Penyakit Akibatkan Kerugian Pembudidaya Udang Windu dan Vaname

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah pemilik usaha tambak udang windu (Penaeus monodon) sistem tradisional di Lampung Selatan (Lamsel) mengalami kerugian akibat penyakit white spot syndrom (WSS) atau virus bintik putih.

Luah, salah satu pemilik lahan tambak satu petak dengan luas dua hektare menyebut, penyakit WSS mengakibatkan udang usia tiga bulan miliknya mengalami penurunan hasil panen. Penyakit virus bintik putih diakuinya berimbas sebagian besar udang miliknya tidak bisa dipanen karena mati.

Udang windu atau giant tiger disebutnya mulai terkena virus white spot syndrom menyerang akibat mengalami stres. Stres pada udang windu diduga terjadi karena sirkulasi air pada tambak kurang teratur pascapanas melanda, selanjutnya turun hujan di wilayah tersebut.

Temperatur air pada lahan tambak mengakibatkan udang mengalami penyakit bintik putih. Pada proses awal organ yang terkena penyakit adalah lambung, insang berimbas udang tidak memiliki nafsu makan.

Luah, salah satu pemilik tambak udang windu di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan menunggu proses pengurasan tambak – Foto: Henk Widi

Penyakit WSS diakui Luah, membuat ia segera melakukan proses pengurasan pada lahan tambak. Pengurasan bertujuan untuk menyelamatkan sejumlah udang windu yang belum terkena penyakit WSS.

Sesudah dilakukan proses pengurasan air tambak, proses pemanenan bisa dilakukan.

Pada kondisi normal ia menyebut, pada petak seluas dua hektare dengan tebaran benur sekitar 29.000 bisa dipanen sekitar 400 kilogram atau 4 kuintal. Namun akibat penyakit WSS hasil panen berkurang sangat besar.

“Hasil panen udang windu yang masih bisa diselamatkan hanya sekitar enam puluh kilogram atau hanya setengah kuintal karena udang windu yang saya budidayakan mati dengan ciri-ciri warna menjadi orange,” terang Luah, salah satu pemilik tambak udang di Desa Bandar Agung, Selasa (12/3/2019).

Udang windu yang bisa dipanen saat usia sekitar 3 bulan disebutnya pada kondisi normal sangat menjanjikan. Harga udang windu yang lebih tinggi dibanding udang vaname dengan harga per kilogram mencapai Rp105.000.

Pada kondisi normal dengan harga stabil dan hasil panen sekitar 400 kilogram ia menyebut, bisa mendapatkan hasil sebesar Rp40 juta lebih sekali panen. Namun karena penyakit WSS ia hanya mendapatkan hasil sekitar Rp 6,3 juta.

Meski mengalami kerugian ia menyebut, budidaya udang windu masih tetap akan dilakukan. Sebab sistem polikultur budidaya udang windu dilakukan selama 90 hari dengan memelihara ikan bandeng.

Ia menyebut, meski mengalami kerugian akibat udang terkena penyakit bintik putih, namun masih bisa memanen sekitar satu kuintal ikan bandeng. Ikan bandeng yang diperoleh dari lahan tambak disebutnya dijual ke pengepul dengan harga Rp12.000 per kilogram.

Proses pengurasan lahan tambak diakuinya segera dilakukan agar virus penyebab penyakit WSS bisa terputus. Setelah proses pengurasan air tambak selanjutnya dilakukan proses pengeringan, perbaikan pematang tambak yang bocor, pengangkatan lumpur dan pemberantasan hama dengan obat khusus.

Penggunaan dolomit atau zat kapur diakuinya dilakukan untuk menetralkan keasaman air terutama saat musim penghujan agar penyakit udang bisa berkurang.

Petambak lain bernama Nurdiono, pemilik tambak udang putih (vaname) mengaku, udang vaname juga rentan penyakit. Selain WSS penyakit yang dikhawatirkan disebutnya berupa penyakit Myo atau Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV).

Nurdiono, salah satu pemilik tambak udang vaname di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Penyakit tersebut terjadi akibat penurunan kualitas air atau tidak stabilnya kualitas air media budidaya terutama perubahan suhu.

Sama seperti penyebab penyakit WSS atau bintik putih, perubahan dari musim panas ke hujan kerap membawa kerugian.

Sama seperti pada penyakit WSS, penyakit Myo bisa berimbas penurunan produksi pada budidaya udang vaname.

Ia menyebut dengan kondisi normal ia masih bisa memanen sekitar 3 kuintal namun akibat penyakit myo bisa hanya mendapatkan panen sekitar 100 kilogram bahkan tidak panen sama sekali.

Udang vaname yang bisa dipanen saat usia tiga bulan disebutnya saat ini dijual dengan harga Rp53.000 per kilogram. Padahal sebelumnya udang vaname bisa dijual dengan harga Rp70.000 hingga Rp80.000 per kilogram.

“Penyakit pada udang Windu maupun Vaname umumnya karena perubahan suhu, pengaturan sirkulasi air yang tidak sempurna,” beber Nurdiono.

Nurdiono menyebut, kerugian berupa penurunan produksi budidaya udang membuat sejumlah petani memilih berhenti operasi. Sebagian memilih mengontrakkan lahan tambak dengan biaya kontrak sekitar Rp100 juta untuk beberapa kali budidaya.

Meski demikian, sejumlah petambak mulai mengikuti Asuransi Usaha Budidaya Udang (AUBU). Keikutsertaan asuransi tersebut diakuinya bisa ikut menekan kerugian saat petambak gagal panen akibat penyakit.

Lihat juga...