Foto Caleg Partai Berkarya di DCT Dapil 3 Sikka, Tertukar

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Formulir Daftar Calon Tetap (DCT) untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Sikka 3 mengalami kesalahan. Foto calon legislatif (Caleg) Partai Berkarya nomor urut 1 Hilarius Heling tertukar dengan Caleg nomor 2, Alexander Aryun.

“Kesalahan ini baru kami ketahui tadi sore. Kami sudah sampaikan ke Partai Berkarya dan juga ke PPK untuk disampaikan ke KPPS agar nanti disampaikan sebelum pencoblosan,” sebut ketua KPU kabupaten Sikka,Fery Soge, Selasa (16/4/2019) malam.

Dalam konferensi pers di kantor KPU Sikka, Fery menjelaskan, kesalahan ini hanya terjadi di formulir DCT. Jadi bukan terjadi di surat suara karena surat suara tidak terdapat foto caleg. Untuk Dapil Sikka 3 terdapat 240 TPS yang tersebar di 6 kecamatan.

“Formulir DCT ini yang nantinya akan ditempelkan di papan pengumuman di TPS. Biasanya pemilih melihat dahulu foto dan nama calegnya sebelum melakukan pencoblosan. Hal senada juga terjadi pada caleg provinsi NTT Dapil 6 dan Dapil 7,” jelasnya.

Pihak KPU Kabupaten Sikka, tandas Fery, perlu menyampaikan permasalahan ini agar tidak terjadi gejolak di tingkat bawah. PPK di Kecamatan Doreng, Bola, Mapitara, Waigete, Talibura dan Waiblama sudah disampaikan sehinggga telah diteruskan ke PPS dan KPPS.

Sementara itu juru bicara KPU Sikka Herimanto menambahkan, terkait banyaknya pemilih yang sudah terdaftar di DPT tetapi belum mendapatkan formulir C6 atau surat panggilan bisa datang ke TPS dan melaporkan ke KPPS.

“Kalau belum mendapat formulir C6 maka pemilih bisa langsung datang ke TPS dengan membawa KTP Elektronik atau Surat Keterangan (Suket). Nanti dilaporkan ke petugas KPPS agar bisa melakukan pencoblosan,” ungkapnya.

Terkait banyaknya pemilik yang masuk Daftar Pemilih Khusus (DPK) yang menggunakan KTP Elektronik maupun Suket, anggota KPU Sikka Esly Puspasari Kusuma Putri menyebutkan, di setiap TPS ada surat suara cadangan sebanyak 2 persen atau rata-rata 6 lembar.

“Bila banyak pemilih yang sudah masuk DPT tidak menggunakan hak pilihnya dan surat suara sisa masih banyak maka bisa digunakan untuk pemilih yang menggunakan KTP Elektronik atau Suket,” jelasnya.

Selain itu, pemilih yang menggunakan KTP Elektronik dan Suket tambah Elsy, hanya bisa melakukan pencoblosan di TPS yang berada di desa atau kelurahan sesuai dengan alamat yang tertera di dalam KTP Elektronik atau Suket.

Untuk pemilih dengan gangguan jiwa beber Elsy, petugas yang melakukan pendataan telah menanyakan kepada pihak keluarga yang bersangkutan. Hampir semua keluarga tidak bisa menyerahkan surat keterangan dari dokter yang menerangkan bahwa orang tersebut memiliki gangguan kejiwaan.

“Rata-rata anggota keluarga juga tidak mau anggota keluarganya yang memiliki gangguan jiwa ikut memilih. Mereka takut kalau orang dengan gangguan jiwa tersebut akan membuat kegaduhan di TPS. Panty Dhymphna pun susternya tidak mengijinkan selain tidak ada surat dari dokter,” jelasnya.

Lihat juga...