Sumbar Tingkatkan Penyuluhan Cegah Diabetes

Editor: Koko Triarko

391

PADANG – Dr. dr. Eva Decroli, Sp.PD-KEMD., FINASIM, mengatakan persoalan diabetes masih menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat di Sumatra Barat, apalagi diabetes ini cenderung terjadi karena pola hidup yang kurang sehat.

Dari data penelitian Dosen Fakultas Kedokteran Unand ini, dari 2.000 pasien yang diteliti, ternyata laki-laki dan perempuan hampir sama perbandingannya. Laki-laki 4,5 dan perempuan 5,5. Usia di bawah 50 tahun hampir 25 persen terkena diabetes.

“Mereka yang terkena diabetes di bawah usia 50 tahun ini, sering mengetahui terkena diabetes setelah diperiksa. Sehingga, cenderung terlambat mengetahuinya,” katanya, yang juga dokter spesialis penyakit dalam ini, Jumat (22/3/2019).

Menurutnya, mereka yang terkena diabetes ternyata setelah didiagnosa yang disertai kegemukan, dengan persentase 16 persen. Lalu, kolesterol tinggi pada persentase 42 persen. Kemudian, hipertensi di angka 46,9 persen. Sehingga orang yang terkena diabetes ini gabungan dari kegemukan, kolesterol tinggi dan hipertensi, hal yang demikian sangat ditakuti oleh masyarakat.

Ia menyebutkan, diabetes ini juga akan berdampak kepada keluhan kaki yang berakibat kepada amputasi, dengan persentase 40 persen, serangan jantung  32,5 persen, ginjal 27,8 persen. Bahkan, menariknya, 2.000 pasien itu, 235 orang kurang lebih atau 11 persennya terkena gejala depresi.

“Bisa kita bayangkan, gejala depresi akan berdampak kepada hilang gairah, perhatian, tidak ada nafsu makan, lelah, susah tidur. Sedangkan angka diabetes di Sumatra Barat hampir sama dengan dunia. Bahkan, angka itu pada 2030 diprediksi naik dua kali lipat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, melihat dari data 2017 yang merupakan dari hasil penelitian dari 10 kabupaten dan kota, angka diabetes sekitar 5,2 persen. Namun, 20 tahun sebelum diteliti, di Sumatra Barat angkanya 1,8 persen. Artinya, terjadi kenaikan tiga kali lipat.

Untuk itu, penanganan diabetes di Sumatra Barat diawali dengan usaha pradiabetes. Seperti pola makan yang sehat, memasyarakatkan olah raga, kemudian pemeriksaan kadar gula.

“Jadi, agar tidak terkena diabetes, menghidupkan pola makan yang sehat, olah raga. Car Free Day (CFD) tiap Minggu itu bagus, lalu pemeriksaan sejak dini kadar gulanya,” terangnya.

Eva juga mengatakan, untuk pemerintah daerah, supaya menjadi corong dalam menginformasikan bahaya diabetes tersebut, dan penanganan dininya, sehingga masyarakat sadar akan kesehatan dengan melakukan pola hidup yang sehat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat, Merry Yuliesday, mengungkapkan, diabetes ini dampaknya sangat luar biasa. Segala macam penyakit dapat menyerang diri, jika sudah terkena diabetes.

“Diabetes ini sudah menjadi muara segala penyakit, jika diabetes bisa akibatkan kebutaan, jantung, keluhan pada kaki, ginjal. Bahkan, diabetes ini bisa mengakibatkan depresi. Untuk itu, gejala diabetes ini mesti diwaspadai sejak dini, jangan sudah terdiagnosa baru dicegah,” sebutnya.

Kemudian, kata Merry, diabetes ini juga dapat terjadi karena faktor keturunan. Contohnya, jika bapaknya terkena diabetes, tapi ibunya tidak. Anaknya 50 persen pasti terkena diabetes, kemudian jika orang tuanya kedua diabetes, otomatis 100 persen anaknya terkena diabetes nantinya.

“Meskipun ada kecenderungan faktor diabetes itu faktor keturunan, namun pola makan juga mesti diperhatikan. Makanlah yang sehat, jangan makan yang berlemak dan berkarbohidrat saja. Tapi, juga makan buah-buahan,” tuturnya.

Karena itu, kata Merry, pihaknya akan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang hidup sehat. Mengontrol makanan, kemudian mengintruksikan jajaran puskemas yang ada di Sumbar untuk menginformasikan bahaya diabetes  dan cara pencegahannya.

“Kita akan gebyarkan bersama pencegahan diabetes ini, agar tidak meluas. Tak hanya edukasi saja, namun melakukan pengecekan kadar gula bagi masyarakat dengan terjun langsung, seperti yang akan kita lakukan saat Car Free Day (CFD),” ulasnya.

Menurutnya, menggerakkan masyarakat beraktivitas fisik dengan berolah raga, tidak mesti lama, setengah jam per hari saja cukup. Merry akan berkeja sama dengan pakar, baik itu akademisi dan dokter spesialis penyakit dalam yang lebih mendalami penyakit ini, dengan mengumpulkan data penderita diabetes di Sumatra Barat. Sebab, data terakhir masih pada 2017.

“Kita akan kumpulkan data, kita mulai dari melakukan cek kepada petugas kesehatan, baik di provinsi maupun daerah. Jika sudah ada, sebagian data terkumpul akan kita kembangkan, dan saat Rapat Kerja Kesahatan Daerah (Rakesda) dengan Menteri Kesehatan akan kita bawa pembahasan diabetes ini,” tegasnya.

Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, menyatakan, untuk mengurangi risiko masyarakat terkena diabetes, pemerintah akan meningkatkan penyuluhan kesehatan di puskesmas yang ada di daerah, termasuk daerah terpencil. Karena dari tingkatan paling bawah, penyuluhan ini mesti diberikan.

“Tidak hanya penyuluhan kesehatan di puskesmas saja. Tapi, mengedukasi masyarakat kita, agar berperilaku hidup sehat, jangan konsumsi makanan yang mengandung gula berlebih, agar gula darah normal. Meski diabetes ini juga ada faktor keturunan, tapi pola hidup sehat tetap dijaga, karena diabetes ini dapat berakibat ke seluruh tubuh,” katanya.

Menurut Wagub, Pemprov melalui Dinkes Sumbar telah bekerja sama dengan beberapa rumah sakit, melakukan pengecekan gula darah, dengan terjun langsung ke berapa kegiatan, dihadiri masyarakat, seperti Car Free Day (CFD). Serta untuk kabupaten dan kota juga diimbau untuk melakukan hal serupa.

Lihat juga...