Anies: Infrastruktur Transportasi Umum, Kunci Pembangunan Kota

Editor: Makmun Hidayat

272

JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menuturkan pembangunan infrastruktur transportasi umum, kini menjadi kunci pembangunan kota. Menurut dia, pada 2050, lebih dari 70 persen populasi dunia akan tinggal di kota.

“Karena itu, rencana pembangunan transportasi adalah kuncinya,” ucap Anies di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Senin sore (15/4/2019).

Anies mengatakan, masalah transportasi di Jakarta adalah perpindahan masyarakat yang sebelumnya hampir 48 persen menggunakan kendaraan umum pada 1998, mengalami penurunan hingga 33 persen lantaran beralih ke kendaraan pribadi.

Perubahan selama 20 tahun ini, harus segera dientaskan dengan infrastruktur kendaraan publik Jakarta yang terintegrasi dan terkoneksi di seluruh wilayah ibu kota.

Menurutnya, kondisi angka ini harus dikembalikan, bahkan lebih jauh lagi. Perbandingannya 75 persen dengan menaiki transportasi publik dan sisanya sebanyak 25 persen mengendarai kendaraan pribadi.

“Itu semuanya membutuhkan investasi masif dan kebijakan yang konsisten di semua sektor. Bukan hanya satu sektor, melainkan semua sektor,” katanya.

Dia menilai, sejak tahun 2005, masyarakat Indonesia telah banyak tinggal di perkotaan dibandingkan dengan perdesaan. Pada 2050 akan lebih dari 70 persen populasi dunia akan tinggal di kota.

Orang nomor satu di DKI mengatakan, saat ini pembangunan fasilitas transportasi umum massal yakni Bus Rapid Transit (BRT), Moda Raya Terpadu (MRT) dan Lintas Rel Terpadu (LRT) tengah dilakukan. Anies mengaku masih membutuhkan investasi hingga mencapai target penyelesaian selama 10 tahun.

Selain itu, dia juga masih membutuhkan beberapa rencana pembangunan kota. Dia mengaku telah menerima masukkan dari berbagai pihak termasuk, agensi pembangunan internasional agar bisa diadopsi di Jakarta sesuai kebutuhannya.

“Kita ingin mengajak banyak agensi pembangunan internasional untuk membagikan praktik terbaik dan telah dibuktikan dari seluruh dunia. Kita ingin mengadopsinya, bukan sekadar mengadaptasinya. Tidak ingin sekadar meniru begitu saja tanpa melihat konteks yang terjadi di Jakarta,” ujar Anies.

Pasalnya, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu melihat dari pembangunan infrastruktur publik, di Jakarta membawa nilai persatuan dan menjadi tempat interaksi warga tanpa memandang latar belakangnya.

Anies mencontohkan, transportasi modern MRT Jakarta yang dapat digunakan oleh siapa saja tanpa memperlihatkan adanya kelas bisnis ataupun kursi prioritas kecuali bagi penyandang disabilitas, orang tua, dan ibu membawa anak.

“Saya berharap setelah diskusi ini, kita memiliki kerangka pemikiran yang baru untuk dapat melanjutkan pembangunan kota kita, agar kita mewujudkan Ibu Kota Indonesia yang lebih baik. Terima kasih kepada ADB yang telah memfasilitasi diskusi ini dan selamat berdiskusi,” jelasnya.

Selain pembangunan sektor transportasi, Anies juga menekankan pembangunan di sektor rumah dalam memenuhi kebutuhan dasar tingkat mikro, serta memfasilitasi sektor swasta agar terus tumbuh berkembang di Jakarta.

“Kita ingin mengajak banyak agensi pembangunan internasional untuk membagikan praktik terbaik dan telah dibuktikan dari seluruh dunia. Kita ingin mengadopsinya, bukan sekadar mengadaptasinya,” tutupnya.

Lihat juga...