hut

43.719 Warga di Flores Tertular Rabies

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Penyakit menular sampai saat ini masih menjadi masalah utama di Nusa Tenggara Timur. Penyakit itu tidak mengenal batas-batas daerah administrasi, sehingga upaya pemberantasan memerlukan kerja sama antardaerah.

“Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular, penanggulangan KLB, diperlukan suatu pengamatan penyakit yang mampu memberikan dukungan kerja sama antarprogram dan sektor. Juga antarkabupaten dan kota, provinsi dan pusat,” tegas Sekertaris Komite Rabies Flores dan Lembata, dr.Asep Purnama, Rabu (10/4/2019).

Sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata, dr. Asep Purnama. -Foto: Ebed de Rosary

Selama periode 2014-2018, tercatat 43.719 warga menjadi korban gigitan hewan penular rabies, yang dilaporkan dari 9 kabupaten endemis rabies di provinsi NTT. Dan, 38.039 kasus diberikan vaksin antirabies atau sebanyak 87 persennya.

“Dari jumlah tersebut, 34 kasus dilaporkan meninggal, karena rabies pada manusia (Lyssa). Hingga saat ini, 9 kabupaten di provinsi NTT dinyatakan endemis rabies, dan 13 kabupaten dan kota dinyatakan bebas rabies,” urainya.

Menurutnya, banyak upaya telah dilakukan oleh pemerintah pusat dan provinsi, untuk mengatasi masalah rabies. Dirinya mencontohkan, adanya pembentukan tim koordinasi rabies, pelatihan dan sosialisasi kepada petugas kesehatan.

“Juga telah dilakukan sosialisasi kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, tenaga pendidik, pendirian rabies center, investigasi dan vaksinasi. Terlepas dari upaya tersebut, rabies tetap menjadi perhatian serius di kabupaten yang membutuhkan upaya terpadu yang lebih intensif,” ujarnya.

Upaya untuk mencapai target Indenesia bebas rabies pada 2030, baik pada hewan maupun manusia, kata Asep, perlu meningkatkan kerja sama lintas sektor. Juga lintas program serta kemampuan, baik manajerial maupun teknis.

“Konsep one health dalam pengendalian rabies sudah terjalin antarlintas sektor. Namun perlu ditingkatkan melalui pelatihan pengendalian rabies terpadu, dengan pendekatan one health,” tegasnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Drg. Harlin Hutauruk, menjelaskan, pihaknya menetapkan lima Puskesmas menjadi rabies center, yang disiapkan untuk melayani pemberian suntikan vaksin antirabies kepada masyarakat yang digigit anjing.

“Lima puskesmas ini setiap saat memberikan pelayanan suntikan vaksin antirabis kepada korban gigitan anjing. Namun sering terjadi kekurangan vaksin, karena harus menunggu bantuan dari provinsi dan pusat,” ungkapnya.

Sementara itu, kelima rabies center tersebut, beber Harlin, yakni Puskesmas Watubain, melayani korban dari wilayah timur kabupaten Sikka, Puskesmas  Bola melayani wilayah kecamatan di tengah dan selatan Sikka, Puskesmas Lekebai untuk wilayah barat, sementara Puskesmas Palue meyalani korban gigitan anjing di pulau Palue.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!