Ciwel Serundeng, Camilan Tradisional yang Banyak Dicari

Editor: Mahadeva

370
Penjual ciwel serundeng Bu Fitriyatun sedang melayani pembeli. (FOTO : Hermiana E. Effendi) 

PURWOKERTO – Di era serba modern, makanan tradisional tetap mendapat tempat di masyarakat. Di Purwokerto, dikenal yang namanya ciwel serundeng, makanan yang terbuat dari beras ketan tersebut banyak dicari warga, terutama saat pulang kampung.

Tak heran jika penjual ciwel serundeng, tak hanya bisa dijumpai pagi hari, tetapi juga ada yang berjualan sore hari. Salah satu penjual ciwel sertundeng, Bu Fitriyatun mengatakan, ciwel serundeng banyak diburu pembeli karena makanannya tahan lama.

Dibandingkan ciwel yang menggunakan kelapa parut biasa, Ciwel serundeng lebih tahan lama. Serundeng dibuat dengan dimasak hingga kering, sehingga tidak mudah basi. “Kalau ciwel biasa, kelapa parutnya paling lama bertahan sekitar empat jam, sesudah itu akan basi. Karena itu saya pilih jualan ciwel serundeng, lebih tahan lama, sampai sore juga tidak basi,” tutur Fitriyatun, Sabtu (20/4/2019).

Ciwel terbuat dari beras ketan yang dimasak menjadi nasi ketan. Setelah matang, nasi ketan ditumbuk hingga lembut. Setelah itu, baru dipadatkan dan diiris dengan ukuran kotak kecil-kecil.  Sementara, serundeng dibuat dari parutan kelapa muda yang diberi bumbu, dan dipanaskan dalam wajan dengan menggunakan sedikit minyak goreng. Saat warna sudah kecoklatan dan kering, baru diangkat. Cara menghidangkannya sederhana, serundeng hanya ditaburkan di atas ciwel.

Ciwel serundeng,  makanan khas tradisional yang banyak dicari pembeli karena lebih tahan lama. (FOTO : Hermiana E. Effendi)

Bu Fitriyatun membuat ciwel serundeng dua kali dalam sehari.  Saat pagi, Dia berjualan ciwel serundeng di Pasar Manis, Purwokerto. Pasar ini hanya buka dari pagi hingga siang hari. Biasanya, sekitar pukul 11.00 WIB, dagangannya sudah habis.

Sore hari, Bu  Fitriyatun kembali berjualan ciwel serundeng. Namun lokasinya berbeda, Dia berjualan di pusat kuliner Purwokerto, Pratista Hasta. Pasar kuliner yang berada di pusat Kota Purwokerto atau dekat dengan Alun-Alun Purwokerto, memang baru buka sore hari, sekira pukul 17.00 WIB dan dipenuhi pengunjung hingga malam hari. “Di Pratista Hasta lebih ramai,  satu tampah penuh ciwel serundeng bisa habis, karena kalau malam banyak yang makan di sini.” pungkasnya.

Lihat juga...