Tutut Soeharto: Ilmu Agama dan Ilmu Politik itu Penting

Editor: Satmoko Budi Santoso

312

BLITAR – Putri sulung Presiden Kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto), mengunjungi Panti Asuhan dan Pondok Al Kamal, Blitar, Jawa Timur, Jumat (29/3/2019).

Kehadiran Tutut Soeharto yang didampingi adiknya, Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek Soeharto) dan rombongan Partai Berkarya disambut antusias oleh ratusan santri.

Pada kunjungan ini, Tutut Soeharto di hadapan para santri menyampaikan pentingnya peran pesantren dalam pembangunan. Apalagi menurutnya, di zaman globalisasi ini pesantren merupakan sarana pendidikan ilmu agama dan budi pekerti.

“Pesantren merupakan ujung tombak dari pendidikan di seluruh Indonesia. Di tengah merosotnya akhlak, pendidikan budi pekerti jadi pondasi. Mudah-mudahan, semua di sini disiplin beragama, disiplin belajar dan silaturahmi,” kata Tutut Soeharto.

Menurutnya, agama dan perilaku sopan itu sangat penting ditanamkan sejak dini dalam hati setiap insan. Tutut Soeharto juga mengajak para santri berbuat kebaikan untuk kemajuan bangsa dan negara.

Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) memberikan kenangan buku tentang Pak Harto kepada pemilik Pondok Pesantren Al Kamal, Blitar, Jawa Timur, Jumat (29/3/2019) Foto: Istimewa

Pada silaturahmi ini, Tutut Soeharto juga mengajak para santri untuk belajar ilmu politik. “Pesantren tidak harus berpolitik, tapi harus tahu politik. Jadi, selain ilmu agama, ilmu politik juga penting. Tetapi tentunya politik yang benar,” tukasnya.

Dengan tahu ilmu politik yang benar, menurutnya, maka tidak akan salah langkah dalam membangun bangsa Indonesia.

“Karena kalian ini generasi muda yang akan membawa perubahan Indonesia ke depan. Jadi Ilmu politik itu penting untuk diketahui,” ujarnya.

Jika tidak tahu politik, tambahnya, maka akan mudah diarahkan oleh orang yang ingin berbuat tidak baik atau yang ingin merusak bangsa ini. Dan untuk tahu politik itu banyak sekali caranya. Yakni dengan menjaga hati agar tidak terbawa berita-berita hoaks yang tersaji di media sosial (medsos), contohnya.

Tampilan berita hoaks ini bisa menyebabkan jalinan persaudaraan dan kebangsaan menjadi pudar. “Ilmu politik dan ilmu agama harus dilengkapi dengan disiplin yang kita miliki. Yaitu disiplin menjaga hati, disiplin belajar, dan silaturahmi dengan sesama,” ujar Tutut Soeharto.

Putri Cendana ini berharap silaturahmi ini terus berlanjut tidak hanya saat ini saja. Apalagi kata dia, dalam Al Quran tercantum, memutus silaturahmi itu hukumnya dosa. “Kami mohon silaturahmi ini terus berlanjut atas rida Allah SWT,” kata Tutut Soeharto.

Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) menerima kenangan foto Pak Harto dari Pondok Pesantren Al Kamal, Blitar, Jawa Timur, Jumat (29/3/2019) Foto: Istimewa

Sebagai rajutan silaturahmi, Tutut Soeharto menyerahkan buku tentang Pak Harto kepada pemilik Pesantren Al Kamal.

Sebaliknya, pengurus pesantren memberikan sebuah foto kenangan pemilik Pondok Pesantren Al Kamal bersama Pak Harto, kepada Tutut Soeharto.

Di penghujung silaturahmi ini, Tutut Soeharto berswafoto dengan para santri. Suasana harmonis terlihat hangat dengan taburan senyum khas Tutut Soeharto.

Sebelumnya, Tutut Soeharto beserta rombongan terlebih dulu mengunjungi Pondok Pesantren Hasbullah Bahrul Ulum di Tambak Beras Jombang.

Lihat juga...