Pendidikan Karakter dan Mimpi TK Primantari agar Terus Bersinar

Editor: Satmoko Budi Santoso

173

MAUMERE – Pagi itu cuaca mendung menyelimuti desa Langir, kecamatan Kangae, kabupaten Sikka. Gerimis pun sesekali turun membasahi tanah. Kondisi ini ternyata tidak menyurutkan semangat murid TK Primantari untuk ke sekolah mengenakan pakaian adat Sikka.

Murid lelaki mengenakan kemeja putih dan kain tenun ikat. Tak lupa ikat kepala dan selempang dari kain tenun dililitkan di pinggang. Murid perempuan terlihat cantik dengan balutan kain tenun dan baju Tengge berwarna cerah. Tak lupa gelang gading melingkar di kedua tangan.

TK yang berada dikelilingi kebun jagung di desa Langir kecamatan Kangae ini, didirikan 10 Juni tahun 2010. Jauh sebelum dana desa mengucur deras hingga merambah ke pelosok desa, aparat desanya sudah mendirikan sebuah sekolah dengan dana terbatas.

“Saya berinisiatif mendirikan sebuah sekolah TK yang bisa menampung anak-anak di desa kami. Dengan dana terbatas dan masyarakat secara swadaya ikut membantu, akhirnya sekolah ini bisa didirikan,” sebut Ignatius Iking, mantan kepala desa Langir, Minggu (17/3/2019).

Iking bercerita mengenai mimpi besarnya saat menjabat kepala desa untuk mempersiapkan sumber daya manusia desanya sejak dini. Ini yang membuat dirinya  memberi nama sekolah milik desa tersebut.

Primantari merupakan nama yang diadopsi dari kata prima dan mentari. Prima bermakna selalu menjadi yang pertama dan prima. Sementara mentari maknanya selalu bersinar untuk semua orang.

“Harapan dan mimpi besar kami, sekolah ini bisa selalu menjadi yang terdepan dan terus hidup serta bertahan mendidik anak-anak sejak usia dini. Nilai-nilai positif yang ditanamkan sejak dini tentu sangat bermanfaat nantinya,” ungkapnya.

Membagi Cinta

Ada yang berbeda ketika tiba di sekolah ini. Setiap guru menjelang jam masuk sekolah menunggu di depan pintu gerbang persis di depan jalan desa. Setiap murid yang datang disapa dengan kalimat “Selamat Pagi. Terima Kasih Sudah Datang ke Sekolah”.

Murid yang diantar dengan menumpang sepeda motor digendong dari sepeda motor dan diajak berjalan ke sekolah dengan didampingi orang tua atau wali murid. Murid pun terlihat bersemangat berjalan kaki dari depan gerbang menuju sekolah sejauh sekitar 20 meter.

“Setiap anak yang datang ke sekolah disambut oleh guru di depan pintu gerbang sekolah dengan sapaan positif. Jadi sejak awal pintu masuk, mereka sudah mengalami kedekatan dengan guru. Hari ini semua murid berpakaian adat dan karena kami ada pelajaran menari,” sebut kepala sekolah TK Primantari Ursula, Aries Udariyani, SPd,AUD.

Kepala Sekolah TK Primantari Langir Ursula, Aries Udariyani, SPd,AUD (tengah) bersama guru honor lainnya. Foto: Ebed de Rosary

Murid yang datang terlambat pun tidak ada guru yang marah dan tetap disambut dengan kalimat yang sama. Ini buah dari penerapan pendidikan karakter selama 4 tahun. Tidak ada lagi kata-kata negatif yang diucapkan. Bahasa-bahasa positif yang ditanamkan kepada murid.

Ini penting kata Yani sapaan karibnya, agar anak merasa dihargai. Semua anak adalah baik, anak bukan orang dewasa yang harus dikucilkan. Di TK Primantari, tidak ada kekerasan. Guru tidak boleh menyentuh bagian tubuh anak meskipun anak berbuat salah.

“Sebelum memulai pelajaran, kita ada pelajaran membagi cinta. Setiap anak mengucapkan kalimat, aku punya banyak cinta, cinta kepada ibu guru dan kepada teman. Semua disebutkan satu per satu nama guru dan temannya dan semua anak wajib melakukannya,” terangnya.

Dengan begitu kata Yani, di rumah juga anak-anak akan membagi cinta kepada anggota keluarganya serta kepada teman-temannya. Sebelum pulang sekolah juga, mereka harus menyelesaikan masalah.

Kalau ada yang marah dan berbuat hal yang tidak baik kepada temannya maka harus meminta maaf dan menyelesaikan masalahnya. Sebelum guru menanyakan biasanya anak-anak sendiri yang memberitahukan mereka ingin menyelesaikan masalahnya dengan temannya.

“Mereka akhirnya terbiasa mengatakan sendiri sedang bermasalah dengan temannya dan meminta maaf. Ini terbawa ketika di rumah pun mereka akan meminta maaf bila berbuat salah. Orang tua murid sering mengatakan kepada kami dan mereka bangga ada perubahan di diri anak mereka,” tuturnya.

Tanam Pendidikan Karakter

Meski berada di desa pinggiran kota Maumere, tak dinyana sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah yang menerapkan pola pendidikan karakter di kabupaten Sikka. Bahkan jenjang pendidikan SD sampai SMA pun hampir tidak ada yang menerapkannya.

Perubahan besar mulai terjadi di TK Primantari sejak tahun 2015. Seorang guru dan kepala sekolah diikutsertakan dalam pelatihan pembelajaran metode pendidikan karakter di Depok Jawa Barat. Semua biaya ditanggung PT. Pertamina Maumere dimana 28 guru TK dan PAUD di kecamatan Kangae dikirim belajar.

Setelah kembali pelatihan, rupanya hanya TK Primantari yang menerapkannya sendiri. Tantangan pun didapat sekolah ini diantaranya dari sekolah lain yang mencibir hingga pengawas sekolah dari dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) kabupaten Sikka yang melarang penerapan metode belajar ini.

“Saya katakan di pengawas bahwa sekolah kami tetap konsisten dengan metode pembelajaran ini sebab ada perubahan besar di diri murid. Orang tua murid semuanya mendukung apa yang kami terapkan,” ungkap Yani.

Yani mengaku, sekembali dari pelatihan dirinya bersama ibu Mery langsung sepakat menerapkan metode pembelajaran ini di TK Primantari. Dirinya pun ingin agar 3 guru lainnya bisa mendapatkan pelatihan namun biayanya mahal untuk sekolah milik desa.

Mery pun menjelaskan 9 pilar yang diajarkan di sekolah ini. Pilar pertama Cinta Tuhan dan Segenap Ciptaannya. Pihaknya mengajarkan tentang berdoa dan cara mencintai ciptaan Tuhan seperti hewan, alam dan lingkungannya.

Tiap hari Jumat diadakan akting dimana anak didik dipersilakan mempraktikkan apa yang diajarkan sebelumnya. Dalam seminggu pihaknya mengajarkan anak menjadi pendengar yang baik dan hari Jumat dipraktikkan.

“Misalnya kita adakan praktik cara membuat teh. Kalau anak jadi pendengar yang baik maka pasti bisa melaksanakannya kalau tidak maka dia tidak bisa, dan guru tidak boleh membantu. Nanti ditanyai kamu jadi pendengar yang baik atau tidak,” terangnya.

Anak pun tambah Mery, akan keluar dari kelompok dan berdiri di pinggir sambil melihat temannya mempraktikkannya lalu dia akan melakukannya. Jadi anak akan menyadari dia belum menjadi pendengar yang baik dan guru pun tidak boleh membantu.

Pilar kedua Mandiri, Disiplin dan Bertanggungjawab. Pekerjaan apapun di kelas dia kerjakan sendiri. Pilar ketiga, Jujur, Amanah dan Berkata Bijak. Untuk mengetes kejujuran, seorang guru disuruh berjalan di tengah kerumuman anak-anak dan sebagian menjatuhkan uang.

“Anak-anak pasti akan mengambil uangnya dan mengatakan, ibu guru uangnya ibu jatuh. Bijak berarti jangan berkata kasar kepada teman lainnya. Sementara Pilar keempat Pendengar yang Baik dan pilar kelima Dermawan serta Suka Menolong,” paparnya.

Dalam sekolah karakter kata Mery, murid dilarang meminta sebab anak dilatih untuk memberi. Misalnya dia ingin meminta kue teman maka dia harus memberi miliknya terlebih dahulu dan dengan demikian dia pun akan diberi.

Jadi hampir tidak ada lagi kata-kata dari anak yang meminta apa yang dimiliki temannya. Tetapi sang anak memberi apa yang dia miliki kepada teman lainnya terlebih dahulu

“Pilar keenam Percaya Diri, Kreatif dan Pantang Menyerah. Percaya diri, misalnya menyanyi di depan kelas, menjadi pemimpin upacara dan lainnya. Dan dia diajarkan untuk terus mencoba melakukan sesuatu sendiri hingga berhasil,” ujarnya.

Pilar ketujuh Pemimpin yang Baik. Mery contohkan, ada temannya yang jatuh dia menolong, ada teman yang menangis dia menenangkan. Pilar kedelapan Baik dan Rendah Hati.

Anak didik meski memiliki kelebihan dia tidak sombong. Misalnya anak sudah selesai mengerjakan pekerjaannya dia akan membantu teman lainnya. Jadi dia tidak menganggap diri hebat dan kadang mereka bawa mainan dari rumah, tetapi dia bermain bersama teman lainnya.

“Kalau pilar kesembilan Toleransi, kita mengajarkan anak didik menghormati perbedaan. Berbeda suku, etnis, golongan dan agama tetapi tetap saling mengasihi satu sama lain,” ungkap Mery.

Terus Melangkah

Segala kebaikan tentu ada saja tantangan. Adagium ini pun berlaku bagi TK Primantari Langir. Kesulitan utamanya, anak di sekolah hanya 2,5 jam saja sehingga harusnya di rumah juga menerapkan seperti yang didapat di sekolah.

Di SD pun kata Mery, pendidikan karakter tidak diteruskan bahkan hingga ke jenjang SMA. Pelatihan pun mahal dan pemerintah kabupaten serta provinsi juga tidak memberikan dukungan soal ini.

“Dari 28 orang guru TK dan PAUD yang dikirim belajar, hanya sekolah kami yang menerapkannya. Pengawas juga tidak setuju karena apa yang diajarkan di sekolah kami beda dari sekolah lainnya, padahal kami mempergunakan kurikulum K13,” tegasnya.

Dalam pertemuan dengan orang tua murid tambah Yani, selaku kepala sekolah, semuanya sangat mendukung pembelajaran karakter yang dilakukan sebab ada perubahan perilaku di anak-anak mereka.

Anastia Anarista, salah seorang wali murid mengaku, menyekolahkan anaknya di sekolah ini meski berbeda desa. Dirinya tertarik karena metode pembelajarannya bagus untuk pengembangan karakter anak.

Para orang tua murid juga setiap Jumat, sebutnya, ikut senam kreatif di sekolah sehingga bisa terjalin keakraban. Dirinya berharap sekolah ini semakin maju agar semakin banyak anak-anak yang dididk di sini.

“Anak-anak juga diajarkan tarian tradisonal dan menyanyikan lagu-lagu tradisional. Sejak dini anak-anak diperkenalkan dengan adat dan budaya sehingga sangat positif sekali,” sebutnya.

Maria Ati, wali murid lainnya pun ikut berkomentar. Dirinya sepakat sejak dini karakter anak harus dibentuk. Sebagai orang tua yang minim pendidikan, dirinya berharap anak-anaknya kelak bisa menjadi orang yang sukses dan memiliki karakter baik.

Harapan ini pun tentunya menjadi daya dorong bagi TK Primantari Langir. Yani sang kepala sekolah memiliki mimpi dan berusaha mencari bantuan dana guna membiayai 3 guru lainnya untuk ikut pelatihan. Biayanya sebesar Rp8 juta per orang.

Dengan polos dirinya akui, bila menilai pencapaian yang telah diraih lewat penerapan pendidikan karakter, Yani katakan telah berada di kisaran level angka 7 dan masih 3 angka lagi untuk mencapai puncak.

“Tentunya ini menjadi tugas semua bukan hanya pendidik tetapi wali murid dan pemerintah desa selaku pemilik sekolah. Kami hanya miliki 2 ruang kelas yang memadai sehingga masih perlu dana untuk membangun 2 ruang kelas lagi,” pungkasnya.

Apa yang disaksikan Cendana News di sekolah tersebut pun sungguh menjadi sebuah nilai tambah yang harusnya diterapkan di sekolah lainnya. Mengenakan pakaian adat, anak murid juga berlatih menari tradisional.

Walaupun 4 guru honor lainnya hanya digaji Rp600 ribu sebulan bahkan kurang tergantung dari pembayaran iuran dari wali murid, tapi semangat mereka mengajar patut diacungi jempol. Gaji bukan halangan untuk mencerdaskan anak bangsa.

Benih yang ditanam di tanah yang subur tentunya menghasilkan buah yang melimpah. Kita berharap benih yang ditanam di TK Primantari bisa menghasilkan buah yang bagus dan tentunya ini sebuah investasi jangka panjang.

Baca Juga
Lihat juga...