Pasokan Minim Akibat Terang Bulan, Harga Ikan Laut Mahal

Editor: Satmoko Budi Santoso

312

LAMPUNG – Tangkapan ikan laut yang diperoleh nelayan pesisir Lampung Selatan (Lamsel) saat musim terang bulan ikut berdampak pada pedagang ikan.

Maman, salah satu pedagang ikan keliling atau pelele menggunakan motor asal Kalianda menyebut, saat terang bulan nelayan kerap mendapat tangkapan ikan minim bahkan sebagian enggan melaut.

Ia menyebut faktor gelombang tinggi membuat ikan yang dilelang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dermaga Bom Kalianda berkurang.

Sejumlah ikan yang dijual oleh nelayan di TPI Dermaga Bom merupakan hasil tangkapan di perairan Lampung. Sejumlah ikan yang kerap dijual di antaranya Kurisi, Jolot, Manyung, Tengkurungan, Kuniran, Lemuru, Kuniran, Simba, Lapeh, Teri, Manyung, Kerapu dan sejumlah ikan lain.

Meski demikian sejak lima hari terakhir ia hanya bisa membeli ikan melalui proses lelang untuk dijual kembali berupa ikan Jolot, Tengkurungan, Manyung. Selain itu udang vaname atau udang putih serta bawal laut.

Sebagian ikan yang tidak diperoleh saat proses pelelangan kerap diperoleh dari bos pengepul ikan. Bos pengepul ikan memperoleh ikan dari TPI Lempasing Kabupaten Pesawaran serta TPI Muara Gading Mas Kabupaten Lampung Timur.

Sejumlah ikan yang didatangkan dari luar Lamsel membuat ia bisa berjualan ke sejumlah desa yang jauh dari laut. Minimnya pasokan ikan laut membuat harga mengalami kenaikan berkisar Rp2.000 hingga Rp10.000 per kilogram untuk semua jenis ikan.

“Pasokan ikan yang minim ikut mempengaruhi harga jual ikan di level pengepul hingga pelele atau pedagang keliling karena nelayan sebagian belum melaut terutama saat terang bulan,” terang Maman salah satu pedagang ikan keliling, saat ditemui Cendana News, Minggu (17/3/2019).

Maman, salah satu pedagang ikan keliling atau pelele memperlihatkan ikan tengkurungan yang dibeli dari tempat pelelangan ikan Kalianda – Foto: Henk Widi

Maman mengungkapkan, harga ikan yang naik di antaranya jenis teri sebelumnya seharga Rp18.000 kini dijual Rp20.000 per kilogram.

Harga ikan lemuru sebelumnya Rp15.000 dijual menjadi Rp20.000 per kilogram, ikan simba sebelumnya Rp35.000 naik menjadi Rp40.000 per kilogram.

Selain itu sejumlah ikan yang naik berupa ikan Caracas semula Rp18.000 naik menjadi Rp20.000, tengkurungan semula Rp17.000 dijual dengan harga Rp20.000, ikan tongkol semula Rp20.000 dijual Rp25.000, ikan Bondolan semula Rp15.000 naik menjadi Rp20.000 per kilogram.

Minimnya pasokan ikan membuat Maman menjual ikan dengan jumlah terbatas. Pada kondisi normal ia menyebut, bisa menjual sekitar 100 kilogram per hari yang dijual keliling. Saat pasokan ikan laut minim ia bahkan hanya menjual sekitar 50 kilogram ikan laut per hari.

Sebagian ikan selain dijual keliling saat pasokan melimpah kerap dijual sang istri di lapak berdagang ikan di pasar ikan Kalianda. Kondisi cuaca di laut membuat ia kerap menjual ikan air tawar dan ikan budidaya tambak.

“Jenis ikan yang dibudidayakan di antaranya lele, emas, nila, mujahir, udang vaname dan bandeng kerap jadi alternatif yang saya jual,” beber Maman.

Maman juga menyebut, kondisi perubahan cuaca juga membuat sejumlah petambak udang vaname sedang kekurangan pasokan. Pasalnya sebagian tambak udang vaname di wilayah pesisir timur Lampung terkena penyakit white spot atau bintik putih.

Akibat penyakit tersebut petambak mengalami gagal panen sebagian melakukan proses panen dini. Selain mendapatkan pasokan udang vaname ia juga mendapat pasokan ikan bandeng untuk dijual. Udang vaname dijual Rp50.000 per kilogram dan ikan Bandeng Rp15.000 per kilogram.

Lisdaryanti, salah satu ibu rumah tangga di Desa Pasuruan menyebut, membeli ikan laut untuk lauk keluarganya. Ia mengaku meski harga naik dari kondisi normal, kerap membeli ikan laut sepekan sekali.

Ikan laut disebutnya memiliki kandungan gizi yang baik terutama bagi anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Pasokan ikan yang minim membuat kenaikan harga berkisar Rp3.000 hingga Rp10.000 disebutnya wajar.

“Ikan laut tetap menjadi menu wajib keluarga sepekan sekali sehingga meski harga mahal tetap saya beli,” papar Lisdaryanti.

Kelangkaan pasokan ikan laut diakui nelayan pantai timur Lampung di antaranya di dermaga Muara Piluk Bakauheni.

Hendra, salah satu nelayan menyebut fenomena terang bulan selain membuat gelombang tinggi berimbas pada sulitnya mendapat hasil tangkapan. Ikan laut yang diperoleh dari perairan timur Lampung dan Selat Sunda disebutnya kerap masih diperoleh di sekitar Pulau Kandang Balak, Sangiang serta pulau-pulau kecil lain sebagai tempat berlindung saat angin kencang.

Sejumlah nelayan disebut Hendra, memilih beristirahat melaut sementara waktu menunggu waktu tepat untuk mencari ikan. Pemilik perahu bagan congkel tersebut mengungkapkan hasil penjualan ikan yang minim hanya cukup menutupi biaya operasional.

Setelah kondisi cuaca membaik ia menyebut, hasil tangkapan di perairan Selat Sunda dipastikan akan kembali normal. Selain dijual untuk ikan segar sebagian ikan jenis tembang, teri dan selar hasil tangkapan nelayan menjadi bahan baku pembuatan ikan asin dan teri rebus.

Lihat juga...