Stasiun Naras di Pariaman Kembali Beroperasi

Editor: Koko Triarko

PARIAMAN – Stasiun Naras yang berdiri sejak 1 Januari 1911, di Nagari Padang Birik-birik, Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumatra Barat, kembali beroperasi bulan ini. Stasiun yang menjadi bagian dari sejarah Indonesia ini pun diresmikan oleh Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi, Jumat (22/3/2019). 

Stasiun Naras beroperasi cukup lama, 87 tahun, terhitung sejak 1 Januari 1911 dan tutup pada 1998. Dahulu, stasiun ini pernah melayani angkutan barang CPO. Dkarekan tutup pada 1998, angkutan barang pun dihentikan.

Namun setelah 21 tahun lamanya tutup, saat ini Stasiun Naras pun dioperasikan kembali pada Maret 2019. Beroperasinya stasiun ini setelah dilakukannya sejumlah perbaikan rel, jembatan, dan beberapa infrastruktur lainnya.

Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi, didampingi oleh Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno, saat memberikan keterangan pers usai meresmikan pengoperasian Stasiun Naras Kota Pariaman/ Foto: M. Noli Hendra

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan RI, Zulfikri, mengatakan, memfungsikan kembali Stasiun Naras, menghabiskan anggaran Rp54 miliar, yang bersumber dari APBN. Pengerjaannya sudah dimulai sejak 2015.

Dana itu digunakan untuk mengganti rel dari R25 menjadi R54, pergantian ban dalam beton sepanjang 6,7 meter, peningkatan persinyalan, peningkatan fasilitas persinyalan, dan melakukan pembangunan 11 jembatan sebagai jalur untuk beroperasinya kereta api.

Ia menyebutkan, dengan telah beroperasinya segmen Stasiun Naras ini, merupakan bagian dari program pemerintah untuk mereaktivasi jalur kereta api di Indonesia sepanjang 213 km. Sejauh ini, jalur kereta api yang telah direaktivasi di Sumatra Barat mencapai 27 km, yang pertama di Stasiun Kayutanam, dan kedua di Stasiun Naras.

“Kalau untuk wilayah Sumatra Barat, masih ada 304 km lagi yang belum melakukan reaktivasi jalur kereta api. Kalau yang telah direaktivasi, totalnya 72 km. Rencana dari Kemenhub ke depan akan dilakukan reaktivasi jalur Padang – Bukittinggi,” katanya, di Pariaman, Jumat (22/3/2019).

Zulfikri menjelaskan, dengan telah beroperasinya kereta api segmen Stasisun Naras Pariaman ini, maka akan saling terintegrasi dengan stasiun lainnya. Seperti Stasiun Lubuk Alung, Kayutanam dan Stasiun di Padang. Masyarakat dari Stasiun Naras bisa menggunakan kereta api untuk menuju Bandara Internasional Minangkabau, dengan cara menuju Stasiun Kayutanam.

“Kereta api yang berfungsi nantinya di Stasiun Naras ini ialah KA Sibinuang. Untuk KA Sibinuang mulai dari Stasiun Padang – Stasiun Tabing – Duku – Lubuk Alung – Pauh Kambar – Kurai Taji – Pariaman, dan sampailah di Stasiun Naras. Sedangkan untuk KA Lembah Anai, akan menambah rute menuju Stasiun BIM, karena terintegritas dengan KA Minangkabau Ekpsres,” ujarnya.

Ia juga menyatakan, dengan adanya rute baru ini, angkutan untuk KA Sibinuang, KA Lembah Anai, dan KA Minangkabau Ekspres tidak mengalami perubahan. Hanya saja, bila dari Stasiun Naras munuju Stasiun BIM, perlu menambah biaya Rp5 ribu, artinya harga tiket dari Staisun Narars – Stasiun BIM, Rp10 ribu per penumpang.

“Jadi, dengan bertambahnya rute kereta api ini, tentunya kita berharap terjadi peningkatan jumlah penumpang. Karena melihat dari tahun 2014-2018, terjadi peningkatan penumpang kereta api di Sumatra Barat sebanyak 2 kali lipat. Ada 640 ribu penumpang pada 2018, dan naik menjadi 1,2 ribu penumpang. Hal ini turut berperan adanya KA Minangkabau Ekpsres,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi menegaskan, dengan adanya pengoperasian segmen Stasiun Naras tersebut, sebagai bentuk komitmen pemerintah pusat untuk membangun infrastruktur kereta api secara merata di Indonesia. Sehingga tidak ada lagi ungkapan, bahwa Indonesia itu hanya di Pulau Jawa saja.

“Saya melihat dengan aktifnya kembali rute-rute kereta api, akan dapat menunjang pariwisata. Begitu juga di Sumatra Barat yang memiliki pariwisata yang bagus, tidak hanya memiliki keindahan alam, tapi juga kaya akan wisata kulier dan budayanya. Maka, semua pihak mendukung untuk kemajuan pariwisata, termasuk dari Kementerian Perhubungan sendiri,” ucpanya, di Pariaman.

Budi juga menyatakan, ke depan Kementerian Perhubungan akan berupaya untuk melakukan reaktivasi jalur kereta api yang ada di Sumatra Barat, seperti untuk jalur Padang – Bukittinggi.
Meski ada rel yang menggunakan rel tanjakan, Kemenhub akan berupaya mencarikan solusinya. Karena hal ini bentuk Kementerian Perhubungan untuk membangun transportasi kereta api, sebagai bentuk memberikan alternatif angkutan umum bagi masyarakat di Sumatra Barat, sembari menikmati pariwisatanya.

Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, juga mengatakan dengan terus ditingkatkannya trasportasi di daerahnya itu, tidak hanya dapat penunjang pariwisata, tapi juga telah dapat menghidupkan perekonomian masyarakat. Artinya, seiring berkembangnya infrastruktur transportasi yang ada, maka memberikan dampak ekonomi kepada masarakat.

“Tentunya kita berharap, ke depan jalur kereta api di Sumatra Barat dapat dihidupkan kembali, terutama untuk jalur kereta api Padang – Bukittinggi,” tegasnya.

Lihat juga...