hut

Bantul Butuh Embung Untuk Lahan Kritis

Embung Julantoro di Desa Panggungharjo, Sewon Bantul - Dok: CDN

YOGYAKARTA – Kabupaten Bantul membutuhkan embung atau tempat menyimpan cadangan air untuk optimalisasi kegiatan pertanian lahan kritis.

“Embung itu untuk pengembangan (pertanian), terutama untuk daerah-daerah kritis, karena lahan kritis itu biasanya tidak ada aliran irigasi, makanya satu satunya jalan adalah menggunakan embung,” kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi, di Bantul, Sabtu (6/4/2019).

Karena itu, kata dia, pembangunan embung di Bantul seperti yang pernah diwacanakan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, beberapa waktu lalu direspons positif, karena Bantul masih membutuhkan embung untuk membuka lahan pertanian di daerah kritis.

Dia mengatakan, embung tersebut akan bisa berfungsi menyimpan atau menampung kelebihan air, misalnya saat musim hujan, selain itu bisa dialiri dari air dalam melalui sumur bor. Saat musim kemarau bisa digunakan untuk mengairi lahan.

“Embung itu airnya diambil dari sumur bor atau air dalam atau air hujan, sehingga kita bisa memperluas areal tanam, seperti di daerah Selopamioro, Imogiri dan Seloharjo, Pundong, dan Dlingo itu daerah-daerah yang perlu membutuhkan embung,” katanya.

Tetapi, sambungnya, kalau daerah yang saluran irigasi bagus itu tidak perlu embung, sehingga embung sebenarnya untuk menampung air bila nanti terjadi krisis air, dan itu sangat bermanfaat dan perluas areal tanam.

Pihaknya belum mendata secara pasti berapa luas lahan kritis atau yang kesulitan mendapat aliran air, namun diperkirakan mencapai seribu hektare lebih, sehingga ke depan akan dioptimalkan pemanfaatannya.

“Masih ada banyak lahan kritis di Bantul, dan lahan kritis itu yang dibutuhkan embung dan itu tersebar di Dlingo, Pundong dan Imogiri, karena banyak daerah yang belum bisa terjangkau air irigasi secara teknis maupun semi teknis,” katanya. (Ant)

Lihat juga...