Partai Berkarya Bertekad Wujudkan Tambak Lorok Kampung Ramah Lingkungan

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Putri Presiden ke-2 RI, HM Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana, berharap Kampung Nelayan Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah, menjadi percontohan bagi nelayan di seluruh Indonesia.

“Karena di sini kampung nelayan, ke depan bersama Caleg Partai Berkarya Jawa Tengah, bisa dijadikan menjadi kampung ramah lingkungan. Sehingga bisa dicontoh oleh nelayan lain di seluruh Indonesia. Jadi, percontohan dari Tambak Lorok,” kata Tutut Soeharto, saat dialog dengan nelayan di Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah, Senin (4/2/2019).

Menurutnya, Kampung Ramah Lingkungan ini membantu menata pertanian masyarakat, termasuk di Tambak Lorok. Misalnya, di  pekarangan rumah bisa ditanami sayuran dengan memakai pot kecil.

“Di pinggiran rumah itu bisa ditanami cabai, tomat dan lainnya. Sayuran ini ditanamnya di pot kecil, bukan di halaman,” kata Putri Cendana yang karib disapa Tutut Soeharto.

Untuk mewujudkan Tambak Lorok menjadi Kampung Ramah Lingkungan, pihaknya akan mengirim staf ahli pertanian dari Saung Berkarya. Mereka nantinya akan memberikan penyuluhan dan pelatihan pertanian kepada warga nelayan Tambak Lorok.

Tutut Soeharto menegaskan, program Partai Berkarya bermanfaat dan bisa terlaksana dengan baik, tekun dan disiplin.

Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek Soeharto), silaturahmi dengan warga kampung nelayan Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah, Senin (4/3/2019). Foto : Ist.

“Insyaallah kita bergabung di dalam Partai Berkarya mewujudkan bangsa Indonesia adil, makmur dan sejahtera yang selalu diridhoi oleh Allah SWT,” tandas Istri Indra Rukmana.

Pengelola Saung Berkarya, Sri Wahyuni, menambahkan, kondisi rumah warga di Tambak Lorok sangat berdempetan. Terlihat sampah juga berserakan.

Ke depan, Siti Annisa Tri Hapsari, Caleg DPR RI Dapil I Jateng, kata Sri, bisa menjadikan daerah ini sebagai Kampung Ramah Lingkungan.

“Jadi, kampung ramah lingkungan itu semua  hasil dari lingkungan itu dimanfaatkan, terutama lahan pekarangan rumah,” ujarnya.

Contohnya, tambah dia, dari RW menanam satu jenis sayuran, yaitu cabai. Satu keluarga menanam 20 pohon cabai di pot. Kalau dalam satu RW, ada 200 rumah dikalikan 20 pohon cabai yang ditanam, maka akan didapatkan 4.000 pohon cabai.

“Kalau dari 20 pohon cabai itu, boleh dikonsumsi 5 pohon cabai. Lalu yang 15 pohon, cabainya itu dijual sebagai usaha bersama satu RW.  Usaha bersama ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.

Kemudian satu RW lagi, sambungnya, warganya menanam seledri. Setiap keluarga menanam 2O pohon seledri di pot di pekarangan rumahnya. Begitu pula dengan RW lainnya, menanam tomat.

“Sehingga di sini jangan makan ikan saja, bisa makan sayuran, dan cabai, nggak usah beli. Pun mau beli tomat bisa ke RW yang warganya tanam tomat. Jadi, namanya dibentuk Kampung Ramah Lingkungan,” jelasnya.

Caleg DPR RI Dapil I Jawa Tengah, Siti Annisa Tri Hapsari, mengaku mendapatkan tantangan dari Tutut Soeharto. Yakni membuat berbagai karya ibu-ibu nelayan, agar kehidupannya sejahtera.

“Alhamdulillah, Ibu Tutut banyak berikan masukan. Salah satunya adalah mewujudkan kampung nelayan menjadi kampung ramah lingkungan. Kampung UMKM dan kampung yang menghasilkan karya-karya untuk kesejahteraan warga. Insyaallah saya akan berjuang warga Tambak Lorok,” tegas Annisa.

Lihat juga...