Peran Pak Harto di SO 1 Maret Luar Biasa Besar dan Tidak Bisa Diabaikan

Editor: Mahadeva

Sejarawan UGM Julianto Ibrahim – Foto Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Peristiwa sejarah Serangan Umum 1 Maret (SO 1 Maret) tidak bisa dilepaskan dari sosok  Letkol Soeharto. Sebagai Komandan Wehrkreise III Yogyakarta, Lektol Suharto memiliki peran strategis memimpin sekaligus mengkoordinasi pasukan dan laskar-laskar pejuang dalam persitiwa tersebut. 

Sejarawan UGM, Julianto Ibrahim, menyebut, peranan Letkol Soeharto dalam SO 1 Maret luar biasa besar dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Meski yang menjadi penggagas serangan adalah Sri Sultan HB IX, namun pelaksanaan serangan tersebut dan dilakukan langsung oleh Letkol Soeharto.

“Peranan Pak Harto luar biasa besar. Persiapan pelaksanaan dan lain-lain, dilakukan oleh Pak Harto. Setelah melakukan pertemuan dengan Sultan pada 13 Februari 1949, Pak Harto kemudian melakukan persiapan-persiapan serangan, yang untuk kali pertama dilakukan pada siang hari,” ungkapnya.

Julianto menyebut, persiapan serangan yang dilakukan Letkol Soeharto diantaranya adalah, mengkoordinasikan pasukan TNI maupun laskar-laskar pejuang, yang tersebar di pos-pos di berbagai daerah.

Menyiapkan senjata rampasan, untuk melakukan serangan, hingga menyiapkan dapur-dapur umum. “Saat itu juga dipersiapkan kode sandi, berupa janur kuning atau kata-kata pekikan ‘Mataram Menang’. Ini sebagai tanda antar tiap pasukan, agar serangan tidak bocor ke pihak Belanda,” jelasnya.

Menggordinasikan serangan serentak yang dilakukan secara bersamaan dari empat penjuru arah, bukan hal yang mudah dilakukan. Terlebih, pasukan TNI dan laskar-laskar pejuang yang jumlahnya diperkirakan mencapai 2.000 orang lebih, tersebar di berbagai wilayah seperti Bantul, Sleman, Kulonprogo hingga Gunungkidul atau di luar Kota Yogyakarta.

“Komunikasi yang dilakukan saat ini lebih banyak menggunakan kurir informasi. Wanita pedagang pasar atau pengumpul beras dimanfaatkan sebagai penyambung informasi. Termasuk anggota PMI. Mereka biasa bertukar informasi di warung-warung makan, terkait serangan-serangan di luar dan di dalam kota,” tambahnya.

Menurut penelitian yang dilakukan Julianto, penyampaian informasi melalui kurir dilakukan secara berantai. Di setiap titik wilayah, terdapat satu orang kurir informasi. Sehingga informasi disampaikan secara sambung menyambung, dari wilayah di dalam Kota Yogyakarta, hingga ke pos-pos persembunyian pejuang di luar pedesaan maupun sebaliknya.

“Jadi tiap empat kilometer atau berapa itu, ada kurir. Sehingga secara berantai informasi disampaikan. Sebenarnya saat itu alat komunikasi seperti radio sudah ada. Tapi memang sangat terbatas. Sehingga komunikasi melalui kurir informasi ini yang paling efektif dan paling sering digunakan,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, peristiwa Serangan Umum 1 Maret lekat dengan tiga sosok penting, yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Panglima Besar Jendral Soedirman, dan Letkol Soeharto. Dari tiga tokoh tersebut, satu-satunya yang berada di medan pertempuran saat peristiwa Serangan Umum 1 Maret terjadi hanyalah Letkol Soeharto.

Sri Sultan HB IX yang merupakan Raja Kraton Yogyakarta, yang saat itu sedang ditetapkan sebagai tahanan rumah oleh Belanda. HB IX dilarang keluar dari lingkungan Kraton Yogyakarta. Sementara Panglima Jendral Soedirman, sedang sakit dan terus diburu pihak Belanda. Beliau berada di pos persembunyian di luar Kota Yogyakarta untuk memimpin perang gerilya.

Lihat juga...