Berkonsep Tradisional, Petugas TPS Kenakan Baju Adat

Editor: Satmoko Budi Santoso

174

LAMPUNG – Pesta demokrasi pemilihan umum (Pemilu) 2019 disambut gembira oleh masyarakat tanpa kecuali bagi Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).

Cara unik ditempuh oleh KPPS di TPS 12 dengan menerapkan konsep tradisional mengenakan baju adat khas Yogyakarta.

Matias Krismanto, ketua KPPS di TPS 12 Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut, konsep tersebut sudah dibahas beberapa pekan sebelum pelaksanaan Pemilu.

Pilihan mengenakan baju adat asal Yogyakarta disebut Matias Krismanto, disepakati oleh seluruh anggota KPPS. Sebagian besar warga yang berasal dari Yogyakarta dan menetap di Lampung, disebutnya menjadi simbol perbedaan yang ada di Indonesia.

Matias Krismanto, ketua kelompok penyelenggara pemungutan suara di TPS 12 Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Meski berlatar belakang perbedaan pilihan, namun tetap disatukan dalam bingkai persatuan sebagai bangsa Indonesia. Seluruh anggota KPPS yang bertugas bagi laki-laki mengenakan beskap, blangkon lengkap dengan keris sebagai asesoris. Bagi anggota perempuan mempergunakan kebaya bermotif batik.

Bagi sejumlah panitia yang tidak memiliki baju adat, penggunaan baju batik menjadi ciri khas pada TPS 12 tersebut. Penggunaan baju adat menurutnya sekaligus menandai keberadaan TPS 12  pada Pemilu serentak 2019.

Sebab seiring perkembangan jumlah penduduk, TPS yang ada di desa Pasuruan bertambah untuk mengakomodir pemilih. Selain petugas TPS yang mengenakan baju adat, selama pelaksanaan pemungutan suara disediakan berbagai buku bacaan.

“Pada penyelenggaraan pemilu tahun ini, sesuai kesepakatan untuk meminimalisir kebosanan terutama bagi orang tua yang membawa anak-anak, koordinasi dengan pegiat literasi dilakukan dengan menyediakan buku bacaan,” terang Matias Krismanto, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (17/4/2019).

Penyediaan buku bacaan yang didominasi buku bergambar bagi anak-anak disebut Matias Krismanto, berkoordinasi dengan pegiat literasi Motor Pustaka. Pilihan menyediakan pojok baca atau perpustakaan tidak jauh dari lokasi TPS disebutnya memperhitungkan waktu pemungutan suara yang membutuhkan waktu lama.

Saat orang tua mengajak serta anak-anak, tempat yang menyediakan buku bacaan gratis juga menjadi tempat penitipan anak-anak.

Penyediaan buku bacaan bagi anak-anak tersebut merupakan pertama kali digelar oleh KPPS setempat. Ratusan buku yang disediakan diantaranya berupa buku komik, buku dongeng, resep masakan bagi sejumlah ibu rumah tangga serta berbagai buku ilmu pengetahuan.

Cara tersebut diakui Matias Krismanto sangat efektif karena lokasi yang disediakan nyaman dengan pendampingan dari warga.

Sebagian orang tua yang menggunakan hak pilih dan membawa serta anak-anak bahkan memanfaatkan fasilitas buku bacaan gratis tersebut. Di TPS 12, sebanyak 293 orang waktu pelaksanaan pemungutan suara berlangsung sejak pukul 07.00 hingga pukul 13.00 WIB.

Waktu yang cukup lama tersebut oleh sebagian orangtua yang bertugas sebagai saksi, anggota KPPS dipergunakan untuk menitipkan sang anak yang dijaga oleh petugas sekaligus membaca buku.

Rusli, salah satu anggota KPPS di TPS 12 mengaku, mengenakan baju adat saat pemilihan umum baru saat Pemilu 2019.

Ia menyebut, kerap mengenakan baju adat dengan baju beskap, blangkon lengkap dengan keris terselip di pinggang, hanya dikenakan saat pernikahan.

Ia mengaku, mengenakan baju adat sebagai simbol keberagaman bagi warga yang terdiri dari beragam suku. Meski beragam suku dan berbeda pilihan ia menyebut, simbol persatuan juga terlihat dengan bendera merah putih sepanjang 73 meter dipasang di TPS tersebut.

“Sebagai sebuah pesta demokrasi, mengenakan baju adat ikut menyemarakkan kegiatan pemungutan suara dalam pesta lima tahunan ini,” beber Rusli.

Ermina Krisyantini, salah satu ibu rumah tangga yang bertugas menjaga buku bacaan menyebut, antusiasme warga cukup tinggi.

Ermina Krisyantini, salah satu warga yang menunggu buku-buku bacaan untuk dibaca anak-anak yang ditinggal selama pemungutan suara – Foto: Henk Widi

Sejumlah ibu rumah tangga yang membawa serta anak-anaknya diberi kesempatan untuk membaca buku. Anak-anak yang membaca buku di antaranya memilih hanya melihat buku bergambar. Kegiatan membaca buku sekaligus menjadi kesempatan untuk membudayakan kegiatan membaca buku.

Buku bacaan yang disiapkan menurut Ermina Krisyantini, merupakan buku yang disiapkan oleh Motor Pustaka. Buku bacaan yang disediakan sengaja dihamparkan di tikar agar anak-anak bisa beristirahat bersama orang tua sembari menunggu proses pemungutan suara.

Penyiapan buku bacaan tersebut mendapat apresiasi dari Santi, salah satu orang tua yang memiliki anak usia 9 tahun. Saat menunaikan kewajiban memberikan hak suara, ia bisa menitipkan anaknya sembari membaca buku.

TPS 12 disebutnya menjadi satu-satunya yang menyediakan buku bacaan saat penyelenggaraan pemungutan suara.

Lihat juga...