Tiga Komunitas Adat Minta Lokasi Waduk Lambo Dipindah

Editor: Koko Triarko

NAGEKEO –  Warga yang berasal dari komunitas adat, yakni Rendu, Ndora dan Labolewa, di kecamatan Aesesa Selatan, kabupaten Nagekeo, tidak menolak pembangunan Waduk Lambo. Warga hanya meminta lokasinya dipindahkan.

“Penolakan warga terhadap lokasi waduk di Lowo Se, sudah berlangsung sejak 2001. Warga menawarkan kepada pemerintah untuk dibangun di lokasi Malawaka, atau Lowo Pebhu, yang tanahnya telah disiapkan warga,” sebut Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga, Philipus Kami, Jumat (22/3/2019).

Kepada Cendana News, Lipus mengatakan, Balai Wilayah Sungai (BWS) NTT II pada 2016 kembali mewacanakan pembangunan waduk ini. Namun, warga di tiga komunitas tetap pada pendiriannya untuk menolak pembangunan di lokasi itu.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusa Nusantara (AMAN) Nusa Bunga, Philipus Kami. -Foto: Ebed de Rosary

“Selama ini, selalu dikatakan warga menolak pembangunan waduk Lambo, padahal warga tidak menolak pembangunan. Masyarakat juga tidak melawan pemerintah, karena lokasi alternatifnya telah disiapkan warga,” terangnya.

Yang menjadi pertanyaan, kata Lipus, kenapa pemerintah memaksanakan waduk dibangun di lokasi yang tidak disetujui warga. “Ini kan aneh? Warga sudah bersedia menyerahkan dua lokasi lainnya, tapi pemerintah tetap bersikeras di tempat yang pertama,” katanya.

Bernadus Gaso, ketua dewan AMAN Nusa Bunga, menjelaskan, tiga komunita adat telah bertemu dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pihaknya pun sudah menyampaikan permintaan warga di hadapan menteri, mengenai penolakan warga.

“Kamis angat kecewa, Balai Wilayah Sungai (BWS)  NTT II terkesan tidak tahu berterima kasih kepada warga, yang telah dengan suka rela menyediakan lokasi waduk, selain di Lowo Se. Ini ada apa? Kami juga bingung dengan sikap BWS ini,” tuturnya.

Sampai kapan pun, tambah Bernadus, tiga komunitas adat tetap akan menolak lokasi di Lowo Se. Tempat tersebut merupakan tempat dilaksanakannya ritual adat dari ketiga suku, dan terdapat makam para leluhurnya.

“Kami tetap menolak lokasi tersebut, dan tidak akan mundur karena mempertahankan lokasi yang diwariskan leluhur kami, merupakan suatu kewajiban. Kami tidak akan mundur sejengkal pun,” katanya.

Dalam pernyataan sikap tiga komunitas adat yang diterima Cendana News, ditegaskan, Komunitas Adat Rendu, Lambo dan Ndora, sepakat lokasi waduk dipindahkan ke Lowopebhu atau Malawaka.

Pada Oktober 2015, Forum Aliansi Masyarakat Adat Lambo ( AMAL) dengan tegas menolak pembangunan waduk di Lowose. Hal ini dibuktikan dengan surat yang ditujukan kepada Presiden RI dan tembusannya ke Gubernur NTT, Bupati Nagekeo, DPR RI dan DPRD Nagekeo.

AMAL juga mendesak DPRD Nagekeo dan Bupati, segera merekomendasikan ke pihak terkait, untuk menghentikan segala aktivitas yang berkaitan dengan rencana pembangunan waduk Lambo yang berlokasi di Lowose.

Lihat juga...