hut

Efesiensi Biaya Operasional Petambak Udang Vaname Lamtim Buat Pakan Swadaya

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Harga pakan udang putih atau vaname di wilayah pesisir Lampung Timur (Lamtim) dan Lampung Selatan (Lamsel) naik. Hal tersebut membuat petambak di daerah tersebut harus memutar otak untuk meminimalisir biaya operasional. Harga pakan disebut-sebut dirasakan naik oleh petambak sejak dua bulan terakhir.

Ahmad, penanggung jawab tambak intensif di Desa Karya Makmur, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lamtim menyebut, pakan jenis Irawan saat ini harganya Rp16.000 perkilogram. Japfa Comfeed seharga Rp14.000 perkilogram, Gold Coin seharga Rp17.000.

Pakan tersebut biasa dibeli dalam ukuran karung berisi 20 kilogram pakan. Dari harga tersebut, kenaian terjadi dikisaran Rp500 hingga Rp1.000 perkilogram. Kenaikan tersebut sangat mempengaruhi biaya operasional. Satu fase budidaya udang vaname selama 90 hari, membutuhkan pakan lebih dari satu ton.

Jika harga pakan naik Rp500 perkilogram, maka petambak harus mengeluarkan biaya biaya ekstra sebesar Rp500 ribu. “Kami tetap mempergunakan pakan pabrikan, namun porsinya mulai dikurangi. Mulai membuat formula pakan buatan secara swadaya, dengan nutrisi yang bisa menambah berat udang hingga masa panen,” terang Ahmad saat ditemui Cendana News sedang menyiapkan pakan udang vaname, Sabtu (13/4/2019).

Udang putih atau vaname yang sudah dipanen setelah usia tiga bulan – Foto Henk Widi

Pembuatan pakan udang swadaya bisa untuk mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan. Pakan buatan sendiri bisa menekan biaya pengeluaran. Bahan pakan buatan adalah, tepung udang, teri, tepung ikan, aci, enzim atau vitamin perangsang pertumbuhan. Semua bahan tersebut diukur sesuai kebutuhan udang berdasarkan usia mulai dari usia benur atau post larva (PL) usia 10 hari hingga usia 80 hari.

“Bahan baku yang digunakan hampir sama namun proses pembuatan pakan harus disesuaikan dengan usia udang agar mudah dicerna,” beber Ahmad.

Jika persatu ton pakan dengan harga Rp14.000 perkilogram, maka biaya yang dikeluarkan Rp14 juta. Sementara dengan proses pembuatan sendiri,petambak bisa menghemat sekira Rp6 juta. Selain pakan, sistem budi daya udang intensif harus mempergunakan kincir air tenaga listrik, yang menjadikan pengeluaran operasional cukup tinggi.

Saat ini harga  udang vaname dikisaran Rp55.000 untuk size 100. Sebelumnya diukuran tersebut, harganya sempat menyentuh Rp65.000. Udang size 40, yang semula seharga Rp80.000, juga anjlok menjadi sekira Rp60.000. Harga terus mengalami perubahan, menyesuaikan permintaan dan kondisi hasil panen petambak. “Petambak harus bisa menekan biaya operasional pakan, listrik karena jika harga jual anjlok kerugian tidak terlalu besar,” beber Ahmad.

Pada awal April Ahmad membudidayakan 1.600 benur di delapam petak tambak. Pengalaman sebelumnya, dengan delapan petak  tambak bisa memanen 10 hingga 13 ton udang vaname.

Petambak lain, Muslikin, menyebut, membuat pakan swadaya menjadi solusi untuk mengurangi biaya operasional. Selama ini, pembudidaya udang vaname sangat tergantung dengan pakan pabrikan. “Petambak tetap menggunakan pakan pabrikan biasanya pada fase awal setelah benur ditebar, dua bulan berikutnya baru diberi pakan buatan sendiri agar hemat,” beber Muslikin.

Selain harga pakan yang tinggi, petambak juga kerap dihadapkan kemunculan virus myo dan bintik putih (white spot syndrom). Virus yang bisa berakibat kematian tersebut, tentu saja merugikan petambak.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!