Program Transmigrasi Era Soeharto Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Editor: Koko Triarko

489

JAKARTA – Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto), didampingi adiknya, Siti Hediati Haryadi (Titik  Soeharto) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek Soeharto), menghadiri Musyawarah Nasional IV Perhimpunan Anak Transmigrasi Republik Indonesia (PATRI).

Acara bertajuk “Dengan Munas IV PATRI Kita Tingkatkan Peran PATRI dalam Merekatkan NKRI, Pembangunan Perdesaan dan Transmigrasi Menuju Indonesia Berdaulat”, digelar di Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Kesenian tradisional menyambut kedatangan ketiga putri Cendana ini. Anggota PATRI dari seluruh Indonesia, pun menyambut sangat antusias.

Putri sulung Presiden kedua RI, HM Soeharto, ini didaulat sebagai pembicara.  Mengawali sambutannya, Tutut Soeharto menghaturkan puji syukur kepada Allah SWT, karena bisa bersilaturahmi dengan PATRI pada musyawarah nasional ini.

Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) memberikan sambutan pada Munas IV PATRI di Desa Wisata TMII, Jakarta, Rabu (13/3/2019). -Foto: Ist.

“Selamat datang anggota PATRI dari seluruh Indonesia. Mudah-mudahan hasil kegiatan ini memberikan kemajuan bagi bangsa dan negara,” katanya.

Tutut Soeharto berharap, agar anggota PATRI juga dapat menikmati keindahan TMII yang dahulu dibangun oleh almarhumah ibunda tercinta, Ibu Siti Hartinah Soeharto.

“Almarhumah Ibu saya, sangat ingin sekali menunjukkan pada semua masyarakat Indonesia dapat ke TMII. Karena kalau satu per satu didatangi, tiketnya mahal. Jadi, cukup ke TMII, sudah bisa keliling Indonesia,” ucapnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Mantan Menteri Sosial Republik Indonesia pada Kabinet Pembangunan VII ini, selanjutnya bicara tentang tujuan transmigrasi di era Presiden kedua RI, HM Soeharto.

Di antaranya, untuk  meningkatkan taraf hidup, meningkatkan pembangunan daerah luar Jawa, melaksanakan pemerataan pembangunan, serta  memanfaatkan sumberdaya alam dan tenaga manusia.

“Meningkatkan taraf hidup rakyat Indonesia, merupakan salah satu fokus Pak Harto, sejak dulu,” tegas Putri sulung Presiden Soeharto ini.

Terkait taraf hidup, Tutut Soeharto menjelaskan, karena pada 1970an, pada Pelita I, Pak Harto melihat petani yang jumlahnya belasan juta itu mempunyai lahan yang sangat kecil. Sehingga tidak bisa diolah maksimal untuk meningkatkan kemakmuran dan taraf hidup mereka.

“Itu masalahnya sangat rumit, tapi Pak Harto punya pemikiran untuk sejahterakan rakyat. Yakni, di antaranya dengan membentuk koperasi dan transmigrasi,” jelasnya.

Transmigrasi ini mengajak masyarakat untuk menempati daerah lain, yang lahannya masih bisa digarap. Karena di Jawa ini sudah padat sekali. Sehingga tanah yang dimiliki petani sangat kecil.

Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto), Siti Hediati Haryadi (Titiek Soeharto) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek Soeharto) berfoto bersama anggota PATRI pada Munas IV PATRI di Desa Wisata TMII, Jakarta, Rabu (13/3/2019). -Foto: Sri Sugiarti

Ketika masyarakat pindah ke daerah lain melakukan transmigrasi, mereka mendapatkan tanah yang luas. “Kalau tidak salah, satu Kartu Keluarga (KK)  dapat dua hektare. Itu sudah hak milik. Jauh sekali bedanya,” ujarnya.

Meskipun kendalanya banyak, tapi banyak sekali masyarakat, khususnya dari Jawa yang ikut transmigrasi dengan suka rela, dan tidak pernah dipaksa.

Tutut Soeharto menyebut, mereka para transmigran adalah pahlawan tanpa nama. Karena mereka mau mempertahankan hidupnya di daerah yang belum diketahuinya.

“Pahlawan tanpa nama. Ya, karena mereka berani berjuang untuk mengubah hidup di tempat yang tak dikenalnya. Tidak kenal tetangga, dan tidak menguasai daerahnya, tapi siap dipindahkan. Ini sangat luar biasa sekali,” tukasnya.

Sekarang ini, menurutnya, tugas putra-putri untuk melanjutkan perjuangan orang tua yang secara suka rela mau bertanggungjawab untuk ditempatkan di tempat lain.

Yakni, dengan datangnya transmigran, maka daerah itu menjadi lebih bernilai, karena lahan sukses diolah. Sehingga kemajuan-kemajuan juga dapat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan mereka.

Selain itu, tegas Tutut Soeharto, salah satu tujuan program transmigrasi adalah memperkukuh kesatuan bangsa. Karena berbagai suku, budaya, agama, dan golongan dapat disatukan dalam suatu tempat. Sehingga mereka saling mengenal keragaman budaya Indonesia.

“Transmigrasi ini perekat persatuan bangsa. Ya, karena dari Jawa pindah ke tempat lain, suku bangsa lain, dan itu akan menjadi tidak ada lagi perbedaan. Semuanya satu bangsa Indonesia. Tidak ada bangsa lain dan tidak ada negara lain. Semua menyatu dalam bingkai   Pancasila dan UUD 1945,” tegasnya.

Terpenting lagi, tambahnya, transmigrasi ini bertujuan untuk memperkuat pertahanan nasional. Mengingat para transmigran di perbatasan senantiasa menjaga negara Indonesia dari ancaman negara luar yang ingin menguasai Indonesia.

“Insyaallah para transmigran akan mempertahankan Indonesia dengan sebaik-baiknya. Saya yakin, itu semua sudah dimiliki oleh transmigran di seluruh Indonesia,” ucapnya.

Istri Indra Rukmana ini mengapresiasi konsistensi para transmigran dalam mengembangkan wilayahnya masing-masing. Hingga taraf hidup mereka pun meningkat.

Pada kesempatan ini, Tutut Soeharto berkisah akan pesan Ibu Tien Soeharto pada dirinya. Yakni, agar setiap masyarakat dapat mengabdi kepada bangsa dan negara, walaupun dengan hal kecil.

“Ibu pesan pada saya, kalau mengabdi itu tidak harus yang besar-besar. Yang kecil pun bisa kita lakukan untuk mengabdi pada negara. Jadikanlah yang kecil itu bagian pembangunan bangsa. Kalau kecil bisa kamu lakukan, Insyaallah yang besar juga bisa dilakukan,” ujar Tutut Soeharto, menirukan pesan Ibu Negara, Tien Soeharto, kala itu.

Jadi, menurutnya, potensi perubahan ini semuanya bisa dilakukan dengan hal kecil untuk dikaryakan. Kalau putra-putri transmigran ini ingin mengembangkan wilayah transmigran saja, banyak yang ingin dikembangkan.

“Tidak perlu kita mengembangkan proyek besar, cukup proyek kecil saja. Karena saya teringat dengan nasihat Ibu saya, ‘kalau kamu ingin berbuat sesuatu pada bangsa dan negara, ingin mengabdi, mengabdilah yang benar,” tambahnya.

Pada kesempatan ini, Tutut Soeharto juga mengajak anggota PATRI untuk mewujudkan Desa Mandiri Pangan dan Energi di setiap wilayahnya. Jika program ini dijalankan, maka dampak kesenjangan nasional akan berkurang.

Diharapkan, kehidupan seluruh rakyat Indonesia adil, makmur dan sejahtera.

Kesenjangan, kata Tutut Soeharto, harus dikurangi dengan melakukan sesuatu untuk bangsa Indonesia. Pemerataan pembangunan harus lebih didorong lagi. Meskipun ini memang kebanyakan tugas pemerintah.

“Tugas kita adalah membuat daerah transmigrasi menjadi daerah yang memiliki kedaulatan energi dan pangan,” tegasnya.

Menurutnya, jika hal ini sudah bisa dilakukan, diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Terlebih lagi kalau dilakukan secara berkesinambungan ke daerah-daerah lain.

“Jika program Desa Mandiri Pangan dan Energi ini dilakukan, kita akan mengurangi ketergantungan energi dan pangan secara nasional. Kita buat biogas dari kotoran hewan. Biogas ini untuk penerangan dan memasak. Semua bisa dilakukan sendiri. Alat yang kecil bisa mengubah sesuatu yang luar biasa. Ini memacu perkembangan daerah transmigrasi,” jelasnya.

Tutut Soeharto berharap, dari  transmigrasi ini bisa menularkan ke daerah lain. Masyarakat juga tidak terbebani membeli pangan, jika daerah tersebut sudah dapat mandiri.

Saung Berkarya dengan program pertanian dan peternakan terpadu, sebagai percontohan akan dikembangkan di daerah lain. “Dan, kami sudah perkenalkan di daerah-daerah lain. Harapannya di wilayah transmigrasi juga terwujud Desa Mandiri Pangan dan Energi,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...