Sikka Lima Besar Wilayah Rawan Narkoba di NTT

Editor: Koko Triarko

235

MAUMERE – Sebagai sebuah daerah yang berkembang dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Kabupaten Sikka, khususnya Kota Maumere, menjadi daerah yang rawan peredaran narkoba. Beberapa kasus narkoba pun ditangani Polres Sikka, melibatkan berbagai pihak, termasuk kalangan terpelajar.

“Hasil penelitian antara BNN dan UI pada 2017 memperlihatkan, prevelensi penyalahgunaan narkoba secara nasional sebesar 1,77 persen, atau setara dengan jumlah 3.376.115 penduduk Indonesia usia 15 sampai 59 tahun,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi NTT, Brigjen Pol. Teguh Imam Wahyudi, Jumat (15/3/2019).

Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga (kiri) dan Kepala BNN Provinsi NTT, Brigjen Pol. Teguh Imam Wahyudi. -Foto: Ebed de Rosary

Menurut Teguh, jumlah penyalahgunaan narkoba tersebar ke seluruh lapisan masarakat, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, masyarakat, termasuk lingkungan kerja, baik pemerintah maupun swasta. Artinya, tidak satu pun wilayah kabupaten/kota di Indonesia, yang terbebas dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

“Di tingkat provinsi NTT, prevalensi penyalahgunaan narkoba mencapai 0.99 persen. Ini setara 36.022 orang penduduk NTT usia 10 sampai 59 tahun, dan tersebar di seluruh kabupaten, tanpa kecuali di Kabupaten Sikka,” tuturnya.

Berdasarkan hasil pemetaan kawasan rawan narkoba pada 2019, tandas Teguh, Kabupaten Sikka masuk dalam lima besar kawasan rawan narkoba di NTT, dengan kategori kerawanan tingkat waspada. Tren perkembangan masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba dewasa ini menunjukkan peningkatan yang signifikan.

“Kasusnya seperti gunung es yang mencuat ke permukaan laut, sedangkan bagian terbesar di bawahnya tidak tampak. Untuk itu, diadakan kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika (P4GN), dan Prekursor Narkotika bagi pegiat antinarkoba di lingkungan instansi pemerintah kabupaten Sikka,” terangnya.

Teguh juga mengajak semua elemen untuk peduli terhadap keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing. Hal ini penting, mengingat ancaman bahaya narkoba dan sidikasinya terus mengincar prestasi kerja setiap orang, setiap saat.

“Kewaspadaan akan bahaya narkoba harus terus digemakan melalui slogan stop narkoba, kembangkan pola hidup sehat dan ciptakan lingkungan yang bersih dari penyalahgunaan narkoba,” imbaunya.

Bahaya narkoba di NTT, sambung Teguh, sudah menjadi sasaran dikarenakan banyaknya pulau-pulau di NTT. Ini menjadi pintu masuk transaksi narkoba, karena itu harus menjadi perhatian, membangun kerja sama dan sinergitas untuk memberantas barang haram ini.

Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga, menekankan pihaknya serius memberantas peredaran dan penggunaan narkoba di wilayahnya. Pemda Sikka juga akan melakukan tes urine kepada segenap Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di lingkup Pemda Sikka.

“Ke depan, di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) perlu dilakukan tes urine, sehingga dipastikan para ASN di Sikka seratus persen bebas narkoba. Perlu adanya pemahaman bersama untuk pemberantasan narkoba di Nian Tana Sikka,” tegasnya.

Romanus prihatin, karena Maumere dan kabupaten Sikka ternyata masuk dalam lima besar wilayah rawan narkoba. Karena itu, Pemda Sikka akan mendukung dengan segala daya dan upaya, agar mampu memberantas narkoba.

“Kita akan menghibahkan tanah seluas seribu meter persegi di Jalan Wairklau Maumere, untuk menjadi Kantor BNN kabupaten Sikka. Ini bukti nyata Pemda Sikka peduli dan serius untuk memberantas narkoba,” pungkasnya.

Lihat juga...