Sugiarto : PATRI Miliki Kedekatan dengan Pak Harto 

Editor: Mahadeva

289

JAKARTA – Terbentuknya Perhimpunan Anak Tramigran Republik Indonesia (PATRI), tidak bisa dilepaskan dari jasa Presiden ke-2 RI HM Soeharto.

“Karena Beliau yang galakan program transmigrasi. Tanpa transmigran tidak ada anak transmigran. Dan kami akan selalu ingat pada Pak Harto, penggagas transmigran,” ujar Ketua PATRI, Sugiarto Sumas, pada Munas IV PATRI di Desa Wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Di usia PATRI ke-15, organisasi tersebut telah menjadi sosok yang cantik. Sosok dengan pemikiran dan gagasan pengabdian kepada bangsa dan negara. PATRI sudah memiliki pemikiran dan gagasan untuk transmigrasi di masa depan.

Sugiarto menyebut, awal berdirinya PATRI, tepatnya pada tanggal 16 Februari 2004, diawali ketika Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Jacob Nuwa Wea, memberi restu organisasi anak transmigran berskala nasional secar formal.  Hal itu, dimulai dari langkah kecil dua anak transmigran bernama Hasprabu dan Ahmadi, yang menghadap Dirjen Pengembangan Kawasan Transmigrasi.

Keduanya menyampaikan wacana dibentuknya PATRI. “Spontan Pak Dirjen menjawab, apakah Anda berdua tidak malu mengaku anak transmigran? Karena biasanya kita berada di kawasan transmigrasidisebut itu orang transmigran,” ujar Sugiarto menirukan jawaban Dirjen saat ditemui Hasprabu dan Ahmadi.

Sebagai orang transmigran, biasanya bekerja kepada penduduk sekitar. Fenomena tersebut terjadi di seluruh wilayah transmigrasi di mana pun, di Indonesia. Namun, 10 tahun kemudian kondisinya berbalik, warga sekitar yang bekerja kepada warga transmigran. Hal tersebut menggambarkan, program transmigrasi yang dikembangkan terlihat hasilnya 10 tahun kemudian. “Kerja keras, karena itu pertanyaanya tepat sekali. Waktu itu Prabu bilang tidak malu jadi anak transmigran,” tambahnya.

Sugiarto mengisahkan, sebagai anak seorang transmigran Dia harus bersusah payah saat menempuh pendidikan tinggi. Hal itu tidak terlepas dari kondisi ekonomi keluarga. Tapi, berkat Yayasan Supersemar, ia dapat menerima beasiswa dari Pak Harto.

Hingga akhirnya bisa kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM). “Bapak saya meskipun transmigrasi, beralih profesi jadi pegawai di RS Ulin di Banjarmasin. Ibu saya adalah buruh. Alhamdulillah dengan beasiswa Supersemar, seringkali tiap bulan, saya tidak minta ibu untuk kirim uang. Karena merasa sudah cukup,” ujarnya.

Sugiarto kuliah 1977 dan lulus di 1981. Dengan biaya kuliah yang dikeluarkan orang tua Rp1,5 juta. Saat itu, ongkos pesawat dari Banjarmasin ke Surabaya baru sebesar Rp20 ribu.  “Alhamdulillah saya bukan sombong, anak transmigran tidak bisa dipandang sebelah mata. Saya lulus cumlaude. Ini berkat beasiswa Supursemar, semangat saya bergelora,” tandasnya.

Sugiarto menyebut, warga transmigran memiliki kedekatan dengan Pak Harto. Begitu juga anak-anak transmigran, termasuk Dirinya. Kehadiran Yayasan Harapan Kita (YHK) disebutnya sangat membantu PATRI, khususnya pada penyelenggaraan Munas.

Kehadiran tiga Putri Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Rukmana), Siti Hediati Haryadi (Titiek Soeharto) dan Siti Hutami Endang Adingsih (Mamiek Soeharto) pada Munas PATRI, dirasa sangat khusus.  PATRI memiliki kedekatan biologis dengan Presiden Soeharto, yang dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan.

Pak Harto juga sebagai Bapak Transmigrasi, yang sukses meningkatkan taraf hidup rakyat Indonesia. “Kami punya kedekatan biologis dengan Bapak Presiden Soeharto. Kami bersyukur Ibu Tutut, Ibu Titiek dan Ibu Mamiek hadir pada Munas PATRI ini. Karena saudara biologis, kita saudara juga. Mohon izin kami saudara Ibu Tutut juga,” ungkap Sugiarto disambut tepuk tangan anggota PATRI.

YHK sebagai mitra PATRI, bersinergi untuk menyukseskan kembali gerakan transmigrasi. Sebagai gerakan perekat nasional lintas agama, suku dan budaya. “PATRI akan jadi besar kalau bisa memanfaatkan momen Munas ini. Sebaliknya kalau tidak bisa memanfaatkan, PATRI akan jalan di tempat, bahkan mundur ke belakang,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...