Banjir di Bengkulu, 10 Meninggal Dunia 12.000 Mengungsi

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Hujan deras yang mengguyur seluruh wilayah di Bengkulu selama dua hari telah menyebabkan bencana banjir dan longsor di 9 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu.

Dampak bencana meluas, berdasarkan data dari BPBD Bengkulu, tercatat 10 orang meninggal dunia, 8 orang hilang, 2 orang luka berat, 2 orang luka ringan, 12.000 orang mengungsi, dan 13.000 jiwa terdampak bencana.

“Berdasarkan data dari BPBD Provinsi Bengkulu, hingga saat ini tercatat 10 orang meninggal dunia, 8 orang hilang, 2 orang luka berat, 2 orang luka ringan, 12.000 orang mengungsi, dan 13.000 jiwa terdampak bencana. Kerusakan fisik meliputi 184 rumah rusak, 4 unit fasilitas pendidikan, 40 titik infrastruktur rusak (jalan, jembatan, oprit, gorong-gorong) yang tersebar di 9 kabupaten/kota,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB di Jakarta, Minggu (28/4/2019).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho – Foto: M. Hajoran Pulungan

Menurut Sutopo, selain kerusakan di atas akibat dampak banjir dan longsor, ada 9 lokasi sarana prasarana perikanan dan kelautan yang tersebar di 5 kabupaten/kota yang juga mengalami kerusakan. Ditambah Sutopo, data dampak bencana ini dapat bertambah mengingat belum semua lokasi bencana dapat dijangkau.

“Bencana banjir dan longsor terjadi di 9 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu, di antaranya adalah Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan, dan Kabupaten Kaur,” papar Sutopo.

Saat ini sebut Sutopo, banjir sebagian sudah surut di beberapa wilayah, namun banjir masih banyak menggenangi permukiman di beberapa wilayah. Dampak bencana susulan yang mungkin timbul adalah munculnya penyakit kulit dikarenakan minimnya air bersih, gangguan ISPA, dan lain-lain.

Selain itu longsor dan banjir dapat berpotensi kembali terjadi jika curah hujan tinggi.

“Penanganan darurat bencana terus dilakukan. Gubernur Bengkulu telah memerintahkan seluruh jajaran SKPD agar mengerahkan potensi yang ada di daerah untuk membantu penanganan darurat bencana. Gubernur Bengkulu telah melaporkan dampak bencana kepada Kepala BNPB. BNPB sendiri telah mengirimkan Tim Reaksi Cepat untuk mendampingi BPBD dan memberikan bantuan dana siap pakai untuk operasional penanganan darurat,” jelasnya.

Untuk kepala daerah yang daerah mengalami bencana, lanjut Sutopo, diimbau segara menetapkan status darurat untuk mempercepat penanganan darurat. Posko Induk di BPBD Provinsi Bengkulu telah didirikan tepatnya di Ruang Pusdalops dan mendirikan posko pengungsian di 12 titik lokasi.

Rapat koordinasi terus dilakukan setiap hari. Penyelamatan, pencarian korban dan evakuasi korban dilakukan dengan menggunakan perahu karet.

“Dapur umum sudah didirikan dan guna melaksanakan pendistribusian makanan. Pengerahan tenaga aparat Pemda, POLDA, TNI/Polri, Lanal, BASARNAS, Tagana, ACT, PKPU, MDMC, mahasiswa, perkumpulan organisasi-organisasi lainnya terus dilakukan,” ujarnya.

Perbaikan darurat dilakukan, khususnya untuk mengatasi jalur transportasi dan distribusi bantuan. Untuk mengatasi longsor yang menutup badan jalan pemerintah setempat telah melakukan pembersihan material menggunakan alat berat (eskavator) sehingga akses jalan dapat dilalui.

Untuk jalan dan jembatan yang putus telah dilakukan survei, pendataan dan pengamanan dengan memasang rambu peringatan di jalan.

“Kendala yang dihadapi dalam penanganan darurat saat ini adalah sulit menjangkau ke lokasi titik-titik banjir dan longsor dikarenakan seluruh akses ke lokasi kejadian terputus total. Koordinasi dan komunikasi ke kabupaten/kota cukup sulit dilakukan karena aliran listrik banyak yang terputus,” ungkapnya.

Pendistribusian logistik sebut Sutopo, terhambat karena akses jalan banyak yang terputus karena banjir dan longsor. Titik lokasi bencana banjir dan longsor sangat banyak sedangkan jarak antar titik banjir dan longsor berjauhan, sehingga menyulitkan untuk mencapai semua lokasi. Terbatasnya dana/anggaran yang memadai sehingga menyulitkan operasional penanganan bencana.

“Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda pengungsian, perahu karet, selimut, makanan siap saji, air bersih, family kid, peralatan bayi, lampu emergency, peralatan rumah tangga untuk membersihkan lumpur dan lingkungan, sanitasi, dan tenaga relawan,” sebutnya.

BPBD sendiri masih terus melakukan pendataan dampak bencana dan penanganan bencana. Masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi hujan berintensitas tinggi masih dapat berpotensi terjadi di wilayah Indonesia.

Lihat juga...