Cuaca Tidak Bersahabat, Pasokan Ikan Menurun

Editor: Mahadeva

194

LAMPUNG – Hasil tangkapan ikan di wilayah perairan Selat Sunda sedang minim. Imbasnya, pasokan ikan laut menurun.

Subari, salah satu nelayan bagan congkel di pusat pendaratan ikan Muara Piluk Bakauheni menyebut, dua hari terakhir kondisi cuaca diperairan tidak bersahabat. Nelayan harus mengalami larat atau terseret angin dan arus. Selain angin kencang, ketinggian gelombang di perairan Selat Sunda sisi utara mencapai 1,25 hingga 2,50 meter.

Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Lampung, kondisi angin kencang mencapai dua hingga 15 knots. Selain angin kencang dan gelombang, perairan Selat Sunda juga mengalami hujan sedang. Potensi angin bertiup dari Timur laut hingga Tenggara, dengan kecepatan antara dua hingga 25 knots.

Imbasnya, nelayan memilih menepi atau berlindung di balik Pulau Kandang Balak dan Pulau Prajurit. Ada pula nelayan yang memilih kembali ke dermaga Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Muara Piluk. Nelayan memilih memperbaiki peralatan tangkap, dan beristirahat demi keselamatan. “Kami selalu melihat informasi prakiraan cuaca dari BMKG, dua hari terakhir kondisi di Selat Sunda tidak bersahabat. Nelayan kembali merapat di dermaga karena khawatir mengalami kecelakaan laut,” terang Subari kepada Cendana News, Sabtu (20/4/2019).

Minimnya pasokan, membuat pedagang ikan keliling atau pelele, kesulitan memperoleh dagangan. Juanda, pelele asal Bakauheni menyebut, harus mendapatkan ikan laut segar dari wilayah Kecamatan Ketapang. Ikan segar jenis tenggiri, ikan kembunh dan ikan tanjan, diperoleh dari nelayan rawe dasar. Nelayan rawe dasar mencari ikan dari sekitar pulau di Ketapang, seperti Pulau Mundu, Pulau Seram, Pulau Keramat dan Pulau Suling.

Di kondisi cuaca seperti itu, ikan pelagis atau ikan bergerombol juga berlindung di balik pulau-pulau. “Ikan laut segar yang biasanya melimpah menjadi sulit diperoleh, karena nelayan banyak yang tidak melaut, saya bisa menjual ikan karena membeli dari nelayan di Ketapang,” papar Juanda.

Maman,salah satu pedagang ikan keliling asal Kalianda melayani pembeli – Foto Henk Widi

Selain ikan laut segar, Juanda masih bisa menjual ikan yang diawetkan atau ikan paket dari Lampung Timur (Lamtim). Ikan paket merupakan ikan hasil tangkapan nelayan sepekan sebelumnya. yang diawetkan di lemari pendingin. Meski dalam kondisi segar, Dia menyebut, ikan yang diawetkan dengan es jumlahnya sangat terbatas. Pedagang dari Kabupaten Lampung Tengah dan daerah lain mengandalkan hasil tangkapan nelayan Lamtim.

Ikan tersebut merupakan hasil tangkapan ikan nelayan bagan cumi berukuran besar, yang memiliki lemari pendingin (cold storage) yang mendarat setelah setengah bulan melaut. Ikan tersebut sebagian akan dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan ikan asap dan ikan asin. Ikan paket disebutnya diperoleh dari PPI Muara Gading Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lamtim. Selanjutnya ikan tersebut didistribusikan kepada pengepul ikan, untuk dijual kembali kepada pelele.

Pedagang ikan lain, Maman, asal Kalianda menyebut, Dia kesulitan mendapat ikan laut untuk dijual. Pelele yang biasanya membeli ikan dari dermaga bom Kalianda tersebut, ikut mendatangkan ikan dari Lamtim. Minimnya pasokan, membuat harga sejumlah ikan naik. Kenaikan dialami ikan jenis tengkurungan, yang semula dijual Rp18.000 naik menjadi Rp23.000. Ikan tanjan semula Rp13.000 sekarang menjadi Rp17.000 perkilogram. “Selain ikan laut sedang minim pasokan sejumlah pembudidaya ikan air tawar bisa memasok ikan untuk dijual,” pungkas Maman.

Lihat juga...