeluhkan apa saja. Dan menganggap suaminya seonggok kekeliruan yang tak ada habisnya.

engkau datang
ketika aku jatuh bangun dan jatuh
dalam langkah menyusuri kehidupanku yang kelam
dan hampir-hampir ku tak dapat melangkah lagi

Suara Utha Likumahuwa  mengalun di ruang tengah. Lagu yang dia unduh dari internet. Faruk menyukai lagu itu, juga istrinya. Lagu itu dirilis tahun 1987, dari album Festival Lagu Populer Indonesia.

Jauh sebelum dia dan perempuan itu bertemu untuk pertama kali. Jadi saat mereka bertemu, lagu itu sudah jarang diperdengarkan di radio maupun televisi. Faruk mendengarnya secara selintas dari radio, dan dia langsung menyukainya.

Rupanya lagu dipesan perempuan itu. Lewat radio lalu mereka berkenalan dan meminta dia menemani Faruk mencari kasetnya. Zaman itu memang tidak semudah sekarang, untuk mendapatkan apa saja yang kamu mau tinggal klik di internet.

“Syairnya menggambarkan keadaanku setelah ketemu kamu,” kata Faruk. Rayuan yang tepat mengenai sasaran: benak perempuan itu. Kebanyakan rayuan isinya adalah gombal. Tapi tidak dengan Faruk.

Dia sedang mengungkapkan fakta ketika mengatakan rayuan itu. Dia meninggalkan kebiasaan menghambur-hamburkan waktu di pinggir jalan, mabuk, main gitar nggak jelas juntrungan.

“Ikutilah jalanku,” kata perempuan itu, seperti gembala kepada domba yang tersesat dan ditemukannya nyaris terperosok di pinggir jurang. Dia mendadak menjadi orang yang paling dibutuhkan di dunia fana.

Kaset lagu itu sudah lama hilang tak berbekas. Faruk memperolehnya kembali dengan mengunduhnya dari internet. Dan hari-hari terakhir ini rajin memutarnya. Secara sengaja memperdengarkan kepada istrinya.

Tapi penggembala itu sekarang seperti domba liar. Dan Faruk kini merasa berubah jadi gembala yang kepayahan membawa si domba liar ke jalan yang benar.

Faruk baru selesai mencampur air bekas cucian beras dengan ramuan gula di dalam jeriken, di gudang yang dia sebut laboratorium. Itulah cara membuat pupuk organik cair yang dia pelajari dari video di internet.

Ini adalah sore yang mestinya indah. Tapi apa-apa yang disebut indah sudah hengkang dari rumah ini. Faruk hanya mendapatkannya dari pot-pot tanaman samping rumah dan bulu-bulu serta mata lucu si Igong, kucing tetangga yang belakangan tinggal di rumahnya gara-gara sering diberi makan.

Dari pintu samping istrinya masuk. Itu kemunculannya pertama kali setelah dua hari meninggalkan rumah. Lalu dengan santai dan tanpa rasa salah mengatakan bahwa dia sudah lolos medikal. Dan minggu depan mulai mengikuti kelas bahasa Taiwan selama tiga bulan.

Tetapi yang paling membuat Faruk terbelalak dia muncul dengan potongan rambut berbeda. Dipotong lebih pendek. Satu senti di bawah telinga, memperlihatkan tengkuknya.

“Kamu mau meninggalkanku?” ujar Faruk menahan geram.

“Kenapa ngomong begitu? Aku mau bekerja untuk kebaikan keluarga kita,” cetus istrinya.

“Kamu mau menghancurkan keluarga?”

“Terserah pendapatmu!”

“Kamu tak memikirkan Mayang?”

Perempuan itu menatap Faruk. Laki-laki itu memalingkan wajahnya ke pot-pot tanamannya seperti mencari kekuatan kepada daun-daun hijau. Dia sudah menduga situasinya akan sampai seperti ini. Faruk terus menatap pot-pot tanaman hingga istrinya beranjak dari sana, masuk ke dalam kamarnya.

“Anak itu sudah dewasa. Dia bisa mengerti situasi ini dengan lebih baik ketimbang ayahnya,” kata istrinya dari dalam kamar.

Faruk beranjak kembali ke belakang, meneruskan kesibukan membuat pupuk organik. Saati itulah Mayang muncul sambil terus bicara di telepon.

“Keputusanku sudah bulat hubungan kita selesai sampai di sini. Aku tak mau punya pacar yang percaya omongan dukun!”

Sepotong percakapan itulah yang membuat Faruk lega dan terhibur. Membuat dia merasa tidak terlalu asing di rumahnya. ***

Cirebon, Februari 2019

Aris Kurniawan, lahir di Cirebon, 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, puisi, resensi, esai untuk sejumlah penerbitan. Buku kumpulan cerpen terbarunya: Monyet Bercerita (Basabasi, 2019).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...