Digigit Anjing Rabies, Balita di Sikka Meninggal Dunia

Editor: Satmoko Budi Santoso

252

MAUMERE – Penyakit rabies atau kerap disebut anjing gila masih menyerang warga di kabupaten Sikka. Penanganan penyakit rabies yang lamban serta tidak ada keseriusan dari pemerintah menjadi penyebab virus rabies masih tetap ada.

“Korban berusia 3 tahun meninggal Senin (22/4/2019) pukul 23.04 WITA. Sangat disayangkan seorang bocah tidak mengetahui apa-apa harus menjadi korban keganasan virus rabies,”  sebut dr. Asep Purnama, sekretaris Komite Rabies Flores Lembata (KRFL), Selasa (23/4/2019).

Dikatakan dokter Asep,  Vaksin Anti Rabies (VAR) bagi manusia di Dinas Kesehatan dan VAR untuk hewan di Dinas Pertanian kabupaten Sikka kadang tidak tersedia. Ini yang menyebabkan pasien tidak mendapatkan suntikan VAR.

“Korban gigitan anjing atau hewan penular rabies harus segera diberi suntikan VAR. Anjing yang menggigit pun dibunuh dan dikuburkan. Sementara kepalanya dibawa ke Dinas Pertanian untuk diperiksa apakah positif rabies atau tidak,” terangnya.

Asep berharap agar semua kepala daerah berkomitmen untuk pemberantasan penyakit rabies ini. Selama ini, belum ada aksi nyata secara menyeluruh dan komprehensif untuk menangani.

“Biasanya semua pejabat pemerintah akan kaget ketika mengetahui ada warganya yang meninggal dunia. Harusnya dilakukan langkah-langkah untuk pencegahan, termasuk langkah pengobatan dengan selalu menyediakan VAR di setiap Puskesmas,” harapnya.

Selama periode tahun 2014 sampai tahun 2018, tercatat 43.719 kasus gigitan hewan penular rabies yang dilaporkan dari 9 kabupaten endemis rabies di provinsi NTT. Selain itu 38.039 kasus diberikan Vaksin Anti Rabies atau sebanyak 87 persen.

“Dari jumlah tersebut, sebanyak 34 kasus dilaporkan meninggal karena rabies pada manusia (Lyssa). Hingga saat ini, 9 kabupaten di provinsi NTT yang endemis rabies, sementara 13 kabupaten dan kota dinyatakan bebas rabies,” urainya.

dr. Mario Nara, dokter spesialis anak di RSUD TC Hillers Maumere, membenarkan adanya seorang balita asal kampung Blidit, desa Egon, kecamatan Waigete yang meninggal dunia. Korban diduga tertular virus rabies bila melihat gejalanya.

Dokter Mario B. Nara, dokter spesialis anak di RSUD TC Hillers Maumere. Foto: Ebed de Rosary

“Korban berusia 3 tahun dan memiliki riwayat digigit anjing sebelumnya. Balita tersebut menghembuskan napas terakhir saat dirawat di ruang isolasi anak sekitar pukul 23.04 WITA,” tuturnya.

Dikatakan Mario, korban datang ke UGD RSUD TC Hillers Maumere, Senin (22/4/2019) pukul 10.10 WITA. Saat tiba, kondisi korban panas, gelisah, bicara sembarang, sesak napas dan tidak bisa minum atau takut air.

“Keterangan dari orang tua korban, menyatakan bahwa setelah digigit anjing korban sempat dibawa ke Puskesmas Waigete. Petugas kesehatan di Puskesmas tersebut menyampaikan bahwa VAR tidak tersedia sehingga korban pun dibawa ke rumah sakit,” terangnya.

Lihat juga...