Desain CSW Karya Biro Studio Lawang, Menangi Sayembara

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menggelar sayembara desain Prasarana Integrasi Transportasi di Simpang Cakra Selaras Wahana (CSW). Penjurian final untuk menentukan tiga pemenang dilakukan pada Senin.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menetapkan rancangan CSW karya Biro Studio Lawang sebagai pemenang sayembara desain prasarana terintegrasi Halte BRT Transjakarta dan Stasiun MRT ASEAN Simpang CSW-Kebayoran Baru.

Sayembara ini merupakan salah satu bentuk kebijakan Jak Lingko yang mengintegrasikan transportasi publik ibu kota, yaitu koridor 1 dan 13 Transjakarta dengan MRT Jakarta. Selain itu, penyelenggaraan melalui sayembara terbuka memungkinkan masyarakat untuk turut serta berkolaborasi bersama pemerintah dalam membangun Jakarta.

Salah satu tantangan di Jakarta hari ini, kata Anies, adalah bagaimana membuat sebuah sistem transportasi umum massal yang terintegrasi. Sehingga, antar moda transportasi di Jakarta itu menjadi sebuah kesatuan. Konsekuensinya bagi warga bisa berangkat dari mana saja, bisa transfer dengan mudah untuk tujuan ke mana saja.

“Hari ini, kita semua dalam proses menuju itu. Kata kuncinya integrasi. Dan integrasi itu harus dimulai dari saat perencanaan,” ucap Anies di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Senin (15/4/2019).

Anies mencontohkan simpang Centrale Stichting Wederopbouw (CSW) merupakan salah satu contoh perencanaan yang kurang memperhatikan integrasi karena pembangunan infrastruktur BRT dan MRT yang hampir bersamaan, namun tidak berorientasi pada kemudahan untuk penumpang atau masyarakat.

“Kami senang, karena kita selalu mendorong sekarang projek-projek fasilitas publik, kita sayembarakan, sehingga bisa mendapatkan ide-ide terbaik dari masyarakat,” paparnya.

Orang nomor satu di ibu kota Jakarta mengatakan, dalam membangun sebuah infrastruktur harus ada pesan yang disampaikan kepada masyarakat. Sehingga perjalanan mereka harus menjadi pengalaman unik, tidak hanya menjadi rutinitas biasa.

“Harapan kita, prasarana ini dapat menjadi salah satu tempat bagi masyarakat Jakarta, Indonesia dan internasional akan menyaksikan integrasi moda transportasi publik di Jakarta,” tuturnya.

Karena itulah, Anies menangkap peluang agar ruang yang tidak terkelola dengan baik antara Halte Transjakarta CSW dengan Stasiun ASEAN MRT Jakarta mendapatkan solusi terbaik dari anak bangsa melalui mekanisme sayembara terbuka.

“Kelihatan dari sayembara tadi, solusi-solusi yang ditawarkan menarik sekali. Jadi, saya berharap Transjakarta dan MRT Jakarta bisa kerja bersama menuntaskan ini. Targetnya sebetulnya kita berharap kurang dari satu tahun, sudah semuanya bisa selesai,” ujarnya.

Sebab, lanjut Anies, di perempatan CSW ini ada kantor Asean yang setiap tahunnya menggelar 1.600 pertemuan. Diantaranya, 500-600 pertemuan dilaksanakan di Jakarta.

“Dengan adanya MRT Jakarta, mereka bisa nginep di hotel-hotel sepanjang Sudirman-Thamrin. Maka, simpang CSW ini akan menjadi satu ikon yang akan dilihat secara rutin bukan hanya oleh warga Jakarta, tetapi juga oleh dunia internasional,” ujarnya.

Sementara, Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono menjabarkan, CSW merupakan kawasan bersejarah sejak zaman penjajahan Belanda dengan kepanjangan Centrale Stichting Wederopbouw, yang memiliki rancangan awal sebagai pusat simpangan berbentuk bundaran. Seiring perkembangan zaman, model bundaran tersebut ditiadakan dan menjadikan simpang CSW sebagaimana jalan raya pada umumnya.

“Kami sudah sampaikan kepada para peserta. Ini kita tetapkan ada di angka pagu 30 miliar rupiah. Dan dari langkah ini, setelah ditetapkan, maka teman-teman dengan desain Cakra Selaras Wahana ini sebagai pemenang harus menghasilkan yang namanya Detail Engineering Design atau DED dengan target 45 hari,” ungkapnya.

Setelah pembangunan infrastruktur untuk BRT dan MRT, konsep integrasi moda trasportasi dan kawasan ramah pejalan kaki dibutuhkan untuk simpang CSW agar dikenal sebagai titik perpindahan kendaraan umum massal yang relevan dengan tata kota Kebayoran Baru masa kini maupun akan datang.

“Jadi, kita akan mengejar semaksimal mungkin bahwa di akhir bulan Mei 2019, idealnya sebelum lebaran, kita sudah memiliki Detail Engineering Design. Detail Engineering Design ini akan menjadi suatu dasar untuk kita kemudian melakukan pengadaan konstruksi pembangunan dari integrasi antara Halte CSW dan Stasiun MRT ASEAN ini,” kata Agung.

Selain itu dia mengatakan, penyelenggara sayembara desain ini merupakan keterlibatan masyarakat terhadap pembangunan transportasi publik di Jakarta yang terintegrasi antar moda.

“Titik simpang CSW ini yang ada kantor Asean adalah salah satu contoh perlu dilakukannya integrasi. Dan belum dilakukan integrasi di kawasan ini,” ucapnya.

Agung menyampaikan bahwa pendaftaran sayembara telah dilakukan pada 6-14 Februari 2019. Terdapat 25 karya yang didaftarkan dalam sayembara ini. Kemudian dari jumlah tersebut, terpilih 10 karya.

“Pada tanggal 26 Maret 2019, terpilih 5 karya yang berhak mengikuti seleksi akhir yang dilakukan hari ini. Banyaknya peserta yang mendaftar, menandakan animo yang besar dari para pakar dan arsitek,” paparnya.

Hadiah yang disediakan berupa uang senilai Rp 160 juta untuk juara pertama. Lalu Rp 40 juta untuk hadiah kedua dan Rp 20 juta untuk juara ketiga. Tidak hanya itu, pemenang pertama harus menuangkan karyanya dengan menyusun design engineering detail (DED).

“Pemenang pertama punya kewajiban membuat DED yang ditargetkan selesai pada akhir bulan Mei 2019. Setelah itu, kita akan buatkan desain untuk pengadaan konstruksi fisiknya. Kami targetkan dalam waktu 120 hari, pembangunan prasarana ini selesai. Sehingga di tahun ini juga integrasi antara Transjakarta dan MRT dapat terjadi,” papar Agung.

Lihat juga...