hut

Simulasi Pemungutan Suara, Beri Layanan Lebih Baik Pemilih Difabel

YOGYAKARTA – Badan Pengawas Pemilu Kota Yogyakarta memberikan sejumlah catatan terhadap pelaksanaan simulasi pemungutan suara yang digelar KPU setempat, di antaranya mengingatkan KPPS untuk memberikan pelayanan lebih baik ke pemilih penyandang disabilitas.

“Dari simulasi yang digelar, banyak pemilih dari warga lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas yang tampak mengalami kesulitan saat akan mencoblos sehingga perlu perhatian lebih banyak dari Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang bertugas,” kata Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Yogyakarta, Noor Harsya Aryo Samudro di Yogyakarta, Minggu.

Kesulitan yang dialami pemilih lansia dan penyandang disabilitas di antaranya, saat membuka dan melipat kembali surat suara karena ukurannya cukup besar, serta menentukan pilihan untuk surat suara DPR RI, DPRD DIY, dan DPRD Kota Yogyakarta karena ukuran huruf untuk nama calon anggota legislatif (caleg) tidak terlalu besar sehingga sulit terbaca.

Oleh karena itu, lanjut Harsya, dari simulasi yang dilakukan terlihat beberapa pemilih lansia dan disabilitas yang memilih untuk tidak membuka surat suara legislatif dan hanya memberikan suara untuk pemilihan presiden-wakil presiden serta surat suara DPD.

“Apabila ada pemilih lansia dan disabilitas yang masuk TPS, maka KPPS yang bertugas harus memastikan sejak awal dengan menanyakan apakah pemilih membutuhkan pendampingan atau tidak. Dengan demikian, pemilih tidak akan kesulitan saat berada di bilik suara,” tuturnya.

Sedangkan untuk penempatan atau pengaturan TPS, Harsya mengatakan sudah cukup baik meskipun pada awalnya jarak antara bilik satu dengan yang lain cukup dekat sehingga pemilih bisa mengintip pilihan dari pemilih lain.

Sementara itu, salah satu warga penyandang disabilitas yang mengikuti simulasi, Widi mengatakan sempat mengalami kesulitan saat akan masuk ke TPS.

“Ram yang dibuat untuk kursi roda masih cukup curam sehingga saya kesulitan saat masuk TPS,” ucapnya.

Namun demikian, ia mengatakan tidak mengalami kesulitan saat memberikan suara meskipun surat suara berukuran cukup besar. “Butuh waktu sekitar tiga sampai lima menit untuk memberikan suara,” ungkapnya.

Sedangkan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta, Hidayat Widodo, mengatakan, waktu yang dibutuhkan tiap pemilih untuk memberikan suaranya berbeda-beda.

“Paling cepat adalah pemilih pemula. Mereka rata-rata membutuhkan waktu dua sampai tiga menit. Sedangkan pemilih dari lansia membutuhkan waktu empat hingga lima menit dan pemilih disabilitas membutuhkan waktu lima sampai enam menit,” ujarnya.

Saat simulasi, pemilih dari penyandang disabilitas juga didampingi oleh keluarga, tetapi ada pula yang bisa melakukannya secara mandiri.

Simulasi pemungutan suara yang digelar di “Dalem Benawan” tersebut diikuti sekitar 100 pemilih yang mewakili kondisi pemilih di TPS, dimulai dari pemilih pemula, lansia, dan disabilitas. Pada saat Pemilu 2019, di Kota Yogyakarta terdapat 1.373 TPS dengan jumlah pemilih maksimal sekitar 290 orang per TPS.

“Tujuannya adalah memberikan gambaran kepada KPPS tentang suasana TPS saat Pemilu 2019 digelar. Ini semacam bimbingan teknis praktis. Nantinya, tiap kecamatan agar menggelar simulasi serupa,” imbuhnya.

Sedangkan untuk proses penghitungan suara, Hidayat mengatakan, KPPS diminta benar-benar cermat dalam menuliskan hasil penghitungan suara sehingga catatan di plano dan salinan KPPS harus benar-benar sama.

“Yang nantinya menjadi acuan adalah hasil penghitungan di plano. Pencatatan harus benar-benar cermat. Surat suara yang digunakan harus benar-benar sama dengan hasil penghitungan suara,” katanya. (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!