Suka Duka Anak Muda Penjual Durian di Maumere

Editor: Mahadeva

MAUMERE – Menjual durian bisa menjadi pekerjaan sambilan di saat musim panen durian. Di Maumere panen durian biasanya pada Januari hingga akhir Mei.

Setiap tahunnya, belasan anak muda dari Kecamatan Bola dan Doreng, membanjiri Kota Maumere untuk menjual durian. Anak-anak muda termasuk mereka yang memiliki gelar sarjana, tidak sungkan menjajakan durian di pinggir jalan.

Tempat favorit berjualan, biasanya di depan Kantor Bupati Sikka, tepatnya di jalan Achmad Yani Maumere. “Biasanya sejak pagi jam 08.00 WITA kami sudah mulai berjualan durian. Durian digantung di kayu pada dua sisi bagian belakang sepeda motor,” sebut Gregorius Wilhelmus Moa Nong, seorang penjual durian asal Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang Kabupaten Sikka,” Rabu (20/3/2019).

Lelaki yang akrab disapa Jelo tersebut, menamatkan kuliah di IKIP Muhamadiyah Maumere. Pemilik gelar sarjana pendidikan tersebut, bekerja sebagai tukang ojek sepeda motor. Saat musim durian, Dia bergabung dengan anak-anak muda lainnya berjualan durian. Belum memiliki pekerjaan tetap, membuatnya melakoni pekerjaan apa saja untuk membiayai kehidupan sehari-hari.

Hal itu dikarenakan, sudah tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya. “Biasanya saya ojek,  tapi karena sedang musim durian maka jual durian dulu. Musim panen durian biasanya di Januari hingga Mei. Harga durian bervariasi antara Rp40 ribu hingga Rp120 ribu sebuahnya,” ungkapnya.

Selama berjualan, Jelo menyebut, dagangannya terkadang laku terjual semua. Namun namanya juga berdagang, terkadang tidak ada yang membeli. Terpaksa durian pun dikonsumsi sendiri kalau tidak laku apalagi kulitnya mulai terbuka. “Kalau kulitnya sudah terbuka terkadang orang tidak beli, karena katanya tidak enak, tapi ada yang mau beli yang sudah pecah. Keuntungan yang didapat pun tidak pasti. Kebanyakan pembeli orang dari luar daerah yang menetap di Maumere, sebab kalau orang lokal jarang beli karena katanya harganya mahal,” tuturnya.

Jelo menyebut, yang memotivasinya berjualan durian adalah agar bisa bekerja. Bekerja apa saja, asal halal. “Kalau tidak jual durian saya ojek. Daripada hanya duduk di rumah saja dan menyusahkan orang tua, lebih baik kerja apa saja, yang penting halal,” tegasnya.

Petrus Deri, warga Desa Umauta, Kecamatan Bola, mengaku sudah 10 tahun menjadi penjual durian. Berjualan durian, bisa membantu petani di wilayah timur. Lelaki yang akrab disapa Roland tersebut, mengaku memiliki pohon durian sendiri.

Saat menjual durian, Dirinya selalu membawa anak yang masih berumur 6 tahun. “Menurut sejarah yang kami ketahui dari orang tua kami, durian ini pertama ditanam oleh bapak mantan Bupati Sikka almarhum Laurens Say. Dirinya membawa dari Amerika Latin. Pohon durian miliknya pun sangat besar dan masih ada hingga kini. Sekali panen, satu pohon tersebut bisa menghasilkan ribuan buah,” terangnya.

Ronald menyebut, pohon durian miliknya sekali panen bisa menghasilkan 300 buah. Tidak semua anak muda di kampungnya menjual durian. Banyak yang memilih menjadi penjual ikan di desa-desa. Banyak yang malu jika harus berjualan di Kota Maumere.

Selama 10 tahun berjualan durian, Ronald bisa membiayai sang isteri kuliah. Selain durian, cengkeh dan vanili juga diandalkan untuk menopang penghasilan keluarga. “Durian Maumere rasanya beda, dan saya setiap pagi di pasar Geliting, pedagang asal Makasar bisa beli sampai tujuh buah. Mereka katakan rasanya beda dan lebih enak,” pungkasnya.

Lihat juga...