Pembudidaya Ikan Lele di Lamsel Terkendala Sulitnya Benih

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah pemilik usaha pembesaran ikan di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), masih mengandalkan pasokan benih dari kabupaten lain.

Krismanto, salah satu pembudidaya ikan lele, nila dan gurami, menyebut kurangnya stok benih untuk pembudidaya ikan membuat ia membeli benih dari kota Metro. Tingginya permintaan akan benih ikan, terutama lele, diakibatkan semakin banyaknya masyarakat yang memanfaatkan lahan untuk budi daya ikan lele.

Sugeng Hariyono memberi pakan ikan lele mutiara yang dibudidayakan pada kolam terpal bulat -Foto: Henk Widi

Menurut Krismanto, di wilayah Lamsel setidaknya ada lima pembenih ikan air tawar, di antaranya di Kecamatan Penengahan, Palas dan Sragi. Jumlah kebutuhan benih ikan meningkat, seiring dengan permintaan ikan konsumsi, terutama jenis lele. Sementara, waktu budi daya ikan lele konsumsi maksimal mencapai tiga bulan. Rentang waktu singkat tersebut, sebutnya, tidak diimbangi ketersediaan benih.

Krismanto mengaku sudah berusaha mencari benih ke sejumlah pemilik usaha pembenihan. Namun, stok terbatas untuk kebutuhan pembudidaya ikan air tawar lain, membuat pembudidaya mencari alternatif ke wilayah lain.

Sistem budi daya ikan lele dengan kolam bulat dari terpal, kolam tanah serta kolam semen yang mulai dilirik masyarakat, membuat kebutuhan benih tinggi.

Kolam semen dengan ukur 4×2 meter, dan kolam bulat dengan terpal berdiameter 2 meter, membutuhkan benih rata-rata 2.000 hingga 5.000 ekor.

“Di Desa Pasuruan ini saja, sudah ada puluhan pembudidaya ikan lele dengan kebutuhan benih cukup banyak, tidak seimbang dengan ketersediaan benih, kalau pun ada harus memesan jauh hari saat ukuran benih sudah siap dibesarkan,” terang Krismanto, Senin (25/3//2019).

Krismanto juga menyebut, sebagian kolam miliknya belum terisi benih, menunggu pesanan dari kota Metro. Benih ikan lele jenis mutiara dibeli dengan ukuran 5-7 Cm, dengan harga Rp130 per ekor, atau untuk per seribu ekornya Rp130.000, belum termasuk biaya operasional untuk pengiriman benih. Ia berharap pembenih ikan lele di wilayah Lamsel bisa memenuhi kebutuhan bagi usaha pembesaran ikan lele di wilayah tersebut.

Khusus untuk jenis ikan nila dan gurami, Krismanto menyebut usia pembesaran yang cukup lama membuat kebutuhan tidak terlalu sulit. Benih ikan nila dengan harga Rp200 dan ikan gurami Rp2.000 usia dua bulan, baru bisa dipanen saat usia 7 hingga 12 bulan.

Masa pembesaran yang cukup lama membuat, ia menyelingi kegiatan tersebut dengan memelihara ikan lele. Jenis ikan lele yang paling diminati untuk dibesarkan oleh warga, di antaranya jenis ikan lele mutiara.

Sembari menunggu benih didatangkan dari wilayah Metro, Krismanto menerapkan penanganan air kolam. Penanganan air kolam dilakukan dengan mempergunakan batang pisang yang dicacah.

Cara tersebut dilakukan, agar air kolam yang akan dipergunakan memiliki kandungan plankton sebagai tambahan pakan ikan. Ikan lele dipelihara dengan pakan pelet ikan, serta sistem sirkulasi oksigen mempergunakan aerator. Khusus untuk ikan nila dan gurami, alternatif pakan bisa diberikan asupan daun pepaya, talas, daun ubi kayu serta daun ubi jalar.

Pembudidaya ikan air tawar lainnya, Sugeng Hariyono, menyebut sulitnya mencari benih ikan, terutama lele, sudah berlangsung satu tahun terakhir. Pasokan yang minim tersebut terjadi akibat semakin banyaknya usaha pembesaran ikan lele, salah satunya di Desa Pasuruan.

Ia menyebut, hingga Maret ini ada sekitar 60 warga yang membudidayakan ikan lele sistem kolam bulat memakai terpal. Setiap orang memiliki minimal dua kolam.

“Keberadaan usaha pembesaran ikan lele belum diimbangi jumlah pembenih ikan, sementara pembenih ikan terkendala jumlah indukan,” terang Sugeng Hariyono.

Bersama puluhan pemilik usaha pembesaran ikan di wilayah tersebut, Sugeng Hariyono bahkan saling bertukar ilmu. Kegiatan budi daya ikan bahkan sebagian sudah tergabung dalam kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan), sebagian melalukan budi daya sistem swadaya.

Dukungan sistem kemitraan yang dilakukan oleh Udin, salah satu warga dalam penyediaan fasilitas, penampungan hasil panen sekaligus ikut membantu kegiatan budi daya ikan di wilayah tersebut.

Kendala sulitnya memperoleh benih ikan, sebut Sugeng Hariyono, sudah menjadi wacana untuk membeli indukan. Indukan lele jenis mutiara bersertifikat saat ini diakuinya per paket dibeli seharga Rp1,2juta.

Satu paket indukan lele tersebut terdiri dari 5 ekor lele jantan serta 10 ekor lele betina. Bertambahnya indukan untuk usaha pembenihan, diharapkan bisa mengatasi sulitnya mencari benih ikan, terutama ikan lele bagi usaha pembesaran ikan lele.

Sugeng Hariyono juga menyebut, budi daya ikan lele sistem kolam terpal bulat terus dikembangkan, sebagai satu cara meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk budi daya ikan lele, nila dan gurami, sekaligus menjadi cara meningkatkan ketahanan masyarakat.

Selain bisa dijual untuk memasok kebutuhan usaha kuliner pecel lele dan warung makan, ikan yang dibudidayakan bisa digunakan memenuhi kebutuhan lauk keluarga.

Prospek usaha pembesaran ikan lele, diakuinya masih sangat tinggi dengan permintaan dominan dari usaha kuliner. Saat ini, ia menyebut ikan dibeli oleh pengepul dengan harga Rp17.000 per kilogram. Satu kilogram ikan berisi 8 hingga 9 ekor, kerap digunakan untuk usaha kuliner pecel lele.

Lihat juga...