Tutut Soeharto: Jiwa Perawat Itu Sangat Luhur dan Sabar

Editor: Makmun Hidayat

BOYOLALI — Senja 28 Februari 2019 terasa lebih riuh di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Estu Utomo yang terletak di Jalan Tentara Pelajar, Dusun 4, Mudal, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Ratusan mahasiswi STIKES berhamburan ke halaman — beberapa di antaranya berteriak kegirangan — menyambut Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) yang beranjangsana ke tempat tersebut bersama kerabat dan rombongan. Mereka berebut untuk bersalaman dan berfoto Selfi dengan Mbak Tutut.

Pada akhirnya, agar tidak terjadi chaos, para dosen dan pengurus STIKES Estu Utomo meminta para mahasiswanya untuk berbaris rapi, sehingga tidak saling berebut untuk bersalaman dengan Mbak Tutut yang disebut sebagai sesepuh Yayasan Estu Utomo (Yayasan yang menaungi STIKES).

Dalam gegap gempita sambutan tersebut, Mbak Tutut didampingi oleh Siti Hutami Endang Adiningsih (Mbak Mamiek) yang menjadi Pembina Yayasan Estu Utomo, Retnosari Widowati Harjojudanto (Eno Sigit), beserta rombongan.

Usai semua mahasiswa bisa bersalaman dengan Mbak Tutut, mereka mempersilakan Mbak Tutut untuk berkenan singgah di aula STIKES dalam forum “Sarasehan bersama Siti Hardiyanti Rukmana”. Di dalam aula, para orangtua mahasiswa beserta penduduk di sekitar STIKES telah menyambut dengan riuh rendah pula. Para mahasiswi pun menyanyikan Himne STIKES untuk menyambut kedatangan Mbak Tutut dan rombongan.

Memang, sejak 18 Februari 2019, Mbak Tutut dan keluarga memiliki komunikasi yang intensif dengan Yayasan Estu Utomo sekaligus STIKES-nya. Tarikh tersebut merupakan penanda pengambilalihan STIKES Estu Utomo ketika dibeli oleh Yayasan Dharmais (Yayasan yang dikelola Mbak Tutut dan keluarga).

Dalam sejarahnya, STIKES Estu Utomo sudah berdiri sejak tahun 2002 dalam bentuk Akademi Kebidanan (AKBID). Lambat laun, pada 2015, AKBID tersebut bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan. Dan akhirnya diambil alih oleh kepengelolaannya oleh Yayasan Dharmais.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi, STIKES Estu Utomo telah mewajibkan mahasiswinya untuk mengambil program profesi, seiring dengan disahkannya Undang-Undang Kebidanan yang lebih menuntut profesionalitas para bidan di Indonesia.

“PMI Boyolali telah menobatkan kami sebagai satu di antara dua kampus Indonesia yang disebut sebagai Kampus Siaga Bencana. Kami sangat bangga dengan predikat tersebut,” kata Sri Handayani, S. SIT, M.Kes., Ketua STIKES Estu Utomo, ketika memberikan sambutan pembukaan acara Sarasehan.

Ketua STIKES Estu Utomo, Sri Handayani, S. SIT, M.Kes. – Foto: Thowaf Zuharon

Berbagai prestasi STIKES Estu Utomo dalam kiprahnya, telah membuat Kemenristekdikti mempercayakan berbagai sarana beasiswa bagi para mahasiswanya, baik beasiswa pendidikan di dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga, STIKES Estu Utomo memiliki banyak kerjasama penempatan lulusannya di berbagai lembaga pelayanan kesehatan dalam negeri maupun luar negeri.

“Kami punya kerjasama MOU dengan Philipina, Malaysia, serta Taiwan. Banyak mahasiswa kami yang pergi studi banding ke luar negeri. Bahkan, banyak lulusan mahasiswa kami yang sudah menjadi pendamping Umroh dan Haji,” jelas Sri Wahyuni.

Ke depan, Sri Wahyuni beserta seluruh pengurus STIKES berharap sekali, kampus tersebut bisa menjadi Perguruan Tinggi. Sehingga, para pengelola STIKES terus melakukan pembenahan di semua aspek, merenovasi berbagai gedung yang ada, serta melakukan berbagai inovasi. Misalnya, inovasi yang akan dilakukan pada Mei 2019 esok, rencananya, STIKES Estu Utomo akan melakukan seleksi karya ilmiah dengan tema “Updating Program Kesehatan yang Digagas Pak Harto dan Tantangan Kesehatan Saat Ini bagi Mahasiswa Kesehatan di Solo Raya”.

“Meskipun kami mendapatkan lokasi mewah (mepet sawah), kami terus meningkatkan kesejahteraan karyawan. Kami juga sedang mengajukan akreditasi untuk program studi keperawatan. Sehingga, kami bersyukur jika Mbak Tutut dan keluarga bisa membantu STIKES ini dengan bis kampus untuk menunjang mobilitas para mahasiswa,” harap Sri Wahyuni.

Ketika Mbak Tutut juga diminta memberikan sambutan, ia sangat mengapresiasi profesi perawat, karena jiwa perawat itu sangat luhur. Bagaimanapun, untuk merawat seorang pasien, dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. “Perawat yang disiplin, pasti akan diapresiasi oleh berbagai pasiennya,” kata Mbak Tutut.

Mbak Tutut foto bersama secara massal di halaman depan STIKES. – Foto: Thowaf Zuharon

Ketika berdialog dengan Warsat Resti Arbi Nugraheni, calon Bidan yang akan lulus dari STIKES Estu Utomo, Mbak Tutut juga menyampaikan, bahwa bidan adalah tugas mulia dan bermanfaat untuk banyak orang.

“Menjadi bidan pun harus profesional. Jika ingin dikirim ke luar negeri, bahasa Inggris harus bagus,” pesan Mbak Tutut kepada seluruh calon bidan dari STIKES Estu Utomo.

Acara sarasehan tersebut ditutup dengan foto selfi bersama secara massal di halaman depan STIKES, sebagai perpisahan. Hingga Mbak Tutut akan naik ke dalam mobil, para mahasiswi masih terus berebut untuk berfoto Selfi bersama Mbak Tutut. Riuh rendah dan lambaian tangan perpisahan pun mengiringi kepergian Mbak Tutut bersama seluruh rombongan.

Lihat juga...