Burung Rangkong, Satwa Sarat Nilai Budaya Masyarakat Dayak 

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Kepakan sayap burung Rangkong atau Burung Enggang membaca gerakan lincah tubuh untuk meloncat dari dahan satu ke dahan lain. Suara khas keluar dari paruh, yang berbentuk tanduk sapi berwarna putih berpadu orange, terdengar menggema. 

Penampilan gagah dengan kepakan sayap yang mengembang, dan suara khas tersebut, melambangkan keberadaan Rangkong sebagai panglima burung yang memimpin perang. Pemandangan indah burung khas Kalimatan tersebut, menghiasi area Kubah Barat Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Manajer Unit Taman Burung dan Tamam Reptile serta Museum Komodo TMII, M.Piter Kombo. Foto: Sri Sugiarti.

Manajer Unit Taman Burung dan Tamam Reptile serta Museum Komodo TMII, M. Piter Kombo, mengatakan, di Indonesia ada 20 jenis burung Rangkong. Kesemuanya tersebar di beberapa daerah.

“Kami di Taman Burung TMII punya delapan jenis burung Rangkong dari 20 jenis yang ada di Indonesia. Koleksi dari Indonesia bagian barat, ada Julang Emas, Rangkong Badak, Kangkareng Perut Putih, Kangkareng Perut Hitam, Julang Sunda Jambul Putih, Julang Sunda Jambul Hitam, Rangkong Gading. Kalau dari Indonesia bagian timur, ada Julang Irian dan Julang Sulawesi,” kata Kombo, kepada Cendana News, Selasa (30/4/2019).

Menurutnya, tidak semua jenis burung Rangkong dimiliki Kebun Binatang. Namun Taman Burung TMII dipercaya oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), melestarikan ragam jenis burung Rangkong. Salah satu jenis burung Rangkong yang langka dan hanya dimiliki Taman Burung TMII adalah Julang Sunda Jambul Hitam. “Julang Sunda Jambul Hitam hanya ada di Ujung Kulon, dan sampai saat ini belum ada penelitian yang menyatakan jumlah pastinya berapa. Ini jenis Rangkong langka,” ungkap Kombo.

Ragam burung Rangkong tersebut menjadi indentitas daerah. Kalimantan dengan Enggang Gading (rhiroplax vigil). Sulawesi Selatan Rangko Sulawesi (rhyin ceres cassidix), dan Sumbar Barat Rangko Sumba (rhyin ceres everth). “Burung Rangkong sering dipakai sebagai ikon kebudayaan di Indonesia, contohnya suku Dayak, Kalimantan,” ujar Kombo.

Masyarakat Dayak yang merupakan suku asli Kalimantan, menempatkan Rangkong sebagai burung yang dikeramatkan. Mereka menganggap burung Rangkong sebagai penjelmaan dari panglima burung di hutan pedalaman Kalimantan. Panglima burung, adalah sosok berwujud gaib, yang hanya akan hadir saat perang terjadi.

Burung Rangkong disakralkan dan tidak diperbolehkan untuk diburu apalagi dikonsumsi. Bagian kepalanya digunakan untuk hiasan kepala baju adat. Adapun kerangka kepala burung Rangkong yang keras bertulang akan tetap awet.

Masyarakat Dayak menggunakan kepala burung Rangkong untuk hiasan kepala. Namun, tidak sembarangan orang bisa memakai hiasan kepala dari kepala burung Rangkong. Hiasan kepala burung Rangkong hanya digunakan oleh orang-orang terhormat di suku Dayak, seperti kepala suku. Bulu burung Rangkong juga dijadikan hiasisan kepala suku. Bulu dari Rangkong juga dikenakan untuk hiasan kepala para penari khas Dayak.

Burung Rangkong juga dianggap sebagai simbol pemimpin idaman, yang mencintai perdamaian. Sayapnya dilambangkan sebagai tempat perlindungan bagi rakyatnya. Kepak sayapnya, dianggap sebagai kekuatan dan keberanian, karena bunyinya yang nyaring. Sedangkan suara yang keluar dari paruh, menjadi simbol pemimpin yang selalu didengarkan rakyat.

Rangkong memiliki pola hidup yang unik dan menarik. Setia pada pasangannya, dan selama Rangkong betina bersarang di lubang pohon yang ditutupi lumpur, maka Rangkong jantan mencari makan dan memberi makanan pada Rangkong betina lewat lubang sarang yang disisakan separuh.

Ketika sudah tiba telur yang dieramnya menetas, maka Rangkong betina akan memecahkan lumpur yang menutup lubang. Fakta lainnya, adalah jika pasangannya mati, burung ini akan tetap sendiri hingga akhir hidupnya, tanpa mencari pendamping baru.

Rangkong Badak di Taman Burung TMII, Jakarta. Foto: Sri Sugiarti.

Keunikan lainnya, satwa pemakan buah-buahan tersebut memiliki kemampuan menebar biji hingga 100 kilometer jauhnya. Burung Rangkong sangat berjasa pada proses regenerasi di hutan. “Sehingga tak heran, kalau burung Rangkong ini dijuluki petani hutan. Karena perilakunya telah membuktikan mampu menjelajahi 100 kilometer wilayah hutan sambil menebar biji buah,” ujarnya.

Di dunia, terdapat 53 jenis burung Rangkong. Keberadaanya tersebar di Afrika Selatan, Asia Tenggara sampai kepulauan Solomon di Pasifik. Di Indonesia persebarannya di Sumatera ada sembilan jenis Rangkong.

Di Kalimantan ada delapan jenis, Bali dan Jawa masing-masing dua jenis. Sumba, Maluku dan Papua, masing-masing satu jenis Rangkong. Sulawesi dan Sumba, adalah wilayah dengan burung Rangkong endemik tertinggi.

Taman Burung TMII dipercaya oleh KLHK sebagai lembaga konservasi yang mengembangkan burung Rangkong dan Kakatua Jambul Kuning. “Ragam jenis burung Rangkong yang tersaji di sini adalah warisan nenek moyang yang harus dilestarikan. Ada nilai-nilai budaya yang tidak lepas,” ujarnya.

Sehingga manakala ada beberapa orang pencinta budaya mencoba merayu meminta koleksi bulu burung Rangkong. Dengan tegas hal tersebut di tolak. “Kami menolak rayuan itu, karena burung Rangkong yang sarat nilai budaya ini, adalah satwa yang dilindungi,” pungkasnya.

Lihat juga...