hut

Distan Kulon Progo Mulai Antisipasi Beroperasinya NYIA

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Dinas Pertanian dan Pangan mulai mengantisipasi adanya kemungkinan penyusutan lahan pertanian di wilayah Kulon Progo bagian selatan, menyusul pengoperasian bandara baru New Yogyakarta Internasional Airport (YIA), dalam waktu dekat ini. 

Hal itu dilakukan untuk mempertahankan tingkat produksi pertanian, khususnya tanaman hortikultura seperti cabai, yang selama ini menjadi komoditas unggulan kabupaten Kulon Progo.

Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo, Eko Purwanto –Foto: Jatmika H Kusmargana

Terlebih, komoditas cabai selama ini mayoritas ditanam di wilayah sisi selatan Kulon Progo, seperti kecamatan Temon, Wates dan Panjatan, yang diproyeksikan sebagai kawasan penyokong bandara.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo, Eko Purwanto, menyebut selama ini Kulon Progo menghasilkan komoditas cabai mencapai 27.000 ton per tahun. Sebagaian besar cabai tersebut dipasok untuk memenuhi permintaan pasar di luar daerah, seperti Jakarta dan sekitarnya.

“Adanya bandara, saat ini mungkin belum berdampak (mengurangi tingkat produksi cabai). Namun dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan pesatnya pembangunan pemukiman dan sebagainya, akan berpotensi mengurangi luasan lahan pertanian (di wilayah sisi selatan)”, katanya, Senin (22/4/2019).

Untuk mengantisipasi hal itu, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo berencana mengalihkan sebagian lahan pertanian komoditas cabai di sisi selatan, ke wilayah Kulon Progo bagian utara. Sejumlah petani di kawasan utara, seperti Pengasih, Kalibawang, Nanggulan, dan Girimulyo, didorong untuk menanam cabai.

“Caranya, dengan mengarahkan pola tanam. Kita dorong petani di wilayah utara menanam cabai dengan sistem pengairan siram. Mana saja daerah yang bisa ditanam cabai, akan terus kita dorong. Karena jika mau membuka lahan baru, tidak mungkin karena tidak ada lahannya,” ungkapnya.

Meski begitu, Eko mengakui salah satu kendala upaya ini adalah pola kebiasaan para petani di wilayah Kulon Progo bagian utara yang berada di kawasan pegunungan, yang tidak biasa menanam cabai. Sehingga upaya ini diakui harus dilakukan secara bertahap, melalui pengarahan dan pendampingan secara terus-menerus.

“Memang tidak mudah, tapi jika terus diberikan pengarahan, mulai dari potensi keuntungannya, cara pengolahan tanah, penanaman yang baik dan benar, pelan-pelan kita yakin akan bisa,” jelasnya.

Lihat juga...