Titiek Soeharto: Pembangunan Harus Pertimbangkan Dampak Lingkungan

Editor: Mahadeva

627

YOGYAKARTA – Pemerintah Daerah diminta dapat mengontrol setiap proses pembangunan dengan lebih memperhatikan dan mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan di sekitarnya.

Hal itu disampaikan Putri Presiden kedua RI HM Soeharto, Siti Hediati Hariyadi atau akrab disapa Titiek Soeharto, saat mengunjungi warga terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (22/03/2019) sore.

Titiek Soeharto menemui warga korban banjir dan tanah longsor untuk memberikan bantuan, seperti Sembilan Bakan Pokok (Sembako), dan kebutuhan lainnya. Bantuan yang diberikan Titiek Soeharto, atas nama Pengurus Yayasan Dana Gotong-Royong Kemanusiaan (YDGRK) Siti Hartinah Soeharto.

“Jika di atas (daerah wilayah perbukitan) ada pembangunan, jangan pohon-pohon ditebang semua. Harus juga diperhatikan dampak terhadap lingkungan disekitarnya. Pemerintah Daerah saya kira harus bisa mengantisipasi. Termasuk memberikan peringatan dini kepada warga, sehinggga mereka tahu apa yang mestinya harus dilakukan,” tandasnya.

Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) desa Sriharjo, Imogiri, Sahid Isbana, – Foto: Jatmika H Kusmargana

Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Desa Sriharjo, Imogiri, Sahid Isbana, menyebut, adanya pembangunan sejumlah kawasan wisata di wilayah Dlingo, menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya longsor di daerah tersebut.

Lokasi pembangunan berada tepat di atas bukit sebelah utara kawasan Desa Sriharjo, yang posisinya terletak di bawah bukit. “Pembangunan kawasan wisata di sisi utara, yang masuk wilayah Kecamatan Dlingo menjadi salah satu faktor (penyebab terjadinya longsor). Sebab Dusun Sompok, Pengkol, Ngunut dan Kedung Miri, Sriharjo, terletak tepat dibawah bukit itu. Dulu longsoran tidak pernah separah ini. Tapi sekarang semakin parah, karena air langsung mengalir ke lereng dan tanah menjadi gembur. Sehingga mudah longsor,” jelasnya.

Meski begitu, Sahid juga menyebut, faktor cuaca yang mengakibatkan hujan ekstrim, dan wilayah kawasan Imogiri yang berada di antara bantaran Sungai Celeng dan Sungai Opak, juga mempengaruhi terjadinya bencana banjir dan longsor.

Imogiri juga terletak di wilayah paling selatan, sehinggga kerap mendapat limpahan air dari wilayah utara yaitu, Kabupaten Sleman maupun Kota Yogyakarta.  “Wilayah Imogiri ini memang memiliki banyak sekali potensi bencana, mulai dari gempa bumi, banjir hingga longsor. Karena itu warga harus terus menerus diberikan pemahaman soal mitigasi bencana. Sementara pihak pemerintah juga harus lebih berkoordinasi satu sama lain agar setiap pembangunan tidak memberikan dampak lingkungan bagi wilayah lain disekitarnya,” tuturnya.

Lihat juga...