BI Kaltim Dorong Pengembangan UMKM Melalui Program Klaster

Editor: Koko Triarko

BALIKPAPAN – Melalui program klaster, Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, turut mengembangkan berbagai sektor usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM) di daerah setempat. Program Klaster merupakan sekelompok UMKM yang beroperasi pada sektor/sub sektor yang sama yang saling berkaitan, dari hulu ke hilir. 

“Program klaster di Kpw BI Balikpapan adalah klaster bawang merah dan cabai. Di Balikpapan, dikembangkan di Gunung Bubukan, Teritip, dan Desa Rintik, Kabupaten Penajam Paser Utara,” kata Thomy Andryas, Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kpw BI Balikpapan, Selasa (30/4/2019).

Thomy Andryas, Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kpw BI Balikpapan –Foto: Ferry Cahyanti

Menurutnya, program dilaksanakan dengan multiyears sejak 2017 hingga 2020, dengan melakukan perbaikan sisi produksi dengan meningkatkan kompetensi petani.

Program klaster juga mendampingi bukan hanya pada peningkatan jumlah produksi, namun bagaimana meningkatkan akses pasar.

“Tahun ini akan dilakukan pengembangan hilirisasi komoditas bawang merah menjadi bawang goreng. Yaitu, peningkatan akses pasar dan akses keuangan,” terang Thomy Andryas.

Dari pengembangan UMKM klaster bawang merah tersebut, saat ini berhasil mencapai 24,53 ton hingga triwulan I/2019 dengan produktivitas rata-rata 7,38 ton/ ha untuk Kota Balikpapan. Sedangkan Kabupaten Penajam Paser Utara total produksi 100,88 ton dengan produktivitas rata-rata 8,66 ton/ ha.

Thomy mengatakan, pengembangan UMKM program klaster cabai juga dikembangkan dengan konsep yang sama. Klaster cabai adalah pilot project pengembangan budi daya cabai nonpestisida yang juga merupakan pusat edukasi dan pembibitan cabai.

Thomy menerangkan, program klaster berjalan berdasarkan pada tahap persiapan, tahap implementasi dan tahap Phasing Out.

KPw BI Provinsi Kaltim juga mengembangkan klaster lainnya. Yaitu, pengembangan klaster padi organik di Kabupaten Kutai Barat dan Berau.

“Klaster lainnya adalah pengembangan sapi di kota Samarinda. Programnya mulai berjalan sejak 2015,” sebut Thomy.

Dia mengharapkan, dengan pengembangan UMKM Klaster membantu pelaku industri inti untuk terus memproduksi dan mengakses pasar.

“Kualitas dan akses keuangan yang meningkat, menjadi salah satu upaya pengembangan program tersebut,” imbuhnya.

Lihat juga...