Empat Kawasan di NTB Jadi Pusat Budidaya Mutiara

Editor: Satmoko Budi Santoso

MATARAM – Dinilai potensial, empat kawasan di Provinsi Nusa Tenggara Barat siap menjadi pusat pengembangan budidaya mutiara. Keempat kawasan tersebut antara lain, Medang, Kaung, Bungin Pulau Sumbawa dan kawasan Sekotong Pulau Lombok.

“Keempat kawasan tersebut dipilih, karena memiliki potensi menjanjikan untuk pengembangan budidaya mutiara,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB, Lalu Hamdi di Mataram, Selasa (23/4/2019).

Budidaya mutiara sendiri dilakukan melalui pola rekayasa dan membagi menjadi tiga klaster. Tiga klaster tersebut antara lain, pembibitan mutiara yang dilakukan melalui balai pembenihan di Sekotong. Pembibitan juga bisa dilakukan investor.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB, Lalu Hamdi – Foto: Turmuzi

Ia mengatakan, pemerintah juga turut memperkuat budidaya mutiara dari sisi hilir, mengingat kegiatan pembibitan tidak sembarangan bisa dilakukan.

“Selain membutuhkan modal besar, juga tenaga ahli dan teknologi yang memadai. Pemerintah ikut memperkuat hilir karena ini sulit. Membutuhkan sarana prasarana. Baru kemudian keahlian dan modal,” katanya.

Sementara klaster kedua, adalah kelompok masyarakat pembudidaya yang melakukan pembesaran. Seperti mutiara yang telah dikembangkan di klaster satu, selanjutnya dibesarkan hingga menjadi sepat-sepat berukuran 7 sampai 10 cm.

Hamdi mengatakan, dalam proses ini, perawatan dilakukan terus menerus. Pada waktu-waktu tertentu, mutiara akan diangkat ke permukaan untuk dibersihkan. Jika mendapatkan sepat, bagi masyarakat pembudidaya yang telah berkembang akan dikomersialkan.

“Sementara, kelompok masyarakat yang memanfaatkan kawasan perairan sekitarnya untuk budidaya mutiara, pemerintah memberikan secara cuma-cuma,” jelasnya.

Nantinya, pada klaster ketiga, setelah sepat-sepat mutiara sampai berukuran 7-10 cm di kelompok-kelompok masyarakat pembudidaya, barulah dijual kepada perusahaan-perusahaan pembudidaya untuk dikembangkan sebagai sepat-sepat penghasil mutiara.

Dengan pola berantai ini, pemerintah ingin mempercepat proses pengembangan budidaya mutiara. Melalui rekayasa klaster tersebut diharapkan akan lebih banyak masyarakat yang terlibat, terutama di klaster dua, yang murni melibatkan masyarakat pembudidaya.

“Dengan demikian, masyarakat akan mendapatkan lapangan pekerjaan dengan sendirinya,” tutupnya.

Lihat juga...