Pak Harto Pernah Pukul Tentara tak Disiplin

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sosok Presiden Kedua RI, HM Soeharto, selama ini memang dikenal sebagai pribadi yang sederhana serta tak banyak bicara. Meski begitu, Pak Harto juga dikenal memiliki sikap ketegasan sangat tinggi.

Banyak ditakuti anak buah dan bawahannya, baik saat sudah menjabat sebagai presiden maupun ketika masih berkarir di dunia militer.

Seperti diakui salah seorang mantan pejuang atau veteran yang pernah menjadi anak buah Pak Harto ketika masih menjabat sebagai Komandan Brigade X Yogyakarta, Samdhy (91), warga Juminahan, Tegalpanggung, Danurejan, Yogyakarta.

Menurut penuturan Samdhy, Letkol Soeharto yang kala itu bermarkas di Markas Komando Brigade X, Kotabaru, Yogyakarta, bahkan pernah begitu marah hingga memberikan pukulan pada salah seorang anak buahnya yang tidak disiplin, karena terlambat dan tidak melaksanakan perintah. Hal itu semata-mata dilakukan karena sikap kedisiplinan dan ketegasan Pak Harto sebagai komandan.

“Pernah ada anak buah yang dipukul. Karena tidak disiplin. Saat itu Pak Harto masih jadi Komandan Brigade X. Markasnya waktu itu masih di Kotabaru,” tegasnya.

Sandhy yang merupakan salah satu pelaku Peristiwa Serangan Umum 1 Maret  mengaku, mengenal Pak Harto sebagai komandan, sebatas hubungan antara atasan dan bawahan. Namun, ia juga mengaku, pernah beberapa kali berbincang langsung dengan Pak Harto, saat masa-masa perjuangan prakemerdekaan maupun pascakemerdekaan.

“Paman saya itu kan supir pribadi Pak Harto. Jadi pernah Pak Harto datang ke rumah naik sepeda untuk cari paman saya. Dan saya sendiri yang menemui Pak Harto. Saat itu Pak Harto masih sedikit kurus, belum gemuk,” katanya.

Bagi Sandhy yang merupakan mantan pejuang dari Satuan Tentara Pelajar, Pak Harto merupakan sosok yang baik dan sederhana. Pak Harto juga disebut sebagai seseorang yang ahli dalam strategi militer serta pemimpin yang sangat berani ketika berada di medan pertempuran.

“Orangnya baik. Sederhana. Tapi saat situasi perang, Pak Harto berani maju di barisan depan. Kendel atau berani. Seperti saat peristiwa penyerbuan Kotabaru. Juga saat menyerang Jepang di Semarang, Srondol, serta Jatingaleh. Karena saya juga ikut. Pak Harto itu pimpinan yang pintar atur strategi,” katanya.

Lihat juga...