Ovi, ASN yang Sukses Membangun Usaha

Editor: Mahadeva

MAUMERE – Menjadi seorang pedagang atau wirausaha, merupakan pilihan hidup. Wirausaha merupakan profesi yang membutuhkan ketekunan dan fokus untuk menjalankannya.

Menekuni dua profesi, yaitu sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pengusaha, adalah pilihan yang dijalani. Aloysius Oviani, seorang ASN di bagian Humas Pemkab Sikka. ASN yang biasa disapa Ovi tersebut, dikenal sebaai wirausahawan dengan berbagai jenis usaha. “Setelah tamat kuliah dan menikah, saya tidak ingin kembali ke desa. Saya menetap di Maumere dan bertahan hidup dengan coba terjun ke dunia wirausaha,” sebut Ovi, Selasa(19/3/2019).

Pertama berwirausaha, Ovi belajar bisnis dan magang kepada tiga ASN, yakni Blasius, Embu dan Jano. Ketiganya dianggap sukses mengembangkan usaha peternakan ayam. Dan menjadi peternak ayam, merupakan usaha pertama yang dilakoni Ovi bersama isterinya, Maria Agustina Otavin. Sambil beternak ayam potong, babi dan kambing, Ovi menyewa kios di Pasar Tingkat Maumere. Berbekal kenalan dan relasi selama kuliah, di 1997 Dia mulai menjual peralatan olahraga.

Pada saat itu, Pasar Tingkat masih sepi dan belum banyak orang yang menyewa kios. “Awal usaha ramai sekali, karena tidak ada yang menjual peralatan olahraga. Apalagi setelah badminton mulai digandrugi di Sikka, penjualan saya lumayan bagus. Jalan tiga tahun, sudah banyak toko yang menjual kebutuhan olahraga sehingga saya harus banting setir,” tuturnya.

Ovi bersama sang isteri beralih menjadi pedagang perlengkapan menjahit, sekaligus menerima order jahit pakaian. Sambil membuka toko, di waktu bersamaan lelaki pekerja keras tersebut tetap memelihara ayam pedaging dan petelur. Ribuan ekor ayam pun dipelihara. “Saya kongsi dengan bapak mantu dibawah naungan usaha Peternak kasih Ibu Wairhubing. Kami pelihara ayam hingga ribuan ekor. Di 1998, saya pernah rintis usaha berjualan pakaian bekas dan sukses,” ujarnya.

Usaha yang biasa disebut Rombengan (berjualan pakaian bekas) dijalani dengan mendatangkan pakaian dari Surabaya. Tapi karena ada perlindungan tekstil nasional, impor barang dari luar negeri semakin sulit. Usaha tersebut akhirnya tutup setelah tiga tahun berkibar. Usaha ternak ayam mulai mengalami guncangan, setelah harga pakan ternak mahal. Harga pakan lokal seperti dedak dan jagung yang naik, membuat pengusaha ayam petelur gulung tikar.

Ovi beralih memelihara babi, dan selama 10 tahun usaha tersebut berkembang menjadi puluhan ekor. “Selain pelihara babi, bekas kandang ayam saya pakai untuk pelihara kambing dan bebek. Sebenarnya bebek saya ingin menjual, tapi setelah beranak hampir semua anak bebek dimakan tikus. Kebutuhan akan ternak sangat tinggi di Sikka, sehingga usaha beternak babi dan kambing bisa mendatangkan keuntungan,” tuturnya.

Kendala menjalankan pekerjaan sebagai ASN, namun tetap berwirausaha, adalah cara membagi waktu. Hal itu, membuat ayah tiga anak tersebut harus pintar-pintar memanfaatkan waktu. Ketekunan dan disiplin dalam berusaha, menghantar Ovi dan isteri kini memiliki dua kios di Pasar Tingkat Maumere. Sebuah kios sembako di Lokaria, dan satu lagi di rumahnya di Wairhubing, Kota Maumere. Ovi bisa menyekolahkan ketiga anaknya, di sekolah yang tergolong mahal biaya pendidikannya.

Obi menyitir peribahasa dalam bahasa Sikka yang berbunyi, Moret Naha Gua Gu Gea.Gua Uma Kare Tua, Bihing Wawi Peni Manu,Gua Da’a Rewu Tawa Gu Gea. Yang artinya, hidup harus terus bekerja agar bisa makan.

Tempat usaha milik Aloysius Oviani di pasar Tingkat Maumere yang tetap bertahan hingga kini. Foto : Ebed de Rosary

Peribahasa tersebut membuatnya terus banting tulang, bekerja keras. “Dari hasil usaha, saya bisa memenuhi kebutuhan keluarga secara berkecukupan. Uangnya saya sisihkan untuk membangun rumah dan membeli beberapa bidang tanah di Kota Maumere, maupun di beberapa wilayah di luar kota Maumere,” ungkapnya.

Ovi, pernah dipercaya memegang jabatan Kepala Desa Watuliwung. Pekerjaan sebagai abdi masyarakat dijalani dari 2007 hingga 2010. Di 2009, Dia mengikuti tes sebagai ASN dan lulus, sehingga pekerjaan sebagai Kepala Desa ditinggalkan. Apa yang membuatnya ingin menjadi ASN?, Ovi tegas menjawab, semua orang menjalani garis tangannya. Saat ada peluang tes PNS dan sesuai ilmunya, Dia mencoba mendaftar dan lulus.

“Tapi semua usaha tidak saya tinggalkan sebab hidup itu harus diisi dengan kerja. Kegiatan usaha juga tidak terganggu. Di luar waktu kerja sebagai ASN, saya atur waktu untuk memelihara ternak dan bertani, hoby yang mendatangkan keuntungan,” tuturnya.

Sebagai wirausaha, ada saja kendala yang dihadapi. Modal habis, usaha macet, hingga dicibir orang adalah santapan yang sering dihadapi. Namun semua itu tidak jadi penghalang untuk terus bergerak maju. Di awal memiliki kios, Ovi harus bersembunyi ketika melihat ada saudara yang datang berbelanja. Orang sering mengatakan, sekolah tinggi tetapi hanya bisa jaga kios.

“Awalnya saya suka malu berada di kios dan suka sembunyi kalau ada saudara atau kenalan yang datang. Lama kelamaan jadi terbiasa, dan menikmati menjadi pengusaha karena bisa mendatangkan uang yang lumayan,” terangnya.

Pada awal memulai usaha, upaya mendapatkan bantuan modal dari lembaga keuangan sulit didapatkan. Akhir-akhir ini, ketika usahanya berkembang, baru Dia bisa mengakses pinjaman dana ke bank maupun koperasi. Permasalahan lainnya, mental masyarakat yang minim kepercayaan terhadap pengusaha lokal. Masyarakat lokal lebih memilih berbelanja di toko, kios atau rumah makan yang bukan dimiliki orang lokal.

Padahal pelayanan, kualitas barang serta harga tidak ada perbedaan. “Intinya dalam berusaha kita harus tekun dan disiplin. Apa yang sudah diputuskan harus dijalani dengan suka dan duka. Jangan pernah menyerah untuk mencoba dan mencari terobosan baru saat sebuah usaha mengalami stagnan,” pesannya.

Lihat juga...