hut

Tugu Perbatasan dan Giant Letter, Tempat Favorit Remaja Lampung

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Jembatan kembar Way Sekampung sebagai batas alam Kabupaten Lampung Timur (Lamtim) dan Lampung Selatan (Lamsel) masih menjadi tempat menarik bagi masyarakat terutama kaum muda.

Keberadaan jembatan di atas sungai Way Sekampung atau kerap dikenal jembatan kembar Bunut tersebut semakin semarak dengan adanya tugu perbatasan atau dikenal tugu selamat datang serta giant letter Lampung Timur.

Lokasi tersebut semakin ramai dikunjungi masyarakat saat akhir pekan karena menyediakan lokasi bersantai.

Yandi (20) salah satu pemuda asal Desa Labuhan Ratu, Kecamatan Pasir Sakti, menyebut, sejak dibangun setahun terakhir, lokasi itu menjadi magnet bagi anak-anak muda kekinian. Pasalnya keberadaan tugu selamat datang dilengkapi giant letter Lampung Timur, penanda perbatasan dengan Lampung Selatan.

Yandi melakukan swafoto bersama sejumlah sahabatnya untuk diunggah ke media sosial Instagram dengan latar belakang tugu Selamat Datang dan giant letter Lampung Timur – Foto: Henk Widi

Bangunan tugu selamat datang disebutnya memiliki alas bulat dilengkapi tangga dua tingkat menuju bagian atas. Pada bagian atas empat pilar menyokong lambang kabupaten Lampung Timur ke empat penjuru angin dan topi adat berwarna keemasan.

Keberadaan tugu tersebut diakui Yandi, menjadi ikon menarik terutama pecinta fotografi serta sejumlah komunitas motor. Sebagai tugu selamat datang di kabupaten berjuluk “Bumi Tuwah Bepadan” memiliki makna daerah yang memberikan kemakmuran. Tugu tersebut terlihat dari arah barat dan timur.

Pengendara yang melintas dari arah Kecamatan Sragi Lampung Selatan menuju Kecamatan Pasir Sakti Lampung Timur akan disuguhi pemandangan alam sungai sekaligus ikon tersebut.

“Pengendara yang menggunakan mobil atau motor kerap berhenti sejenak di atas jembatan untuk mengabadikan momen saat berada di atas jembatan. Ditambah keberadaan tugu selamat datang serta giant letter bertuliskan Lampung Timur bisa menjadi dokumentasi bahwa sudah berada di wilayah Lampung Timur,” terang Yandi, salah satu pemuda asal Kecamatan Pasir Sakti, saat ditemui Cendana News, Minggu (24/3/2019).

Ikon baru tersebut diakui Yandi, menjadi lokasi favorit akhir pekan saat pagi hari serta sore hari. Para pecinta olahraga jalan kaki, sepeda santai hingga komunitas motor menggunakan lokasi tersebut untuk berkumpul.

Sebagai salah satu pecinta komunitas motor antik C70 atau dikenal Cetul ia menyebut, memilih waktu akhir pekan untuk berkumpul di dekat tugu selamat datang Lampung Timur. Lokasi tugu selamat datang yang cukup luas diakuinya kerap dijadikan tempat berkumpul, berjarak hanya sekitar sepuluh meter dari sungai Way Sekampung.

Yandi mengungkapkan, tugu selamat datang memiliki halaman yang luas dengan lantai keramik. Lokasi parkir untuk kendaraan roda dua dan roda empat diakuinya bisa dicapai melalui jembatan kembar sisi timur.

Waktu paling tepat yang digunakan oleh anak-anak muda berkumpul di lokasi tersebut di antaranya pagi dan sore hari. Sebab pada pagi hari suasana masih segar sebaliknya saat sore hari bisa menikmati suasana matahari terbenam di balik Gunung Rajabasa.

“Meski bukan sebagai lokasi wisata, namun lokasi ini menjadi tempat favorit untuk anak muda. Apalagi saat memasuki bulan Ramadan atau bulan puasa,” papar Yandi.

Pembuatan tugu perbatasan atau dikenal tugu selamat datang disebut Yandi, sudah diusulkan sejak lama. Selama ini jembatan kembar Way Sekampung masih menjadi ikon perbatasan alam dua kabupaten Lamsel dan Lamtim.

Keberadaan tugu jalan tersebut sekaligus juga bisa menjadi penanda saat pengendara melintasi perbatasan. Selain itu sisi positifnya anak-anak muda memiliki tempat untuk bersantai saat akhir pekan.

Sebagai alternatif spot foto, Yandi menyebut, tugu selamat datang giant letter Lampung Timur, bisa diambil dari segala arah. Bangunan yang lebih tinggi dari area sekitarnya bahkan terlihat megah diambil dari areal tambak kecamatan Pasir Sakti maupun dari kecamatan Sragi.

Pecinta fotografi diakuinya bahkan kerap mempergunakan kamera single lens reflex (SLR), telepon pintar untuk mengabadikan momen dengan berswafoto di dekat tugu selamat datang. Pecinta fotografi aerial juga bisa memakai drone untuk mendapatkan gambar foto dan video yang menarik di lokasi tersebut.

Joni (25) salah satu pemuda dari kecamatan yang sama mengaku, ikon tugu perbatasan dilengkapi dengan giant letter menjadi tempat bersantai pemuda di wilayah tersebut. Meski demikian ia menyebut, lokasi yang berada di dekat jalan lintas pantai timur (Jalinpantim) tersebut masih harus dibenahi.

Potensi lahan yang masih luas dengan tumbuhan gelagah diakuinya masih bisa dikembangkan sehingga menjadi alternatif untuk berwisata.

“Selama ini destinasi wisata yang ada di Lampung Timur didominasi wisata alam mangrove, wisata alam danau. Keberadaan tugu dengan ciri khas topi bernuansa adat bisa menjadi pilihan,” terang Joni.

Anggota komunitas motor bernama Ardyanto menyebut, keberadaan tugu selamat datang bisa menjadi tempat istirahat. Lokasi jembatan kembar dengan pilar-pilar yang artistik sekaligus menjadi lokasi komunitas sepeda lawas miliknya bernama Granderist Garuda Hitam (Gatam).

Komunitas motor Granderist Gatam berkumpul di lokasi tugu selamat datang Lampung Timur – Foto: Henk Widi

Bersama puluhan pecinta motor lawas asal Lampung Selatan ia menyebut, memanfaatkan waktu untuk berfoto di tugu selamat datang serta berlatar belakang giant letter Lampung Timur.

Pembangunan ikon tersebut diakuinya sekaligus akan semakin dikenal luas sebagai lokasi representatif untuk bersantai. Sebab komunitas Granderist Gatam yang kerap melakukan pertemuan dengan sejumlah klub asal kabupaten lain kerap melakukan touring ke objek wisata di seluruh Lampung.

Melalui kegiatan gathering dan singgah di ikon Lampung Timur tersebut, ia memiliki tujuan mempromosikan sejumlah objek wisata yang ada di Lampung melalui kegiatan pecinta motor lawas yang diunggah melalui media sosial Instagram.

Lihat juga...