Perajin Genting Tradisional Godean Hadapi Banyak Kendala

Editor: Mahadeva

YOGYAKARTA – Pelaku industri kecil kerajinan genting di kawasan Godean, Sleman menghadaii banyak kendala dalam berusaha.

Hal itu membuat mereka, berharap perhatian, pendampingan sekaligus perlindungan dari pemerintah setempat. Perhatian dibutuhkan, di tengah persaingan pelaku usaha genting modern, yang turut menggerus industri genting tradisional berbahan tanah.

Suroto, Ketua Asosisasi UKM Kerajinan Genting Godean, Sleman Sembada Manunggal – Foto: Jatmika H Kusmargana

Ketua Asosiasi UKM Genting Godean, Sleman Sembada Manunggal, Suroto, mengatakan, kawasan Godean merupakan pusat industri kecil kerajinan genting di Yogyakarta. Keberadaanya sudah sejak lama. Di kawasaan tersebut, tercatat ada ribuan warga yang menggantungkan hidupnya dari usaha pembuatan genting. Namun sejak beberapa waktu terakhir, tidak sedikit yang terpaksa harus menutup usaha.

Persaingan tidak sehat, membuat mereka kalah bersaing dengan usaha genting modern. “Sekitar tahun 2006 lalu, jumlah pengrajin genting di wilayah Godean ini tercatat masih ada 1.000 UKM lebih. Tersebar di sejumlah desa seperti Sidorejo, Sidoagung, Sidoluhur, Margoluwih, dan Margoadi. Namun saat ini jumlahnya merosot. Tinggal sekitar 600 hingga 700 UKM saja,” ujarnya Selasa (26/03/2019).

Kendala yang dihadapi diantaranya, semakin minimnya ketersediaan bahan baku, hingga adanya persaingan tidak sehat antar perajin, dan pengepul. Hal itu mengakibatkan banyaknya pelaku UKM genting di Godean gulung tikar.

Padahal industri kecil tersebut, mampu berkontribusi untuk mengurangi angka pengangguran. “Kita terkendala bahan baku yang saat ini semakin sulit didapatkan. Karena lokasi pengambilan bahan bahan baku berupa tanah sawah saat ini sudah semakin habis, karena banyak didirikan perumahan,” jelasnya.

Persaingan tidak sehat yang dialami adalah, banyak pembuat genting dari luar daerah yang merebut pasar dengan mengatasnamakan genting Godean. “Banyak konsumen genting Godean tertipu. Baik dari harga maupun kualitas,” katanya.

Suroto menyebut, pengepul dan pedagang dari luar Godean biasa menjual genting dengan harga Rp700 hingga Rp800 per biji. Harganya, Jauh dibawah harga standar genting Godean yang mencapai Rp1.300 per biji.

Sementara dari sisi kualitas, genting dari luar Godean masih jauh dari produk genting asal Godean. “Kita mendukung penuh program pemerintah dalam membantu para pelaku UKM, seperti adanya bantuan modal dan lain sebagianya. Disamping itu kita juga berharap agar pemerintah dapat membantu perajin dalam hal penyediaan bahan baku serta pengaturan standar harga demi kebaikan bersama,” pungkasnya.

Lihat juga...