hut

Cahaya Zaman, Meriahkan Puncak HUT ke-44 TMII 

Editor: Mahadeva

JAKARTA –Puncak acara HUT ke-44 Taman Mini Indonesia (TMII) digelar di Sasono Langen Budoyo, Sabtu (20/4/2019) sore. Acara diisi sendra tari bertajuk, Cahaya Zaman, persembahan Sulawesi Utara (Sulut).

Provinsi Sulut menjadi icon ulang tahun TMII. Sendra tari tersebut mengisahkan, perjuangan pahlawan nasional, Maria Walanda Maramis. Gelaran seni khas Sulut tersebut, dibuka dengan lagu Masambo, dalam kekuatan musik perkusi Minahasa.

Bangunan imaji mistis Minahasa, menjadi daya tarik ekspresi gerak dan mimik dalam sendra tari kisah perjuangan Maria Walanda Marawis. Perempuan Minahasa tersebut menggumuli perannya dalam memperjuangkan kemitrasejajaran kaum peremuan di tengah-tengah pergulakan kaum lelaki di masa itu. Lebih awal dari perjuangan RA Kartini, dan lebih lama masa pengabdiannya. RA Kartini, pada usia 25 tahun sudah wafat. Tentu ini tidak tidak mudah membangun kualitas diri perempuan dalam kualitas keluarga pribumi.

Tanpa merendahkan peran laki-laki atau suami dalam hirarki keluarga. “Sebagai Ibu, Maria Walanda Marawis menjadi contoh dalam memberikan keleluasaan pada anak-anak perempuan agar terdidik, terampil dan mampu mengembangkan potensi diri,” kata Kepala Bagian Produksi dan Kreatif Program Bidang Budaya TMII, Trimawarsanti.

Maria juga mengajarkan kepada istri pengawai pemerintahan Belanda, agar memahami makna pernikahan. Ia juga membimbing cara berpikir mereka, agar berkualitas dan memiliki kebebasan sepadan dengan pasangannya. Kehadiran Maria, menjadi cahaya bagi perempuan dan kaum muda serta para suami. Muncul kesadaran baru dalam pikiran dan pola hidup dan kehidupan masyarakat Minahasa dan sekitarnya.

Para penari “Cahaya Zaman” berfoto bersama Gubernur Sulut, Olly Dondokambay dan Direktur Utama TMII, Tanribali Lamo pada puncak HUT ke 44 TMII di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Sabtu (20/4/2019) sore. Foto: Sri Sugiarti

“Pikiran dan ajaran Ibu Maria menjadi pelita dan arah bagi kehidupan yang sejahtera, terhormat dan berkualitas Kendati pihak penjajah upaya Ibu Maria tidaklah menguntungkan eksitensi politik kekuasaan penjajah di tanah pribumi,” ujarnya.

Ancaman dan tekanan muncul, serta menghambat upaya-upaya perjuangan Maria. Ia dilarang melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi. Bahkan Jozef, suaminya yang seorang guru di sekolah Belanda dipecat, karena dianggap pemberontak dengan mendukung ide-ide istrinya.

Di tengah pertentangan dan upaya Maria memperjuangkan hak-hak perempuan dan kaum muda di Minahasa. Dia mendirikan perkumpulan bernama Pencinta Ibu dan Anak-Anak Temurunnya (PIKAT), pada  8 Juli 1917 di Manado. PIKAT bertujuan untuk memperat tali persaudaraan antar kaum perempuan Minahasa. Membina masa depan kaum muda, mengajarkan keberanian bebas berpendapat, meningkatkan martabat perempuan, dan menanamkan perasaan cinta pada tahan kelahiran.

Dari PIKAT ini muncul kelas-kelas keterampilan, seperti menjahit, bordir,memasak, dan berbagai kegiatan lainnya. Selain sendra tari, batik khas Sulut menjadi seragam bagi seluruh karyawan TMII pada HUT ke 44.  Pada kesempatan ini, Direktur Utama TMII, Tanribali Lamo, mengucapkan  terima kasih kepada Gubernur Sulut, Olly Dondokambang, atas dukungannya terhadap kegiatan pekan HUT ke-44 TMII.  “Hari ini, kami serasa di Manado. Karena kami menggenakan batik khas Sulut. Kami ucapkan terima kasih pada Gubernur Sulut, Pak Olly Dondokambay atas partisipasinya memeriahkan HUT ke-44 TMII,” ujar Tanri.

Tanri berharap perayaan HUT TMII mampu memberikan keberkahan dalam semangat melestarikan budaya bangsa.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!