Tingkatkan Produksi, Petani Lampung Barat Budidayakan Kopi Stek Batang

Editor: Satmoko Budi Santoso

239

LAMPUNG – Petani kopi jenis arabica di wilayah Kabupaten Lampung Barat (Lambar) terus mengembangkan kopi di wilayah tersebut dengan sistem stek.

Pengembangan tanaman kopi dengan sistem stek menjadi alternatif petani untuk memperbanyak pohon serta kualitas buah.

Susanto, salah satu petani kopi di Desa Campang, Kecamatan Kebun Tebu, Lambar menyebut, budidaya kopi di wilayah tersebut dilakukan dengan teknik memakai biji serta teknik generatif.

Susanto menyebut, penggunaan sistem stek untuk budidaya kopi arabica sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam. Pada proses penanaman kopi disebutnya selama ratusan tahun di wilayah tersebut masih mempergunakan sistem semai biji atau generatif.

Kendala yang dihadapi budidaya kopi dengan sistem generatif menghasilkan buah dengan waktu yang lebih lama, batang terlalu tinggi menyulitkan proses pemanenan. Sebaliknya sistem stek memiliki kelebihan dari sisi usia tanam hingga panen.

Teknik budidaya kopi menggunakan sistem stek disebutnya memiliki keuntungan untuk memperbanyak batang. Proses stek batang membuat tanaman kopi memiliki sifat sama sesuai batang induk yang dipilih, lebih cepat berbuah dan hasil biji yang dihasilkan lebih seragam.

Susanto menyebut, cara tersebut lebih ekonomis karena petani bisa memperbanyak tanaman kopi miliknya dengan sistem mandiri. Teknik stek disebutnya dilakukan saat musim penghujan pada awal Februari hingga Maret.

Susanto, menjemur kopi hasil kebun miliknya di Kecamatan Kebun Tebu, Lampung Barat – Foto: Henk Widi

“Awalnya teknik stek batang hanya dilakukan oleh sejumlah petani. Lalu mulai diikuti oleh petani lain karena memiliki keuntungan untuk peningkatan produksi buah kopi,” terang Susanto, salah satu petani kopi saat ditemui Cendana News, Sabtu (16/3/2019).

Sistem stek batang diakuinya diajarkan oleh sejumlah petani kopi di wilayah Lampung Barat kerap dilakukan pada tanaman tua. Sistem tersebut dilakukan untuk memaksimalkan hasil terutama pada panen raya.

Proses stek atau penyambungan batang dengan tunas yang ada di batang kopi utama diakuinya mempergunakan alat sederhana. Alat yang digunakan diantaranya pisau, gunting ,perangsang akar serta plastik dan tali pengikat.

Batang yang akan distek disebut Susanto harus dipilih pada bagian batang yang sudah tua.

Proses stek diakuinya dilakukan pada batang yang sudah pernah berbuah atau proses penyulaman untuk tanaman yang memasuki masa pergantian tanaman. Berdasarkan pengalaman ia menyebut hasil tanaman kopi dengan sistem stek mampu menghasilkan produksi maksimal.

Pada tanaman kopi yang sudah distek produksi bisa mencapai 15 hingga 20 kilogram sekali panen. Pada lahan seluas dua hektare ia mengaku menanam sekitar 1000 batang tanaman kopi.

“Proses stek batang saya lakukan pada semua tanaman secara bertahap saat ini sudah memasuki tahun keenam siap panen,” beber Susanto.

Pada tanaman normal tanpa proses stek batang ia menyebut, varietas kopi arabica dan robusta produksi rata-rata hanya berkisar 10 kilogram. Peningkatan produksi hingga dua kali lipat disebutnya menjadi alternatif agar petani memperoleh keuntungan.

Selain itu ketinggian batang tanaman kopi yang lebih rendah membuat proses pemanenan kopi lebih mudah dilakukan. Pada tanaman sebanyak 1000 batang ia menyebut, dalam kondisi panen minimal ia kerap mendapatkan hasil sekitar 8 ton bahkan bisa lebih.

Ia menyebut, harga kopi basah di tingkat petani mencapai Rp15.000 dan pada kondisi puncak panen harga bisa mencapai Rp20.000 hingga maksimal Rp25.000 per kilogram. Ia menyebut, harga komoditas kopi kerap tergantung dengan harga komoditas kopi dunia dan juga masa panen petani.

Petani di wilayah tersebut diakuinya menjadikan kopi sebagai investasi karena kopi bisa dipanen setiap tahun. Panen bisa dilakukan dua kali dengan sistem panen penyelang dan panen saat panen raya.

Petani lain bernama Herman, warga Kecamatan Way Tenong, Lampung Barat menyebut, selain pengembangan sistem stek batang  petani mulai mengembangkan kopi organik.

Kopi organik diakuinya merupakan cara budidaya kopi tanpa memakai zat kimia mulai dari pemupukan hingga pestisida. Proses pemupukan disebutnya memakai pupuk kandang dari kotoran ternak sapi serta kambing.

Ia menyebut, cara tersebut dilakukan untuk menghasilkan kualitas kopi yang bebas zat kimia. Nilai jual kopi organik dalam bentuk bubuk diakuinya lebih tinggi dari kopi biasa. Proses pemanenan buah kopi organik sistem matang merah diakuinya menghasilkan kopi berkualitas yang dikenal dengan kopi Lampung Barat.

Harga kopi bubuk per kilogram yang dijual mencapai Rp10.000 per kilogram untuk jenis kopi organik bisa mencapai Rp25.000 per kilogram.

“Meningkatnya minat masyarakat akan kopi membuat petani ikut mendapat imbas positif terutama tata kelola tanaman yang baik untuk hasil kopi berkualitas,” beber Herman.

Sistem stek batang atau sambung batang disebut Herman, menjadi cara meregenerasi tanaman yang sudah tua dengan tanaman baru. Sistem stek batang disebutnya bisa menjadi cara memperbanyak tanaman baru dengan lebih cepat.

Hasil buah kopi yang cukup melimpah menjadikan petani di wilayah Lampung Barat bisa meningkatkan kesejahteraan dari budidaya kopi. Selain sebagai bahan baku untuk kopi tradisonal, kopi hasil petani Lampung Barat juga kerap dijual sebagai komoditas ekspor.

Baca Juga
Lihat juga...